Donald Trump Klaim Damai dengan Iran Segera Tercapai, IHSG Langsung Melonjak Ikuti Euforia Bursa Global

Anomali IHSG dengan Bursa Asia-Pasifik dan Global, Sinyal Perdamaian AS-Iran Jadi Katalis Utama Pasar, Harga Minyak Anjlok Setelah Trump Batalkan Serangan, Bursa Global Kompak Menghijau, Investor Diminta Tetap Waspada, Arus Dana Asing Masih Keluar dari Indonesia
Anomali IHSG dengan Bursa Asia-Pasifik dan Global

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengawali perdagangan Jumat, 12 Juni 2026, dengan penguatan signifikan seiring meningkatnya optimisme pasar global terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Sentimen positif tersebut muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa pembahasan dan poin-poin final kesepakatan damai dengan Iran telah disetujui oleh seluruh pihak terkait. Trump bahkan menyebut penandatanganan kesepakatan dapat dilakukan dalam waktu dekat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kabar tersebut langsung disambut positif oleh pelaku pasar keuangan dunia, termasuk di Indonesia. Pada pembukaan perdagangan, IHSG menguat 74,38 poin atau 1,26 persen ke level 5.960,27. Sementara Indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan naik 9,97 poin atau 1,70 persen ke posisi 596,81.

Sinyal Perdamaian AS-Iran Jadi Katalis Utama Pasar

Pergerakan positif IHSG tidak lepas dari membaiknya sentimen global setelah Trump mengindikasikan bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Iran mendekati akhir.

Selain mengungkapkan bahwa kesepakatan damai hampir rampung, Trump juga menyatakan Selat Hormuz akan kembali dibuka setelah dokumen tersebut ditandatangani. Ia turut menyebut blokade angkatan laut Amerika Serikat terhadap Iran akan dicabut.

Bagi pasar keuangan global, perkembangan tersebut menjadi kabar penting mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia. Setiap ketegangan di kawasan itu selama ini selalu memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak global dan berpotensi mendorong inflasi.

Meski demikian, pasar masih mencermati perkembangan terbaru karena hingga Kamis (11/6), Amerika Serikat dan Iran dilaporkan masih saling melancarkan serangan. Artinya, kesepakatan damai yang dibicarakan belum sepenuhnya menghilangkan risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Harga Minyak Anjlok Setelah Trump Batalkan Serangan

Optimisme pasar semakin menguat setelah Trump membatalkan rencana serangan terhadap Iran. Keputusan tersebut langsung berdampak pada harga minyak dunia yang bergerak turun tajam.

Minyak mentah Brent tercatat turun 4,5 persen menjadi 88,91 dolar Amerika Serikat per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) merosot 4,2 persen ke level 86,26 dolar Amerika Serikat per barel.

Penurunan harga minyak menjadi faktor yang turut mendukung penguatan pasar saham karena berpotensi mengurangi tekanan inflasi global. Kondisi ini juga meningkatkan harapan bahwa stabilitas ekonomi dunia dapat terjaga apabila konflik benar-benar berakhir.

Bursa Global Kompak Menghijau

Sentimen perdamaian AS-Iran tidak hanya mendorong IHSG, tetapi juga mengangkat kinerja mayoritas bursa saham dunia.

Di Amerika Serikat, indeks-indeks utama Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Kamis (11/6). Indeks Dow Jones Industrial Average naik 1,86 persen, S&P 500 menguat 1,75 persen, sedangkan Nasdaq Composite melesat 3,29 persen.

Penguatan serupa juga terjadi di Eropa. Bursa saham kawasan itu bergerak positif setelah European Central Bank (ECB) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 2,25 persen.

Indeks Euro Stoxx 50 menguat 0,93 persen, FTSE 100 Inggris naik 0,48 persen, DAX Jerman bertambah 0,06 persen, sementara CAC 40 Prancis menguat 0,48 persen.

Pada perdagangan Asia Jumat pagi, mayoritas indeks saham juga bergerak di zona hijau. Indeks Nikkei Jepang melonjak 3,76 persen ke level 66.629,00. Indeks Shanghai menguat 1,10 persen ke posisi 4.030,98. Hang Seng Hong Kong naik 1,56 persen menjadi 24.626,00 dan Strait Times Singapura bertambah 0,41 persen ke level 5.008,36.

Investor Diminta Tetap Waspada

Meski pasar merespons positif perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran, pelaku pasar tetap diminta berhati-hati menghadapi berbagai potensi risiko yang masih membayangi.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengingatkan investor untuk tidak terburu-buru menambah posisi beli menjelang akhir pekan.

Menurut dia, masih terdapat sejumlah faktor yang dapat memicu volatilitas pasar, baik dari dalam maupun luar negeri.

Selain perkembangan konflik Timur Tengah yang belum sepenuhnya selesai, pasar juga masih memperhatikan arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Investor memperkirakan setidaknya masih ada satu kali kenaikan suku bunga The Federal Reserve sebelum akhir tahun.

Perhatian pasar juga tertuju pada rapat pertama Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed yang dijadwalkan berlangsung pada 17 Juni 2026.

Arus Dana Asing Masih Keluar dari Indonesia

Dari dalam negeri, sentimen positif global belum sepenuhnya mampu mengubah sikap investor asing terhadap pasar Indonesia.

Data perdagangan menunjukkan investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp61 miliar pada perdagangan sebelumnya. Dengan demikian, akumulasi net sell sepanjang tahun berjalan telah mencapai sekitar Rp78,5 triliun.

Menurut Liza, kondisi tersebut menunjukkan investor global masih bersikap hati-hati terhadap aset Indonesia di tengah berbagai ketidakpastian yang masih berlangsung.

Faktor seperti pelemahan rupiah, persepsi risiko terhadap Indonesia, hingga tren "Sell Indonesia" yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir masih menjadi perhatian utama pelaku pasar internasional.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain itu, pasar juga mencermati rencana aksi demonstrasi mahasiswa di Jakarta yang dinilai berpotensi menambah kekhawatiran investor asing terhadap stabilitas sosial dan politik dalam negeri.

Meski demikian, kabar mengenai potensi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran berhasil menjadi sentimen dominan yang mendorong penguatan IHSG pada awal perdagangan. Optimisme bahwa konflik geopolitik besar dapat segera berakhir membuat pasar global bergerak positif dan memberikan dorongan kuat bagi bursa saham Indonesia.