Harga Minyak Turun Tipis Usai Trump Klaim Perang Iran Segera Berakhir
Harga minyak dunia turun tipis pada perdagangan Rabu setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan perang dengan Iran akan segera berakhir. Meski begitu, kekhawatiran terhadap gangguan pasokan global membuat harga minyak masih bertahan di level tinggi.
Melansir dari InvestingLive, Rabu, 20 Mei 2026, harga minyak mentah Brent turun 45 sen atau 0,4 persen menjadi US$110,83 per barel atau setara sekitar Rp1,96 juta per barel dengan asumsi kurs Rp17.700 per dolar AS.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 27 sen atau 0,3 persen ke level US$103,88 per barel atau sekitar Rp1,84 juta per barel.
Pasar diketahui merespons pernyataan Trump kepada anggota parlemen AS yang menyebut perang dengan Iran akan “berakhir sangat cepat”. Sebelumnya, harga minyak juga sudah turun hampir US$1 per barel pada Selasa setelah Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan pembicaraan antara Washington dan Teheran menunjukkan “kemajuan berarti” dan kedua pihak tidak ingin kembali ke konflik militer terbuka.
Namun, pelaku pasar masih berhati-hati karena Trump juga menyampaikan bahwa Amerika Serikat mungkin perlu kembali menyerang Iran. Ia bahkan mengungkapkan sempat berada satu jam dari keputusan melancarkan serangan sebelum akhirnya ditunda.
Ketidakpastian tersebut membuat investor masih fokus pada risiko gangguan pasokan minyak global, terutama dari Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20 persen distribusi minyak dunia. Jalur tersebut masih praktis tertutup akibat konflik antara AS, Israel, dan Iran.
Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) menyebut gangguan di Selat Hormuz sebagai salah satu disrupsi pasokan minyak terbesar di dunia. Kondisi itu membuat sejumlah negara mulai mengandalkan cadangan minyak strategis dan stok komersial untuk menjaga pasokan.
Di sisi lain, stok minyak mentah Amerika Serikat juga terus menurun. Data American Petroleum Institute (API) menunjukkan persediaan minyak AS turun selama lima pekan berturut-turut.
Pasar kini menunggu data resmi dari Energy Information Administration (EIA) yang diperkirakan menunjukkan penurunan tambahan sekitar 3,4 juta barel untuk pekan yang berakhir pada 15 Mei.
Analis menilai, meski kesepakatan damai tercapai, pasokan minyak global tidak akan langsung kembali normal. Gangguan distribusi diperkirakan masih akan menahan harga minyak tetap tinggi dalam jangka pendek.