Dibalik Penangkapan Presiden Venezuela, Donald Trump Tuduh Maduro Meniru Tarian Ikoniknya
Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Sabtu pekan lalu masih menjadi sorotan dunia. Namun, di balik peristiwa besar tersebut, muncul satu hal menarik yang melibatkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Nicolas Maduro.
Pada Selasa, 5 Januari 2026, Trump menuduh Maduro menirukan gerakan tariannya saat menanggapi perayaan penangkapan tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Trump dalam pidatonya di hadapan para politisi Partai Republik di Kennedy Centre, Washington, setelah pasukan AS pada Sabtu lalu menangkap pemimpin Venezuela tersebut dalam apa yang disebut sebagai bagian dari perang melawan kartel dan gembong narkoba. Dalam operasi yang diberi nama Operation Absolute Resolve, pasukan Amerika memasuki Venezuela, membombardir Caracas, dan menangkap Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, dari istana kepresidenan.
“Dia naik ke atas panggung dan mencoba sedikit menirukan tarian saya. Tapi dia orang yang kejam, dan dia sudah membunuh jutaan orang. Dia melakukan penyiksaan. Mereka punya ruang penyiksaan di tengah kota Caracas yang sekarang sedang mereka tutup-tutupi,” kata Trump dikutip dari laman wionews, Kamis 8 Januari 2026.
Seperti diketahui, Trump memang dikenal sering berjoget dengan lagu “Y.M.C.A.” dalam berbagai kampanye politiknya. Sementara itu, Maduro kerap terlihat menari mengikuti musik techno dengan slogan andalannya, “No War, Yes Peace”, yang sering ia gunakan sebagai respons atas ancaman dari presiden AS.
“Istri saya benar-benar tidak suka saat saya melakukan ini. Dia bilang, ‘itu sama sekali tidak mencerminkan seorang presiden. Dia benci kalau saya menari, coba bayangkan FDR menari,” kata dia.
Sementara itu, dalam pidatonya itu Trump juga memuji operasi pasukan khusus AS yang ia sebut brilian, di mana Maduro dan istrinya berhasil ditangkap dan Caracas dibombardir.
Trump turut menyinggung peringatan lima tahun penyerbuan Gedung Capitol AS oleh para pendukungnya, yang terjadi setelah apa yang ia sebut sebagai pemilu curang yang membuatnya kalah dari Joe Biden pada 2020. Akibat kerusuhan itu, Trump dimakzulkan untuk kedua kalinya. Ia menambahkan, jika mereka tidak memenangkan pemilu paruh waktu tahun ini, hal serupa bisa saja kembali terjadi.
“Kita harus menang di pemilu paruh waktu, karena kalau kita tidak menang… maksud saya, mereka pasti akan mencari-cari alasan untuk memakzulkan saya. Saya berharap kalian bisa menjelaskan kepada saya, sebenarnya apa yang sedang terjadi di benak masyarakat. Karena menurut saya, kebijakan yang kami jalankan sudah benar,” kata Trump sambil merujuk pada lawan-lawan politiknya dari Partai Demokrat.