Mojtaba Khamenei Resmi Jadi Pemimpin Iran, Donald Trump Langsung Kirim Ancaman Keras

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump

Putra dari mendiang pemimpin Iran, Ayatollah Ali Khamenei yakni Mojtaba Khamanei resmi terpllih menjadi pemimpin tertinggi Iran yang baru menggantikan sang ayah. Demikian seperti dilaporkan oleh media Iran, Minggu 8 Maret 2026.

Menyusul dengan terpilihnya Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru, presiden Donald Trump angkat bicara. Donald Trump menegaskan bahwa dirinnya akan berupaya memengaruhi siapapun yang menjadi pemimpin tertinggi Iran selanjutnya. Dia bahkan menyebut siapapun yang terpilih tanpa persetujuan AS maka jabatannya taka akan bertahan lama.

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pernyataan ini serupa juga pernah diungkap Trump beberapa waktu lalu kepada media ABC News.

“Dia harus mendapatkan persetujuan dari kami, Kalau dia tidak mendapat persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama,” kata Trump kepada ABC News, merujuk pada kemungkinan pemimpin tertinggi baru Iran, seperti dikutip dari laman Al Jazeerah, Senin 9 Maret 2026.

Trump juga menambahkan bahwa ia tidak ingin pemerintahan Amerika di masa depan harus kembali lagi menghadapi situasi serupa beberapa tahun ke depan. Pernyataan ini tampaknya merujuk pada kemungkinan aksi militer di masa mendatang.

“Saya tidak ingin orang-orang harus kembali lima tahun lagi dan melakukan hal yang sama lagi, atau lebih buruk lagi, membiarkan mereka memiliki senjata nuklir,” ujarnya.

Pejabat Iran, yang telah melancarkan serangan balasan di berbagai wilayah Timur Tengah, berulang kali menolak anggapan bahwa Washington dapat memengaruhi proses pemilihan pemimpin tertinggi mereka.

Sebelumnya pada hari Minggu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kembali menegaskan bahwa negaranya tidak akan membiarkan pihak luar ikut campur dalam urusan dalam negeri.

“Kami tidak akan membiarkan siapa pun mencampuri urusan domestik kami,” katanya.

Ia menambahkan bahwa rakyat Iranlah yang memilih Assembly of Experts, lembaga yang bertugas menentukan pemimpin tertinggi.

Analisis Pakar Terkait Statement Donald Trump

Berbicara kepada Al Jazeera, analis dari Stimson Center di Washington DC, Barbara Slavin, menyinggung pernyataan Trump sebelumnya di media Amerika yang mengatakan bahwa ia tidak akan menerima Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran berikutnya.

“Itu benar-benar seperti tamparan langsung bagi Donald Trump,” ujar Slavin.

Ia menambahkan bahwa penggantian Khamenei senior oleh putranya kemungkinan juga tidak akan diterima dengan baik oleh publik Amerika, yang menurut berbagai jajak pendapat sudah merasa khawatir terhadap perang tersebut.

“Ini akan semakin memperkuat anggapan di Amerika Serikat bahwa perang ini adalah sebuah kesalahan,” katanya.

Tentara AS ketujuh tewas

Pengumuman pemilihan Mojtaba Khamenei datang tidak lama setelah Pentagon mengonfirmasi bahwa seorang tentara Amerika Serikat ketujuh telah meninggal sejak perang dimulai.

Dalam sebuah pernyataan, US Central Command (CENTCOM) menyebutkan bahwa tentara yang tidak disebutkan identitasnya itu sebelumnya terluka di lokasi serangan terhadap pasukan AS di Arab Saudi pada 1 Maret, dan meninggal pada hari Sabtu.

Sementara itu, jumlah korban tewas di Iran telah mencapai 1.332 orang. Setidaknya 11 orang tewas di wilayah Teluk, dan 11 orang lainnya tewas di Israel.

Presiden AS itu telah memberikan berbagai alasan berbeda terkait perang tersebut. Ia berulang kali menyinggung ambisi nuklir Iran, program rudal balistiknya, serta berbagai tindakan Iran di kawasan sejak Revolusi Islam Iran 1979.

Para pengkritik, termasuk mayoritas anggota parlemen dari Partai Demokrat di Amerika Serikat, mengatakan bahwa Trump tidak memberikan bukti kuat bahwa Iran benar-benar menimbulkan ancaman langsung untuk negara tersebut.

Sementara itu, pada hari Minggu, Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi yang sebelumnya memfasilitasi perundingan tidak langsung antara AS dan Iran mengenai program nuklir Teheran, kembali menolak klaim pejabat Amerika bahwa Iran tidak bernegosiasi dengan itikad baik.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Berbicara dalam pertemuan tingkat menteri Liga Arab, Albusaidi mengatakan bahwa upaya diplomatik untuk mencari solusi yang adil dan terhormat sebenarnya sedang menunjukkan kemajuan ketika serangan AS dan Israel dimulai.

Ia juga memperingatkan bahwa kawasan tersebut kini menghadapi titik balik yang berbahaya seiring meningkatnya eskalasi pertempuran.