Survei: Warga AS 'Ngamuk' dan Frustasi ke Trump Usai Perang Iran Picu Krisis Ekonomi

Presiden AS Donald Trump
Presiden AS Donald Trump

Sebuah survei terbaru dari CBS News/YouGov kembali merilis persepsi publik terkait kondisi ekonomi negara tersebut di tengah perang melawan Iran. Dalam survei tersebut diketahui mayoritas warga AS menilai kondisi ekonomi mereka sedang bermasalah dan merasa frustasi bahkan marah terhadap cara presiden Donald Trump menghadapi situasi tersebut.

Seperti diketahui dampak perang AS-Iran yang berlangsung sejak 28 Februari lalu menyebabkan kenaikan Harga bahan bakar dan menggerus pendapatan masyarakat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Melansir laman presstv.ir, dalam survei yang dirilis 17 Mei lalu, menunjukkan pesimisme warga AS yang cukup besar bahkan lintas pendukung partai politik.

Dari survei diketahui hanya 27 persen responden yang menyetujui cara Trump menangani inflasi. Angka tersebut menjadi yang terendah sejak ia kembali menjabat sebagai presiden untuk periode kedua.

Tingkat kepuasan tersebut sebelumnya juga sudah turun dari 31 persen pada April. Bahkan dukungan dari pemilih Partai Republik ikut melemah, dari 74 persen pada Maret menjadi 63 persen.

Lebih dari tiga perempat responden mengatakan pendapatan mereka tidak lagi mampu mengimbangi kenaikan harga kebutuhan hidup.

Harga bensin mendekati 4 dolar per galon

Inflasi pada April tercatat mencapai level tertinggi sejak 2023. Kenaikan itu terutama dipicu lonjakan harga bensin sebesar 5,4 persen setelah sebelumnya melonjak tajam hingga 21,2 persen pada Maret.

Secara tahunan, harga bensin kini sudah naik 28,4 persen dan perlahan mendekati 4 dolar AS per galon.

Sebanyak 59 persen responden mengaku harga bensin menjadi beban finansial bagi mereka, sementara 26 persen lainnya menyebut kondisi itu sangat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Lonjakan harga energi ini disebut sebagai dampak langsung dari perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang dimulai pada 28 Februari.

Penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran turut memperparah situasi. Jalur laut strategis itu dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia sehingga gangguan pengiriman membuat biaya energi melonjak tajam.

Popularitas Trump ikut turun

Sebanyak 65 persen responden menilai kebijakan Trump justru memperburuk ekonomi dalam jangka pendek. Sementara 50 persen lainnya percaya dampak buruk itu juga akan terasa dalam jangka panjang.

Saat diminta menggambarkan perasaan mereka terhadap kebijakan ekonomi pemerintahan Trump, 38 persen menjawab frustrasi dan 32 persen mengatakan marah.

Hampir 70 persen responden juga mengaku tidak mendapatkan penjelasan yang jelas mengenai situasi di Selat Hormuz.

Trump sebelumnya sempat mengatakan bahwa dirinya tidak terlalu memikirkan kondisi finansial warga Amerika ketika membahas kemungkinan negosiasi untuk mengakhiri perang.

Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari dengan menyerang sejumlah fasilitas, termasuk lokasi nuklir, sekolah, dan rumah sakit. Dalam laporan tersebut juga disebutkan bahwa serangan itu menewaskan Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei.

Iran kemudian membalas lewat 100 gelombang serangan dalam operasi yang dinamai True Promise 4.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Gencatan senjata yang dimediasi Pakistan mulai berlaku sejak awal April, meski blokade laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran masih berlangsung.

Teheran menegaskan Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali sampai blokade dicabut dan perang benar-benar berakhir.