Demi Kesehatan, Thailand Pangkas Standar Manis Jadi 50 Persen dari Resep Normal
Mulai 11 Februari 2026, pemerintah Thailand menetapkan standar baru terkait kadar gula di seluruh kedai kopi di negara tersebut.
Kini, takaran gula dalam minuman manis di kafe wajib dikurangi sebanyak 50 persen dari resep semula agar dianggap sebagai level normal.
Sebagai contoh, segelas es kopi berukuran 500 mililiter yang sebelumnya mengandung sekitar 7,3 sendok teh gula, takarannya dikurangi menjadi 3,7 sendok teh untuk memenuhi standar tersebut.
Kebijakan ini juga sejalan dengan batas konsumsi gula harian yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yaitu sebanyak enam sendok teh.
Dilansir dari The Nation, Senin (23/2/2026), inisiatif ini merupakan kolaborasi Departemen Kesehatan Thailand dengan sembilan merek minuman besar, di antaranya Cafe Amazon, Inthanin, All Cafe, Black Canyon, dan Punthai.
Standar manis baru di Thailand ini ditetapkan guna menekan angka penyakit tidak menular (PTM) dan obesitas akibat gula yang meningkat di kalangan masyakarat Thailand.
Dengan menjadikan resep rendah gula sebagai standar, para pejabat Departemen Kesehatan Thailand berharap dapat membiasakan selera konsumen terhadap rasa manis yang lebih ringan tanpa membuat mereka menjauh dengan larangan total terhadap gula.
Inisiatif ini menjadi penanda fase baru dari pajak gula di Thailand. Selama ini, pajak gula menjadi sumber pendapatan signifikan bagi Departemen Bea Cukai dengan target penerimaan tahun 2026 sebesar 578,2 miliar baht Thailand.
Manfaat mengurangi gula
Lewat unggahan resmi di Facebook, Departemen Kesehatan Thailand menguraikan lima manfaat mengurangi asupan gula, seperti dikutip The Thaiger.
Ilustrasi es kopi susu gula aren
Departemen tersebut mencatat bahwa reseptor rasa manis biasanya beregenerasi setiap 14 hari.
Mereka menyatakan bahwa lumrah saja bila minuman dengan tingkat kemanisan 50 persen tidak terasa manis saat dicicipi pertama kali, sambil mendorong konsumen untuk terus mencobanya seiring dengan perubahan standar tersebut.
1. Mendukung kesehatan kulit dan memperlambat penuaan
Mengurangi konsumsi gula membantu mencegah glikasi, suatu proses yang merusak kolagen dan elastin pada kulit.
Hal ini dapat mengurangi munculnya kerutan, menunda penuaan dini, dan meminimalkan peradangan yang terkait dengan jerawat.
2. Meningkatkan stabilitas energi dan fokus mental
Kadar gula darah yang stabil membantu mencegah siklus umum lonjakan dan penurunan energi.
Hal ini mengarah pada peningkatan konsentrasi, pengurangan iritabilitas, dan energi yang berkelanjutan sepanjang hari.
3. Mengurangi lemak perut dan retensi air
Mengurangi separuh gula dalam setiap minuman dapat berkontribusi pada perut yang lebih rata, mengurangi kembung, dan bentuk tubuh yang lebih kencang, bahkan tanpa perubahan signifikan pada rutinitas olahraga.
4. Meningkatkan sensitivitas rasa alami
Mengurangi rasa manis secara bertahap melatih kembali indra perasa, sehingga lebih mudah menikmati cita rasa alami dari makanan yang kurang diproses seperti buah-buahan dan biji-bijian utuh. Seiring waktu, pilihan makanan rendah gula menjadi lebih enak.
5. Mengurangi beban pada organ metabolisme
Mengurangi konsumsi gula menurunkan beban pada hati dan pankreas, membantu menurunkan risiko kondisi seperti penyakit hati berlemak dan diabetes tipe 2.
Hal ini juga mendukung fungsi metabolisme yang lebih efisien secara keseluruhan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang