Trump dan Iran Sama-Sama Melunak, Kesepakatan Damai Mulai Terbentuk

Ilustrasi perang AS-Iran.
Ilustrasi perang AS-Iran.

 Setelah tiga bulan tegang yang mengguncang Timur Tengah dan ekonomi global, konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) mulai menunjukkan titik terang. Di balik ancaman perang terbuka dan melambungnya harga minyak, kedua negara kini perlahan membuka ruang kompromi.

Negosiasi rahasia terungkap di Doha, Qatar, sejumlah pejabat tinggi Iran termasuk Menteri Luar Negeri dan negosiator utamanya telah menggelar pembicaraan penting dengan Perdana Menteri Qatar. Fokus utama pertemuan tersebut adalah menjajaki kesepakatan damai dengan Washington, dengan pembukaan kembali Selat Hormuz dan pembahasan stok uranium Iran berpengayaan tinggi sebagai agenda utama.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selat Hormuz menjadi elemen krusial dalam negosiasi lantaran hampir 20 persen distribusi minyak dunia melewati jalur perairan tersebut. Sejak konflik pecah Februari lalu, gangguan pelayaran di kawasan itu langsung berdampak pada lonjakan harga energi global.

Sinyal pelunakan juga tampak dari Washington. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa AS masih membuka pintu lebar untuk diplomasi sebelum mengambil langkah militer baru terhadap Tehran.

"Ada proposal yang cukup solid terkait pembukaan kembali selat, negosiasi nyata soal nuklir, dan kami berharap ini bisa berhasil," ujar Menlu AS, Rubio seperti dikutip Reuters.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio

Presiden AS Donald Trump pun mulai melunak. Melalui unggahan panjang di Truth Social, Trump mengaku pembicaraan dengan Iran berjalan cukup baik, meski tetap menyematkan peringatan keras jika negosiasi mengalami kebuntuan.

"Kesepakatan ini hanya akan menjadi kesepakatan besar bagi semua pihak, atau tidak ada kesepakatan sama sekali," tulis Trump. 

Di sisi lain, Tehran memandang proses menuju damai ini belum sepenuhnya aman. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengakui sejumlah isu telah menemukan titik temu, namun menampik jika kesepakatan final sudah di depan mata.

"Kami telah mencapai kesimpulan pada banyak topik, tetapi itu bukan berarti kami sudah dekat dengan penandatanganan perjanjian," kata Baghaei.

Saat ini, nota kesepahaman yang sedang dirumuskan memuat 14 poin utama. Prioritas awal adalah penghentian perang dan pengakhiran blokade laut AS di Selat Hormuz. Sebagai imbalannya, Iran diminta memberikan jaminan keamanan bagi jalur pelayaran internasional di perairan tersebut.

Pembahasan program nuklir sengaja tidak menjadi fokus di tahap awal. Iran bersikeras bahwa isu tersebut baru akan dibahas dalam masa negosiasi lanjutan selama 60 hari, apabila kerangka dasar kesepakatan berhasil disepakati.

Meski suhu diplomasi mulai menghangat, bayang-bayang konflik militer belum sepenuhnya sirna. Iran baru saja mengklaim berhasil menembak jatuh drone siluman "musuh" menggunakan sistem pertahanan udara terbaru mereka, tanpa merinci asal drone tersebut. 

Namun, pasar global lebih dulu merespons positif. Harga minyak dunia terkoreksi lebih dari 4 persen seiring membaiknya sentimen investor terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan antara Washington dan Tehran. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jalan menuju perdamaian masih menghadapi tantangan berat. Iran terus menuntut pencabutan sanksi ekonomi dan pencairan dana minyak mereka yang dibekukan di luar negeri. Sementara itu, AS terus menekan Tehran agar menghentikan ambisi nuklirnya.

Tekanan juga mengalir dari dalam negeri AS. Lonjakan harga energi akibat konflik dikabarkan mengganggu popularitas Trump, sementara Kongres AS mulai mendorong pembatasan kewenangan perang presiden.