Diincar Donald Trump Hingga Buat Denmark Geram, Siapa Pemilik Sebenarnya Greenland?

Nuuk, ibu kota Greenland
Nuuk, ibu kota Greenland

 Awal pekan ini presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali membuat pernyataan yang memicu kontroversi. Dalam pernytaannya di hadapan awak media Senin pekan ini dia menyebut ingin mengambil alih Greenland.

Bahkan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio juga telah diutus oleh Donald Trump ke Denmark pekan depan untuk berunding mengenai Greenland. Trump sendiri menyebut bahwa Amerika Serikat membutuhkan Greenladn demi kepentingan keamanan nasional di tengah meningkatnya aktivitas Rusia dan China di kawasan Artik.

"Kami membutuhkan Greenland untuk perlindungan nasional," kata Trump dilansir Anadolu.

Menyusul dengan isu geopolitik ini, banyak publik yang banyak mempertanyakan tentang kawasan Greenland termasuk kepemilikan wilayah tersebut. Mengingat respon Denmark yang begitu keras terhadap keinginan Trump.

Lantas milik siapa Greenland? Mari kita telaah satu persatu mengenai Greeenland seperti dilansir dari laman Historyextra, Kamis 8 Januari 2026.

Tertutup hamparan es tebal dan tundra yang keras, Greenland merupakan pulau terbesar di dunia. Terletak di perairan dingin Samudra Atlantik Utara dan membentang melintasi Lingkar Arktik, wilayah yang berpenduduk sangat jarang ini selama bertahun-tahun kerap dianggap berada di pinggiran geopolitik dan sejarah.

Siapa pemilik Greenland?

Greenland berada di bawah kedaulatan Denmark, tetapi berstatus sebagai wilayah otonom dengan pemerintahan sendiri. Pulau ini secara resmi menjadi bagian dari Kerajaan Denmark pada tahun 1953. Sejak itu, Greenland semakin mandiri dengan mengesahkan berbagai undang-undang yang memperluas tanggung jawabnya dalam mengatur urusan pemerintahan internal.

Sejarah panjang “kepemilikan” Greenland

Selama ribuan tahun prasejarah, kelompok Paleo-Eskimo datang ke Greenland untuk memanfaatkan wilayah perburuannya yang luas. Namun, bertahan hidup di sana bukan perkara mudah. Mereka harus memiliki pengetahuan mendalam tentang pergerakan es dan memahami ritme musim di kawasan Arktik.

Greenland berada dalam kondisi seperti ini menjadi tempat singgah dan hunian bagi populasi kecil selama setidaknya 4.500 tahun, hingga kedatangan Erik the Red sekitar tahun 982–985 Masehi.

Kedatangan Erik The Red

Bentuk “kepemilikan” Greenland yang lebih formal pertama kali dapat ditelusuri dari kedatangan Erik pada akhir abad ke-10. Diusir dari Islandia karena melakukan pembunuhan, Erik berlayar ke barat dan menemukan Greenland. Ia memberi nama yang terdengar menarik, dengan tujuan memikat para pendatang agar mau menetap di sana.

Strategi itu berhasil. Permukiman kecil mulai tumbuh di sepanjang pesisir barat daya pulau tersebut. Selama berabad-abad, para pemukim bertahan hidup lewat pertanian dan perdagangan dengan Eropa, meski harus berjuang menghadapi hawa dingin yang kian ekstrem pada masa Zaman Es Kecil.

Komunitas Viking di Greenland begitu terkenal hingga kisah mereka diabadikan dalam Saga of the Greenlanders. Kisah ini menceritakan bagaimana putra Erik, Leif Erikson, berlayar ke barat dari Greenland dan mencapai Vinland yang kini diketahui sebagai Newfoundland.

Saga tersebut juga menuturkan kisah dramatis Freydís Eiríksdóttir, putri Erik, yang dikenal karena keberanian sekaligus kekejamannya, sehingga namanya melekat kuat dalam legenda Viking.

Namun, meski bangsa Nordik memandang Greenland sebagai pos terdepan mereka yang jauh, pulau itu pada akhirnya bukan milik mereka untuk selamanya. Memasuki abad ke-15, seiring meredupnya Zaman Viking, permukiman Nordik di Greenland pun menghilang, terkikis oleh kombinasi perubahan iklim, keterasingan, dan pergeseran jalur perdagangan.

Klaim Denmark atas Greenland

Greenland mungkin akan lenyap dari peta Eropa jika bukan karena Hans Egede, seorang misionaris Denmark-Norwegia dengan visi besar. Pada tahun 1711, Egede mulai meyakinkan kerajaan untuk mendukung perjalanannya ke Greenland. Tujuannya, setidaknya di atas kertas, adalah menyebarkan agama Kristen kepada sisa-sisa pemukim Nordik yang ia yakini masih tinggal di sana dan berpotensi kembali pada kepercayaan pagan.

Saat tiba di Greenland pada 1721 bersama beberapa kapal kecil, Egede justru menemukan komunitas Inuit yang hidup dalam dunia yang sangat berbeda dari bayangannya. Meski demikian, ia menetap di sana dan, karena tidak menemukan pemukim Nordik seperti yang diharapkan, mulai membangun hubungan dengan masyarakat Inuit Greenland, yang dikenal sebagai Kalaallit.

Misi inilah yang menandai awal klaim modern Denmark atas Greenland. Selama masa tinggalnya, Egede juga mendirikan ibu kota pulau tersebut, Godthåb, yang kini dikenal sebagai Nuuk.

Setelah ekspedisi Egede, Greenland kemudian menjadi lokasi koloni Denmark dan dimasukkan ke dalam negara Denmark sebagai bagian dari ambisi ekspansi. Sebagai kekuatan Eropa yang relatif kecil dan pengaruhnya mulai memudar, Denmark berupaya memperkuat posisinya. Greenland, meski keras dan tidak ramah, menjadi salah satu sarana untuk mencapai tujuan tersebut.

Selama berabad-abad, kendali Denmark atas Greenland lebih bersifat simbolis daripada praktis. Lanskapnya yang sulit dihuni membuat pulau ini tampak tidak terlalu relevan dalam urusan global, sekadar wilayah terpencil di pinggiran dunia yang minim perhatian dari imperium-imperium besar Eropa.

Namun, pandangan ini berubah drastis pada abad ke-20, ketika Greenland tiba-tiba berada di pusat perhatian dunia dan memainkan peran penting dalam dinamika global.

Apakah Greenland sebuah negara?

Secara resmi, Greenland bukanlah sebuah negara, melainkan wilayah dalam Kerajaan Denmark yang terus bergerak menuju kemandirian yang lebih besar.

Saat ini, Greenland mengelola sendiri sebagian besar urusan domestik, termasuk pendidikan, kesehatan, dan sumber daya alam. Sementara itu, Denmark masih memegang kendali atas pertahanan dan kebijakan luar negeri.