Desakan Pemakzulan Donald Trump Menguat di Kongres AS

Presiden AS Donald Trump dalam Press Conference, Senin 6 April
Presiden AS Donald Trump dalam Press Conference, Senin 6 April

Puluhan anggota Partai Demokrat Amerika Serikat, mendesak agar Donald Trump dicopot dari jabatannya sebagai Presiden AS melalui Amandemen ke-25 atau dimakzulkan. Desakan ini muncul setelah pernyataan Trump kemarin yang mengancam akan memusnahkan seluruh peradaban Iran beberapa jam sebelum pengumuman gencatan senjata.

Hingga Selasa siang, lebih dari 70 anggota Demokrat di DPR dan Senat telah menyerukan pencopotan tersebut, termasuk mantan Ketua DPR, Nancy Pelosi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Ketidakstabilan Donald Trump kini semakin jelas dan semakin berbahaya. Jika kabinet tidak bersedia menggunakan Amandemen ke-25 untuk memulihkan kewarasan, maka Partai Republik harus segera menggelar sidang Kongres untuk mengakhiri perang ini,” kata politisi Demokrat dari California itu dalam pernyataannya dikutip dari laman CBS, Rabu 8 April 2026.

Anggota DPR dari Connecticut, John Larson, juga mengumumkan pada Selasa siang bahwa ia telah mengajukan pasal-pasal pemakzulan terhadap Trump. Namun, upaya itu hampir pasti tidak akan berhasil karena Partai Republik memegang mayoritas suara di DPR.

Di luar Kongres, beberapa tokoh konservatif yang sebelumnya dikenal sebagai pendukung setia Trump juga ikut mengecam pernyataan Trump tersebut. Mantan anggota DPR Marjorie Taylor Greene dan tokoh teori konspirasi Alex Jones termasuk di antara yang menyerukan agar Trump dicopot dari jabatannya.

Pengumuman Gencatan Senjata

Amerika Serikat dan Iran sepakat untuk melakukan gencatan senjata bersyarat selama dua minggu. Kesepakatan ini terjadi setelah adanya intervensi diplomatik mendadak yang dipimpin oleh Pakistan. Kesepakatan ini membatalkan ultimatum dari Donald Trump yang sebelumnya menuntut Iran untuk menyerah atau menghadapi kehancuran besar-besaran.

Pengumuman Trump soal gencatan senjata ini disampaikan kurang dari dua jam sebelum batas waktu yang ia tetapkan sendiri, yakni pukul 8 malam waktu AS, untuk melancarkan serangan terhadap pembangkit listrik dan jembatan di Iran. Rencana serangan tersebut sebelumnya telah diperingatkan oleh para ahli hukum internasional, sejumlah pejabat dari berbagai negara, hingga Paus, sebagai tindakan yang berpotensi masuk kategori kejahatan perang.

“Ini akan menjadi gencatan senjata dua arah! Alasannya, kami sudah mencapai bahkan melampaui semua target militer, dan kini sudah sangat dekat dengan kesepakatan final terkait perdamaian jangka panjang dengan Iran, serta perdamaian di Timur Tengah,” tulis Trump.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, tak lama kemudian mengonfirmasi bahwa Iran menyetujui gencatan senjata tersebut.

Ia menyatakan bahwa selama dua minggu, jalur aman di Selat Hormuz akan dibuka dengan koordinasi bersama angkatan bersenjata Iran.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Perubahan sikap yang mendadak ini memberi ruang bagi Trump untuk mundur dari konflik, setelah perang antara AS dan Iran berlangsung selama lima minggu tanpa tanda-tanda bahwa Teheran akan menyerah atau melepaskan kendalinya atas Selat Hormuz, jalur penting yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan energi dunia, yang saat ini lalu lintasnya hampir terhenti.

Israel juga dilaporkan akan menyetujui gencatan senjata dua minggu tersebut, menurut laporan Axios yang mengutip pejabat Israel. Gencatan senjata akan mulai berlaku begitu blokade di Selat Hormuz dihentikan.