Panas! Trump Akui Maki Netanyahu hingga Sebut Pemimpin Israel Itu Gila
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengaku bahwa dirinya sempat menegur Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu saat keduanya melakukan panggilan telepon pekan ini. Trump bahkan sempat menegur Netanyahu dengan nada marah lantaran dia mengaku kesal dengan serangan yang terus dilakukan Israel ke Lebanon.
Dalam wawancaranya dengan New York Post, Trump menyebut dia merasa cukup terganggu oleh serangan yang terus menerus dilakukan Israel ke Lebanon. Menurut Trump, situasi tersebut mempersulit upayanya untuk mencapai kesepakatan dengan Iran guna meredakan ketegangan di Kawasan Timur Tengah dan membuka Kembali Selat Hormuz.
Trump bahkan mengaku sempat menyebut Netanyahu dengan sebutan 'gila' saat berbincang dengan PM Israel tersebut melalui panggilan telepon awal pekan ini.
"Iya (benar menyebut Netanyahu gila). Saya agak kesal karena dia terus berperang dengan Lebanon," kata Trump dikutip dari laman presstv.ir, Kamis 4 Juni 2026
Meski demikian, Trump menegaskan bahwa dirinya dan Netanyahu selama ini telah bekerja sama dengan baik.
Laporan mengenai percakapan panas tersebut pertama kali diungkap oleh media Amerika Serikat, Axios. Menurut laporan itu, Trump meluapkan kemarahannya kepada Netanyahu terkait meningkatnya eskalasi di Lebanon. Ia bahkan disebut mengatakan kepada pemimpin Israel tersebut bahwa Netanyahu akan berada di penjara jika bukan karena Trump.
Trump juga dikabarkan berteriak kepada Netanyahu dengan menyebutnya menjadi orang yang paling dibenci di dunia ini bahkan di negaranya sendiri, Israel.
"Sekarang semua orang membencimu. Semua orang membenci Israel karena ini."
Percakapan telepon yang berlangsung dengan tensi tinggi itu terjadi setelah Teheran memperingatkan bahwa serangan baru terhadap Beirut akan memicu respons dari militer Iran dan berpotensi menggagalkan gencatan senjata yang sudah rapuh dengan Washington.
Sebelumnya, Netanyahu memerintahkan militer Israel untuk kembali melancarkan serangan ke wilayah Dahiya selatan di Beirut.
Trump juga mengonfirmasi bahwa pemerintahannya berkomunikasi dengan Hezbollah melalui perantara dalam upaya menahan eskalasi konflik dan menjaga jalur diplomasi tetap terbuka.
Namun, pertempuran masih terus berlangsung. Pasukan Israel melancarkan serangan udara di berbagai wilayah Lebanon selatan, sementara Hezbollah membalas dengan serangan roket dan drone yang menargetkan posisi militer Israel serta permukiman di wilayah pendudukan.
Di tengah situasi tersebut, Washington diketahui masih melakukan pembicaraan tidak langsung dengan Iran terkait kemungkinan tercapainya nota kesepahaman yang dapat membuka jalan bagi dibukanya kembali Selat Hormuz serta penyelesaian berbagai sengketa di kawasan.
Dalam wawancara yang sama, Trump mengklaim proses negosiasi sedang berkembang dengan cepat dan menyatakan optimistis kesepakatan dapat dicapai dalam waktu dekat.
Trump juga mengatakan bahwa ia meyakini Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, memainkan peran penting dalam pengambilan keputusan terkait negosiasi tersebut. Ia bahkan menyatakan keinginannya untuk bertemu langsung dengan Khamenei jika situasinya memungkinkan.
"Saya ingin bertemu dengannya. Mungkin kami akan bertemu pada suatu saat nanti, tergantung bagaimana semuanya berkembang," kata Trump.
Sementara itu, Teheran menegaskan bahwa gencatan senjata di Lebanon tidak dapat dipisahkan dari kesepakatan akhir apa pun yang bertujuan mengakhiri perang yang menurut Iran dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap negara tersebut sejak akhir Februari.