Trump Sebut Gencatan Senjata dengan Iran Tinggal '1 Persen', Teheran Beri Balasan Menohok!

Presiden AS Donald Trump
Presiden AS Donald Trump

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyebut gencatan senjata dengan Iran saat ini berada dalam kondisi ‘kritis’. Dia juga mengaku saat ini tengah mempertimbangkan untuk kembali mengerahkan pengawalan militer Angkatan Laut AS bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Tujuannya kata dia untuk mengakhiri blokade Iran di Selat Hormuz tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden AS itu menyebut proposal perdamaian terbaru dari Iran sebagai seuatu yang bodoh. Dia juga menegaskan bahwa dirinya tak berada di bawah tekanan politik dalam negeri untuk segera mencapai kesepakatan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Saya akan menyebut situasinya sekarang sangat lemah, setelah membaca sampah yang mereka kirimkan kepada kami bahkan saya tidak menyelesaikan membacanya. Saya akan bilang gencatan senjata itu sekarang berada di alat bantu hidup tingkat kritis, seperti dokter yang masuk dan berkata ‘Tuan, orang yang Anda cintai hanya punya peluang hidup sekitar 1 persen.’,” kata dia dikutip dari laman The Guardian, Selasa 12 Mei 2026.

Pekan lalu, AS mengirim serangkaian syarat kepada Iran untuk meredakan konflik, sebagian besar terkait upaya mencegah Teheran memperluas program nuklirnya. Namun pada akhir pekan, Iran mengirim proposal balasan yang langsung ditolak Trump.

Trump juga menghentikan Project Freedom, setelah berjalan kurang dari dua hari pekan lalu. Disebutnya, penghentian itu sebagai cara untuk memberi waktu Iran merespons proposal damai AS.

Rencana pengawalan militer tersebut juga mendapat penolakan dari Arab Saudi. Riyadh disebut tidak ingin wilayah udara maupun pangkalannya digunakan untuk mendukung langkah yang dianggap dapat memperkeruh situasi.

Komentar terbaru Trump muncul setelah harga minyak kembali melonjak usai Iran menegaskan tidak akan ada pembicaraan lanjutan soal penghentian blokade Selat Hormuz kecuali AS menerima syarat-syarat yang diajukan Teheran.

Menyusul dengan pernyataan Trump itu, mantan panglima tertinggi IRGC, Mayor Jenderal Mohammad Ali Jafar menyebut selama perang di semua front belum berakhir, sanksi belum dicabut, dana yang diblokir belum dibebaskan, kerusakan perang belum diganti, dan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz belum diakui, maka tidak akan ada negosiasi lebih lanjut.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baqaei menyebut proposal negaranya yang dikirim ke AS masuk akal, bertanggung jawab, dan murah hati. Ia menilai peluang kesepakatan masih terbuka dan tidak ada tuntutan Iran yang tidak wajar.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Anggota komisi industri parlemen Iran, Mostafa Taheri, mengklaim penerapan biaya transit baru di Selat Hormuz dapat menghasilkan pendapatan hingga 15 miliar dolar AS atau setara Rp 262,5 triliun per tahun, atau sekitar sepertiga dari pendapatan minyak Iran saat ini. Dana itu dinilai cukup membantu menstabilkan cadangan devisa negara.

Sebagai informasi, harga minyak dunia naik hingga menembus 105 dolar AS atau setara Rp 1,8 juta per barel di tengah kebuntuan yang terus berlangsung. Situasi ini kembali memunculkan opsi militer yang dinilai sulit mengubah sikap Iran.