Trump Tak Peduli Jika Perundingan AS-Iran Gagal: Sudah Terlalu Lama dan Membosankan

Presiden AS Donald Trump.
Presiden AS Donald Trump.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengaku tidak terlalu peduli jika perundingan damai antara AS dan Iran gagal. Hal ini menyusul dengan tindakan Iran yang mengancam menghentikan komunikasi tidak langsung sebagai respons atas serangan udara Israel ke Beirut.

“Saya benar-benar tidak peduli. Sama sekali tidak peduli. Kalau perundingannya berakhir, ya berakhir. Kalau belum, menurut saya prosesnya sudah terlalu lama. Terus terang, saya mulai merasa perundingan ini sangat membosankan,” kata Trump dalam wawancara melalui telepon dengan CNBC dikutip dari laman NY Post, Selasa 2 Juni 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Setelah melakukan wawancara via sambungan telepon, Trump kemudian terlihat membuat utasan di platform Truth Social. Dalam utasannya itu, dia menyebut baru saja melakukan percakapan dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Disebutnya dalam percakapan tersebut, Netanyahu telah menarik kembali pasukan militernya dari Beriut.

“Saya melakukan pembicaraan yang sangat produktif dengan Perdana Menteri Israel Bibi Netanyahu. Tidak akan ada pasukan yang dikirim ke Beirut, dan pasukan yang sudah bergerak ke sana telah diperintahkan untuk kembali,” tulis Trump.

Trump juga mengklaim bahwa melalui perantara tingkat tinggi, dirinya telah berkomunikasi dengan Hizbullah dan kelompok tersebut setuju menghentikan seluruh serangannya.

“Israel tidak akan menyerang mereka, dan mereka juga tidak akan menyerang Israel,” tulisnya.

Dalam unggahan berikutnya, Trump mengatakan pembicaraan dengan Republik Islam Iran masih terus berlangsung dengan cepat.

“Perundingan dengan Republik Islam Iran terus berjalan dengan sangat cepat. Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini,” tulisnya.

Kedutaan Besar Lebanon di Washington membenarkan pernyataan Trump. Menurut Kedubes AS di sana, Hizbullah telah menerima proposal Amerika Serikat yang berisi penghentian serangan secara timbal balik.

Dalam skema tersebut, serangan Israel ke wilayah pinggiran selatan Beirut akan dihentikan, sementara Hizbullah tidak akan melancarkan serangan terhadap Israel. Kerangka gencatan senjata itu nantinya akan diperluas hingga mencakup seluruh wilayah Lebanon.

Kedutaan juga menyebut pertemuan negosiasi yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa dan Rabu akan tetap digelar untuk membahas perkembangan terbaru dan melanjutkan proses tersebut.

Meski demikian, Netanyahu menegaskan bahwa sikap Israel terhadap kelompok Lebanon itu tidak berubah.

“Malam ini saya berbicara dengan Presiden Trump dan mengatakan kepadanya bahwa jika Hezbollah tidak menghentikan serangan terhadap kota-kota dan warga kami, Israel akan menyerang target-target teroris di Beirut.  Posisi kami tetap sama,” sambungnya.

Ia menambahkan bahwa Pasukan Pertahanan Israel (IDF) akan tetap melanjutkan operasi militer sesuai rencana di Lebanon selatan.

Sebelumnya pada Senin, militer Israel mengeluarkan peringatan evakuasi bagi warga yang tinggal di wilayah Dahieh, kawasan pinggiran selatan Beirut yang diyakini menjadi salah satu basis kuat Hezbollah.

“Jika Hizbullah terus menembakkan serangan ke kota-kota dan komunitas kami, IDF akan merespons dengan menyerang target-target teroris di Dahieh. Israel tidak berperang melawan rakyat Lebanon, melainkan melawan organisasi teroris Hizbullah,” kata militer Israel dalam sebuah pernyataan.

Tak lama setelah itu, media yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melaporkan bahwa Teheran akan menghentikan komunikasi dengan Washington sebagai bentuk protes atas kembali memanasnya konflik antara Israel dan Hizbullah di Lebanon.

Langkah tersebut berpotensi mengganggu upaya diplomatik yang selama beberapa pekan terakhir dilakukan untuk membuka kembali Selat Hormuz dan memulai kembali perundingan damai resmi.

Kantor berita Tasnim melaporkan bahwa tim negosiasi Iran menghentikan sementara pembahasan dan pertukaran pesan melalui perantara.

Menurut Tasnim, keputusan itu diambil karena Lebanon merupakan bagian dari syarat gencatan senjata yang sebelumnya disepakati, namun kini kesepakatan tersebut dinilai telah dilanggar.

Laporan tersebut langsung berdampak pada pasar energi. Harga minyak melonjak sekitar 5 persen setelah muncul kekhawatiran bahwa upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik mulai mengalami kebuntuan.

Tasnim juga menegaskan bahwa tidak akan ada dialog antara Teheran dan Washington sampai Israel menghentikan seluruh serangan di Lebanon dan Gaza serta menarik pasukannya dari wilayah yang didudukinya di Lebanon.

Selain itu, Iran juga mengisyaratkan kemungkinan membuka tekanan di wilayah lain yang memiliki nilai strategis bagi perdagangan global.

Media yang berafiliasi dengan IRGC menyebut bahwa Poros Perlawanan dan Iran mempertimbangkan penutupan penuh Selat Hormuz serta pengaktifan jalur tekanan lain, termasuk Selat Bab al-Mandab, sebagai bagian dari upaya untuk menghukum Israel dan para pendukungnya.

Meski demikian, dalam wawancara terpisah dengan NBC News, Trump mengatakan dirinya belum menerima pemberitahuan resmi bahwa Iran benar-benar menghentikan negosiasi tidak langsung dengan AS.

“Itu pernyataan yang wajar saja, karena mereka lebih hebat dalam bernegosiasi daripada berperang. Tapi mereka belum memberi tahu kami soal itu,” kata Trump.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Trump juga menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak berarti Amerika Serikat akan kembali melancarkan serangan militer.

“Itu tidak berarti kami akan langsung menjatuhkan bom ke mana-mana. Kami akan tetap mempertahankan blokade,” ujarnya.