Trump Beri Ultimatum ke Netanyahu, Israel Terancam Berjuang Sendirian
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump memberi peringatan keras kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Disebutkan Trump bahwa Israel bisa saja harus berperang sendirian jika kembali melancarkan perang terhadap Iran.
Peringatan itu disampaikan Trump Senin kemarin saat Israel dan Iran sama-sama menyatakan akan menghentikan sementara serangan seteah eskalasi besar-besaran sejak gencatan senjata yang berlaku April lalu.
Trump, yang dilaporkan semakin frustrasi terhadap Netanyahu, mendesak kedua pihak untuk menghentikan aksi saling serang. Melalui platform Truth Social miliknya, Trump meminta kedua negara berhenti menembak dan mengatakan bahwa negosiasi akhir menuju perdamaian akan tetap berjalan selama tidak terganggu oleh kebodohan atau ketidaktahuan.
Menurut sejumlah laporan media, Trump juga menelepon Netanyahu dan memintanya menghentikan serangan.
Dalam wawancara dengan Axios, Trump mengungkapkan bahwa dirinya telah memperingatkan Netanyahu mengenai konsekuensi jika perang terus berlanjut.
"Saya berkata, 'Bibi, sebaiknya kamu berhati-hati, atau sebentar lagi kamu akan sendirian'," ujar Trump dikutip dari laman Al Jazeera, Selasa 9 Juni 2026.
Eskalasi terbaru bermula pada Minggu setelah Israel melancarkan serangan mematikan ke Beirut, ibu kota Lebanon. Iran, yang sejak lama menyatakan bahwa kesepakatan damai dengan AS bergantung pada berakhirnya pertempuran di Lebanon, merespons dengan meluncurkan rentetan rudal ke wilayah utara Israel.
Trump disebut telah menghubungi Netanyahu pada Minggu malam dan memintanya untuk tidak membalas serangan tersebut. Namun, Israel tetap melancarkan serangan ke Iran pada Senin dini hari.
Pasukan Israel menargetkan sistem pertahanan udara Iran dan sebuah fasilitas petrokimia. Iran kemudian membalas dengan menyerang fasilitas serupa di Haifa serta dua pangkalan udara Israel. Banyak rudal berhasil dicegat di atas wilayah Tepi Barat yang diduduki Israel.
Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dari kedua belah pihak.
Israel Meremehkan Ketegangan
Aksi saling serang itu semakin mempersulit upaya Trump untuk mengakhiri perang yang dimulai sejak 28 Februari. Meski gencatan senjata yang diumumkan pada 8 April berhasil menghentikan perang terbuka, ketegangan di kawasan Teluk masih terus terjadi.
Dalam pidato yang disiarkan televisi, Netanyahu mengatakan bahwa dirinya telah menyampaikan kepada Trump bahwa Israel memiliki hak penuh untuk membela diri.
"Saat ini situasi di garis depan sudah terkendali karena setelah kami menghantam rezim teroris di Teheran, mereka menghentikan serangan terhadap kami," kata Netanyahu.
Ia juga memperingatkan bahwa jika Iran kembali melakukan serangan, Israel akan merespons dengan kekuatan penuh.
Sementara itu, Duta Besar Israel untuk Washington, Yechiel Leiter, berusaha meredam kabar adanya ketegangan antara Trump dan Netanyahu.
"Kadang-kadang pasangan yang saling mencintai juga bisa bertengkar," ujarnya kepada Fox News.
Menurut Leiter, Netanyahu memutuskan untuk menurunkan suhu konflik atas permintaan Trump. Namun, kata dia, Presiden AS memahami bahwa Israel tidak mungkin membiarkan rudal balistik menghantam negaranya tanpa memberikan respons.
Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, justru menyalahkan Amerika Serikat atas meningkatnya ketegangan.
"Amerika Serikat bertanggung jawab langsung. Mereka merupakan bagian dari negosiasi gencatan senjata. Karena itu, setiap pelanggaran terhadap gencatan senjata, baik melalui pencegatan kapal, serangan Israel ke Lebanon selatan, maupun peristiwa lainnya, akan membuat AS ikut bertanggung jawab atas eskalasi di kawasan," katanya.
Wakil Presiden Pertama Iran Mohammad Reza Aref menyebut operasi militer Iran yang diberi nama telah menunjukkan tingkat daya tangkal baru yang dimiliki negaranya.
Ia bahkan mengeklaim Israel kembali terpaksa memohon agar gencatan senjata diberlakukan.
Di balik layar, upaya diplomatik masih terus berlangsung.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menulis di platform X bahwa Teheran masih berada di meja perundingan. Sementara Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, mengatakan bahwa Washington dan Teheran, dengan bantuan Pakistan sebagai mediator, terus bertukar pandangan untuk mencapai kesepakatan.
Kepada Associated Press, Iravani mengaku optimistis kedua pihak akan segera mencapai titik temu.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif juga mengatakan bahwa upaya mencari solusi damai terus dilakukan secara serius dan penuh kehati-hatian. Ia menyerukan semua pihak untuk menahan diri, terutama ketika tujuan akhir berupa kesepakatan damai dinilai sudah semakin dekat.
Sharif menilai aksi saling serang antara Israel dan Iran menjadi pengingat betapa rapuhnya gencatan senjata dan besarnya risiko jika konflik kembali membesar.