Trump Lagi-lagi Ancam Iran dengan Serangan Besar Jika Tak Mau Ikuti Kemauan AS

Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih
Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali memberikan pernyataan terbaru terkait dengan perang melawan Iran. Pada Rabu waktu setempat, Trump mengatakan bahwa AS dan Iran kini berada di tahap akhir pembicaraan (untuk damai).

Namun di saat yang bersamaan, Trump juga mengancam akan kembali melancarkan serangan dalam beberapa hari ke depan jika Iran tidak menerima syarat yang diajukan Washington. Ancaman serupa sudah beberapa kali ia lontarkan sejak gencatan senjata diberlakukan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Kita akan mendapatkan kesepakatan, atau kita akan melakukan sesuatu yang cukup buruk. Tapi semoga itu tidak terjadi,” kata Trump dikutip dari laman NDTV, Kamis 21 Mei 2026.

AS bersikeras Iran harus menghentikan seluruh rencana pengayaan nuklir dan membuka kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas perdagangan internasional. Namun tuntutan itu ditolak Teheran. Iran justru meminta AS lebih dulu mengakhiri blokade terhadap pelabuhan-pelabuhannya.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak berada di ambang menyerah.

“Memaksa Iran menyerah melalui tekanan hanyalah ilusi,” tulisnya di platform X.

Trump kemudian kembali menegaskan tenggat waktu yang berkali-kali ia ubah sejak konflik dimulai.

“Percayalah, jika kami tidak mendapatkan jawaban yang tepat, semuanya bisa berubah sangat cepat,” ujar Trump usai pidato di Akademi Coast Guard AS.

Sebelumnya, Iran memperingatkan akan melakukan serangan balasan yang lebih luas jika AS atau Israel kembali melancarkan serangan.

“Jika agresi terhadap Iran kembali terjadi, perang regional yang selama ini diperingatkan akan meluas ke luar kawasan,” kata Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), seperti dikutip kantor berita Tasnim.

IRGC, yang pengaruhnya dalam pengambilan keputusan Iran semakin besar sejak perang pecah pada akhir Februari, juga mengancam akan memberikan serangan menghancurkan di tempat yang tidak pernah diduga.

Saat perang dimulai oleh AS dan Israel, Iran sempat meluncurkan drone dan rudal ke beberapa negara. Selain Israel dan negara-negara Teluk Arab, sasaran serangan juga mencakup Turki dan Siprus.

Meski kekuatan militer Iran terpukul akibat serangan udara hingga tercapainya gencatan senjata pada 8 April, Teheran disebut masih memiliki kemampuan menyerang negara-negara di kawasan.

Sebelumnya, Trump mengatakan dirinya sempat menahan rencana serangan lanjutan atas permintaan sekutu-sekutu regional AS.

Pasar saham Asia ikut menguat mengikuti kenaikan Wall Street karena optimisme terhadap negosiasi meredakan kekhawatiran investor. Harga minyak mentah Brent naik tipis ke atas 105 dolar AS per barel setelah sebelumnya anjlok lebih dari 5 persen.

Meski begitu, sejumlah pelaku industri energi memperingatkan arus pasokan minyak dari Timur Tengah tidak akan sepenuhnya pulih hingga setidaknya 2027, bahkan jika konflik berakhir sekarang juga.

Axios melaporkan Trump sempat melakukan panggilan telepon tegang dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Selasa. Dalam percakapan itu, Trump disebut menjelaskan rencana AS untuk secara resmi mengakhiri perang sebelum negosiasi final selesai.

Walaupun Israel memberi sinyal ingin kembali menyerang Iran di kemudian hari, Trump mengatakan Netanyahu akan melakukan apa pun yang dia inginkan.

Trump juga membantah laporan Tasnim yang menyebut AS menawarkan pelonggaran sanksi minyak sebagai bagian dari negosiasi. Iran sendiri menolak tuntutan Trump agar menyerahkan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi dan menghentikan program pengayaan secara permanen.

Kedua negara juga masih berselisih soal status Selat Hormuz. Pada Rabu, militer AS sempat menghentikan dan kemudian melepaskan kapal tanker berbendera Iran di Teluk Oman.

Kapal bernama M/T Celestial Sea itu dicurigai mencoba melanggar blokade AS dengan berlayar menuju pelabuhan Iran, menurut Komando Pusat AS. Setelah dilakukan pemeriksaan, kapal tersebut dilepaskan dan diarahkan mengubah jalur pelayaran.

Iran mengklaim sebanyak 26 kapal termasuk tanker minyak dan kapal kontainer  berhasil melintas di Selat Hormuz dalam sehari terakhir “dengan koordinasi dan perlindungan Angkatan Laut IRGC.

Jumlah itu disebut jauh lebih tinggi dibanding beberapa pekan terakhir, meski masih di bawah volume lalu lintas sebelum perang pecah. Klaim tersebut dinilai menunjukkan keinginan Iran untuk menegaskan kontrolnya atas jalur strategis itu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam pernyataannya di X, IRGC tidak menjelaskan asal maupun tujuan kapal-kapal tersebut, serta tidak menyertakan bukti atas klaimnya.

Sebelumnya, media Iran melaporkan Korea Selatan mengikuti langkah China dengan berkoordinasi bersama IRGC agar kapal-kapal mereka dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman.