Namanya Sempat Disebut, Donald Trump Minta Untuk 'Move On' dari Epstein File
Presiden Donald Trump meminta publik Amerika Serikat untuk berhenti memperdebatkan berkas-berkas terkait Jeffrey Epstein. Pernyataan itu disampaikan setelah Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) merilis sekitar tiga juta dokumen tambahan pekan lalu.
“Saya pikir sudah saatnya negara ini beralih ke hal lain. Terlebih karena tidak ada apa pun yang muncul tentang saya, selain klaim bahwa ini adalah konspirasi terhadap saya, yang secara harfiah dilakukan oleh Epstein dan orang-orang lain," kata Trump kepada wartawan dikutip dari laman USA Today, Kamis 5 Februari 2026.
Dalam dokumen yang dirilis DOJ pada 30 Januari, nama Trump, resor miliknya Mar-a-Lago di Florida, serta berbagai referensi lain yang berkaitan dengannya disebutkan sebanyak 38.000 kali dalam sekitar 5.300 berkas. Dokumen tersebut merupakan bagian dari penyelidikan terhadap Epstein yang dituduh melakukan perdagangan seks. Namun, berdasarkan penelusuran The New York Times, sebagian berkas tersebut diketahui merupakan dokumen yang sama atau berulang.
Rilis terbaru ini juga memuat informasi baru mengenai hubungan Epstein dengan sejumlah tokoh berpengaruh. Nama-nama seperti mantan Presiden Bill Clinton, pendiri Microsoft Bill Gates, Menteri Perdagangan Howard Lutnick, CEO SpaceX Elon Musk, hingga mantan Senator Maine George Mitchell turut disebut. Meski demikian, tidak satu pun dari mereka didakwa atas kejahatan yang berkaitan dengan Epstein.
Langkah DOJ tersebut menuai kritik dari para penyintas Epstein. Pasalnya, sekitar 2,5 juta dokumen masih ditahan dan belum dipublikasikan. DOJ berdalih penahanan dilakukan demi melindungi privasi korban, mencegah penyebaran konten kekerasan seksual terhadap anak, menjaga penyelidikan federal yang masih berlangsung, serta menghormati hak istimewa hukum, termasuk komunikasi yang dilindungi antara pengacara dan klien.
Sebagai informasi, pada 2008 Epstein mengaku bersalah di Florida atas satu dakwaan memperdagangkan anak untuk prostitusi dan satu dakwaan meminta layanan prostitusi. Meski demikian, banyak relasinya tetap menjalin hubungan dengannya selama bertahun-tahun setelah vonis tersebut. Pada 2019, Epstein kembali ditangkap di New York atas dakwaan federal perdagangan seks, namun meninggal dunia akibat bunuh diri saat menunggu persidangan.
Sepanjang masa jabatan keduanya sebagai presiden, pemerintahan Trump kerap mendapat kritik, baik dari Partai Demokrat maupun Republik, terkait penanganan dokumen-dokumen Epstein. Banyak berkas yang dirilis ke publik dalam kondisi disunting, dengan sebagian besar isinya dihitamkan.
Trump sendiri diketahui pernah berhubungan dengan Epstein sejak 1990-an, saat keduanya sama-sama dikenal di kalangan elite keuangan. Trump mengklaim telah memutus hubungan dengan Epstein sejak puluhan tahun lalu. Namun, keterkaitan tersebut terus membayangi dirinya, termasuk ketika ia sempat mengubah sikap terkait rencana membuka sepenuhnya berkas-berkas Epstein.
Meski kasus Epstein secara hukum dianggap telah selesai setelah kematiannya serta vonis bersalah terhadap mantan kekasihnya, Ghislaine Maxwell, pada 2021, perhatian publik tak pernah benar-benar mereda. Desakan akan transparansi dan pengawasan Kongres akhirnya mendorong DOJ merilis jutaan dokumen berdasarkan Epstein Files Transparency Act yang disahkan menjadi undang-undang pada 19 November.