Tak Lagi Sejalan, Apa yang Sebenarnya Terjadi antara Netanyahu dan Trump?
Hubungan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu disebut mengalami kerenggangan. Hal ini terkait dengan serangan terbaru Israel ke Lebanon dan Iran.
Serangan itu disebut menunjukkan dengan jelas bahwa Trump dan Netanyahu, yang sebelumnya memulai perang dengan langkah yang sejalan, kini memiliki tujuan yang berbeda.
Melansir laman AP News, Kamis 11 Juni Trump secara terbuka pernah memperingatkan Israel agar tidak menyerang Beirut dalam perang melawan kelompok militan Hezbollah yang didukung Iran. Namun pada hari Minggu, Israel tetap melancarkan serangan tersebut.
Sebagai balasan, Iran menembakkan rudal balistik ke Israel untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata pada April lalu. Israel kemudian membalas dengan menyerang Iran, padahal Trump sedang menjalani negosiasi intensif dengan Teheran selama beberapa pekan terakhir.
Meski situasi pertempuran kini mulai mereda, perbedaan pandangan antara kedua pemimpin itu tampaknya akan terus berlanjut. Trump, yang partainya akan menghadapi pemilu akhir tahun ini, ingin mengakhiri perang yang semakin tidak populer di mata publik serta membuka kembali Selat Hormuz guna menstabilkan harga energi.
Sementara itu, Iran menegaskan bahwa gencatan senjata penuh di Lebanon merupakan syarat penting bagi tercapainya kesepakatan apa pun.
Di sisi lain, Netanyahu yang juga menghadapi pemilu tahun ini berada di bawah tekanan untuk menghentikan serangan Hezbollah dan membuktikan bahwa Israel sedang memenangkan konflik melawan Iran beserta sekutunya. Ia juga harus menjaga hubungan dengan sekutu terpenting Israel itu tanpa terlihat terlalu tunduk kepada Washington.
Pertimbangan Politik Mendorong Arah yang Berlawanan
Saat Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, kedua negara tampak berdiri di garis yang sama. Netanyahu menyatakan bahwa tujuan operasi tersebut adalah untuk melemahkan kekuatan militer Republik Islam Iran, menghancurkan program nuklir dan rudal balistiknya, serta menggulingkan pemerintahannya.
Trump bahkan mengumumkan kematian pemimpin tertinggi Iran pada gelombang serangan awal dan menyerukan rakyat Iran untuk merebut kembali negaranya.
Namun tidak lama kemudian terlihat jelas bahwa Trump menginginkan kemenangan cepat, seperti yang pernah ia klaim berhasil diraih di Venezuela.
Sebaliknya, Netanyahu tampaknya ingin benar-benar melumpuhkan Iran dan seluruh sekutunya, meskipun harus melalui konflik yang berkepanjangan. Ketika Iran mampu bertahan dari serangan besar selama berminggu-minggu dan tetap menutup Selat Hormuz, masyarakat Amerika dan Israel sama-sama mulai frustrasi, tetapi dengan alasan yang berbeda.
Di Amerika Serikat, harga bahan bakar dan berbagai kebutuhan lainnya melonjak. Bahkan sebagian pendukung lama Trump mulai menuduhnya melanggar janji kampanye dan menyeret AS kembali ke konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Trump pun berusaha membantah kritik tersebut di tengah meningkatnya kemarahan publik yang dapat mengancam peluang Partai Republik dalam pemilu Kongres bulan November.
Sementara di Israel, kemarahan publik muncul karena Netanyahu dinilai gagal meraih kemenangan yang benar-benar menentukan dalam rangkaian perang yang dipicu oleh serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Setelah lebih dari dua tahun berlalu, Hamas masih menguasai sebagian wilayah Gaza, Hezbollah masih meluncurkan roket, dan pemerintahan Iran beserta program nuklirnya tetap bertahan meskipun telah mengalami kerugian besar.
Serangan Israel ke Lebanon Memperkeruh Hubungan
Titik benturan kepentingan kini terlihat jelas di Lebanon, tempat pertempuran antara Israel dan Hezbollah masih berlangsung meskipun beberapa kali diumumkan gencatan senjata. Iran menginginkan Lebanon dimasukkan dalam kesepakatan gencatan senjata regional yang lebih luas.
Trump tampaknya menerima tuntutan tersebut demi tercapainya sebuah kesepakatan. Iran bahkan mengancam akan kembali menyerang Israel jika serangan ke Lebanon terus berlanjut. Sebaliknya, Israel bersikeras memisahkan konflik Lebanon dari negosiasi yang lebih luas dan tetap melanjutkan operasinya di negara itu.
Saat ini Israel masih menguasai wilayah yang cukup luas di Lebanon selatan dan bertekad melanjutkan kampanye militernya sampai ancaman dari Hezbollah benar-benar dihilangkan. Ketegangan ini semakin terlihat pekan lalu ketika Trump mengakui bahwa dirinya melakukan percakapan yang cukup panas dengan Netanyahu terkait Lebanon.
Ia bahkan mengaku sempat menggunakan kata-kata kasar dan menyebut pemimpin Israel itu "gila", karena kesal perang melawan Hezbollah justru mengancam jalannya negosiasi dengan Iran.
Dalam sejumlah wawancara, Trump juga secara terang-terangan menyatakan ketidaksetujuannya terhadap serangan Israel ke Beirut pada hari Minggu. Serangan itu dilakukan tanpa peringatan dan menghantam sebuah bangunan tempat tinggal, menewaskan dua orang serta melukai 20 lainnya menurut otoritas Lebanon.
Setelah Iran membalas dengan meluncurkan rudal pada hari yang sama, Trump kembali mendesak Israel untuk menahan diri.
"Saya yang menentukan semua langkah, bukan Netanyahu,” kata Trump kepada Financial Times
Namun hanya beberapa jam kemudian, Israel kembali membombardir Iran.
Pejabat Kedua Negara Berusaha Meredam Perbedaan
Menurut seorang sumber yang mengetahui pembahasan antara AS dan Israel, Trump awalnya meminta Israel menahan diri demi menjaga stabilitas pasar dan mencegah negosiasi dengan Iran gagal total.
Pihak Israel membalas dengan argumen bahwa Amerika Serikat sendiri tidak akan membiarkan serangan semacam itu berlalu tanpa respons cepat. Sumber tersebut juga mengatakan bahwa kedua belah pihak memahami bahwa jika Netanyahu tidak merespons serangan Iran, posisinya secara politik akan menjadi sangat sulit.
Netanyahu sendiri berusaha mengecilkan anggapan adanya perbedaan serius.
Setelah serangan terbaru, ia mengatakan kepada wartawan bahwa Israel memiliki hak penuh untuk membela diri, dan pihaknya akan menjalankan hak itu sesuai kebutuhan.
Ia menambahkan bahwa pesan yang sama juga ia sampaikan dalam percakapannya yang baik dan penuh rasa hormat dengan sahabatnya, Presiden Trump.
Belum Jelas Apakah Perselisihan Ini Akan Berdampak Jangka Panjang
Ini bukan pertama kalinya Trump dan Netanyahu berbeda pendapat secara terbuka terkait operasi militer. Pada Maret lalu, kurang dari tiga minggu setelah konflik dimulai, Trump dikabarkan marah karena Netanyahu memutuskan menyerang fasilitas gas penting milik Iran. Serangan itu memicu balasan Iran terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk.
"Saya sudah bilang kepadanya, jangan lakukan itu. Hubungan kami sangat baik. Semuanya terkoordinasi, tetapi kadang-kadang dia tetap melakukan sesuatu,” kata Trump saat itu.
Meski Trump secara terbuka menunjukkan ketidaksetujuannya, dua sumber yang mengetahui masalah tersebut menyebut bahwa pemerintah AS sebenarnya telah diberi tahu mengenai rencana serangan Israel sebelum operasi dilakukan.
Sampai saat ini belum jelas apakah perselisihan terbaru tersebut akan menimbulkan kerusakan jangka panjang dalam hubungan kedua negara.