Memanas! Trump Sebut Netanyahu Harus Terima Kesepakatan Apa Pun antara AS dan Iran
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dikabarkan telah memperingatkan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu agar tidak memperluas eskalasi militer di kawasan Timur Tengah.
Dia juga secara tegas mengingatkan Netanyahu bahwa dirinya tidak memiliki pilihan lain selain menerima kesepakatan apapun yang mungkin dicapai AS dengan Iran untuk mengakhiri konflik.
Dalam wawancaranya dengan The Financial Times, Trump menegaskan bahwa dirinya adalah pihak yang memegang kendali dalam kebijakan Amerika Serikat dan Israel terhadap Teheran.
"Dia tidak punya pilihan. Saya yang menentukan semuanya. Saya yang mengambil semua keputusan. Dia (Netanyahu) bukan orang yang membuat keputusan," kata dia dalam wawancara telefonnya dikutip dari laman NDTV, Selasa 9 Juni 2026.
Pernyataan Trump itu muncul tak lama setelah Iran meluncurkan serangan rudal balistik ke Israel pada Senin kemarin. Serangan ini menjadi pelanggaran paling serius terhadap gencatan senjata rapuh yang disepakati pada awal April lalu.
Sikap Trump terhadap Netanyahu
Dalam kesempatan terpisah, Trump juga mengatakan kepada Fox News dan Axios bahwa ia akan meminta Netanyahu untuk tidak melakukan serangan balasan terhadap Iran dan kembali ke meja perundingan. Sikap ini berbeda dengan pernyataan yang sebelumnya disampaikan militer Israel.
Mengutip seorang pejabat Amerika Serikat, Axios melaporkan bahwa dalam percakapan telepon tersebut Trump meminta Netanyahu untuk menahan diri karena AS sudah sangat dekat dengan sesuatu yang positif dalam hal tercapainya kesepakatan bersama Iran.
Menurut laporan itu, Netanyahu sempat menyampaikan keberatannya, tetapi pada akhirnya memberikan persetujuan dengan setengah hati untuk tidak mengambil tindakan militer lebih lanjut.
"Kami menilai presiden berhasil mendapatkan sedikit waktu tambahan. Ia sangat yakin bahwa kesepakatan dengan Iran sudah semakin dekat. Saya rasa dalam waktu dekat tidak akan ada serangan dari pihak Israel," ujar pejabat AS tersebut.
Rencana Trump terkait Iran
Dalam wawancaranya dengan Financial Times, Trump mengatakan bahwa serangan Iran terhadap Israel tidak mengubah keinginannya untuk melanjutkan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
"Serangan itu tidak akan memengaruhi kesepakatan. Kita lihat saja bagaimana akhirnya nanti. Namun serangan rudal ke Israel itu sebenarnya tidak memberikan dampak berarti. Konflik seperti ini sudah berlangsung selama 3.000 tahun, atau 47 tahun, tergantung bagaimana Anda menghitungnya," kata dia.
Meski demikian, berbeda dengan sikap optimistis yang ia tunjukkan sejak Wakil Presiden AS JD Vance memimpin putaran pertama perundingan dengan Iran pada awal April, kali ini Trump terdengar lebih berhati-hati.
"Saya pikir proses kesepakatan masih berjalan. Kita lihat saja apa yang akan terjadi,"katanya.
Trump juga menegaskan bahwa serangan Iran terhadap Israel tidak akan memengaruhi perhitungannya dalam mengambil keputusan.
"Kesepakatan itu bisa berhasil berdasarkan substansinya sendiri, atau bisa juga tidak. Namun peristiwa ini tidak akan berpengaruh terhadap proses tersebut,"ujarnya.
Trump Siap Pertimbangkan Operasi Militer
Ketika ditanya apa yang akan dilakukan jika kesepakatan dengan Iran gagal tercapai, Trump mengatakan bahwa ia akan mempertimbangkan opsi operasi militer.
"Itu bisa berarti dua hal. Pertama, mungkin kami akan masuk dan menyelesaikan bagian-bagian yang sebelumnya belum kami tangani secara militer. Atau yang kedua, kami akan tetap mempertahankan blokade terhadap Iran, karena blokade tersebut mungkin lebih efektif daripada serangan apa pun yang pernah dilakukan terhadap negara itu," kata Trump.
Komentar Trump ini muncul setelah percakapan telepon yang disebut berlangsung dengan nada sangat keras antara dirinya dan Netanyahu pekan lalu.
"Kamu sudah gila. Kalau bukan karena saya, kamu mungkin sudah berada di penjara. Sekarang semua orang membencimu. Semua orang juga membenci Israel karena hal ini," kata Trump dalam panggilan telepon itu.
Trump mengonfirmasi bahwa percakapan telepon tersebut memang terjadi dan tidak membantah penggambaran isi percakapan yang beredar di media.