Seabad Rawon Mak Tini Banyuwangi, Resep Warisan yang Bertahan Tiga Generasi

Banyuwangi, kuliner, rawon, Seabad Rawon Mak Tini Banyuwangi, Resep Warisan yang Bertahan Tiga Generasi

Di tengah gempuran kuliner modern, Banyuwangi, Jawa Timur masih menyimpan jejak rasa yang bertahan melintasi zaman. Salah satunya adalah Warung Rawon Mak Tini, yang genap berusia 100 tahun pada tahun 2026.

Warung sederhana yang berada di Kelurahan Singonegaran, Kecamatan Banyuwangi, yang jaraknya tak jauh dari Masjid Agung Baiturrahman, bukan sekadar tempat makan.

Selain sebagai jujugan kuliner karena menawarkan rasa yang lezat dengan harga yang relatif terjangkau, sekitar Rp 25.000 untuk seporsi rawon, warung Mak Tini juga menjadi saksi hidup perjalanan kuliner di Bumi Blambangan sejak masa kolonial.

Didirikan pada 1926 oleh Mak Tini yang memiliki nama asli Kalimah, warung tersebut kini dikelola generasi ketiga, Ana (60) bersama kakaknya, Mujib. Keduanya melanjutkan usaha keluarga yang diwariskan turun-temurun.

“Warung rawon ini pertama kali dibuka tahun 1926 oleh nenek saya, Mak Tini. Sudah sekitar satu abad berjalan hingga sekarang,” kata Ana, Senin (4/5/2026).

Awalnya, warung berdiri di samping Masjid Agung Baiturrahman. Namun, seiring perubahan kondisi keluarga, lokasi usaha bergeser beberapa meter, namun tetap di tepi jalan yang sama, Jl. Jendral Sudirman.

Bangunan warung pun mengalami perubahan. Dari yang semula berdinding gedek (anyaman bambu), warung kemudian direnovasi menggunakan batu bata pada 1975.

Meski demikian, nuansa sederhana tetap dipertahankan. Saat pertama kali masuk, pengunjung akan merasakan suasana yang tenang dan nyaman serasa di rumah nenek sebelum disajikan seporsi rawon yang menggugah selera.

Menariknya, sejak awal berdiri hingga kini, meski telah berusia seabad, warung rawon Mak Tini tidak pernah mempekerjakan karyawan dari luar keluarga.

“Dari dulu tidak pernah pakai pegawai dari luar. Semua dikelola keluarga. Kadang anak saya juga ikut membantu kalau libur kuliah,” ujar Ana.

Sebab, terdapat satu hal yang tetap dijaga, yaitu resep rawon warisan Mak Tini. Ana memastikan, racikan bumbu hingga cara memasak tidak pernah diubah sejak awal berdiri.

“Resep rawon dari Mak Tini tidak pernah diubah, dari dulu sampai sekarang tetap sama walaupun sudah 100 tahun buka,” tambahnya.

Cita rasa autentik itu terasa dari kuah rawon yang hitam pekat, dengan bumbu yang meresap hingga ke serat daging. Konsistensi rasa inilah yang membuat pelanggan setia terus berdatangan, bahkan dari luar kota.

Para pelanggan dari luar kota, bahkan sebelum kembali pulang ke daerah asalnya, akan selalu datang dan membungkus rawon untuk dibawa pulang. Tak hanya masyarakat umum, sejumlah pejabat daerah pun juga menjadi pelanggan tetap.

Suasana sederhana di warung memberikan kesan hangat. Pengunjung umumnya datang bersama keluarga atau teman, menikmati rawon sambil berbincang santai.


Solas, pelanggan asal Jember, mengaku sudah mengenal warung ini sejak lama dari almarhum ayahnya.

“Ini warung rawon legend dari zaman bapak saya kecil. Kalau liburan ke Banyuwangi pasti mampir. Lebih enak datang pagi, kuahnya masih sangat pekat,” ungkapnya.

Namun, di balik usia yang telah mencapai satu abad, muncul kekhawatiran soal regenerasi. Ana mengaku belum ada anak-anaknya yang berminat melanjutkan usaha tersebut.

“Saya tidak bisa menjamin ke depan masih buka atau tidak, karena anak-anak sekarang minatnya sudah berbeda. Zaman juga sudah berubah,” katanya.

Di usia yang genap satu abad, Rawon Mak Tini bukan hanya tentang seporsi makanan. Ia adalah cerita tentang konsistensi, keluarga, dan warisan rasa yang bertahan di tengah perubahan zaman.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang