Donald Trump Disebut Ratusan Kali Dalam File Kasus Kejahatan Jeffrey Epstein

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump

Departemen Kehakiman Amerika Serikat kembali merilis dokumen baru terkait kasus kejahatan seksual Jeffrey Epstein, yang dikenal sebagai Epstein Files, pada 30 Januari lalu. Kasus ini telah menyita perhatian publik Amerika Serikat selama lebih dari satu dekade dan menjadi salah satu skandal paling kelam yang melibatkan kekuasaan, uang, serta eksploitasi seksual elite global.

Beberapa elite global yang ikut terseret dalam skandal termasuk presiden Amerika Serikat Donald Trump. Nama Presiden Amerika Serikat disebut ratusan kali dalam dokumen terbaru yang baru saja dirilis.

Trump diketahui pernah memiliki hubungan pertemanan dengan Jeffrey Epstein, namun ia menyebut hubungan tersebut telah berakhir sejak bertahun-tahun lalu. Trump juga menegaskan tidak pernah mengetahui kejahatan seksual yang dilakukan Epstein.

Di antara dokumen baru itu terdapat sebuah daftar yang disusun FBI tahun lalu. Dokumen tersebut berisi berbagai tuduhan terhadap Trump yang berasal dari laporan masyarakat ke saluran pengaduan National Threat Operations Center. Banyak dari laporan tersebut tampaknya didasarkan pada informasi yang belum diverifikasi dan tidak disertai bukti pendukung.

Daftar tersebut memuat sejumlah tuduhan pelecehan seksual yang ditujukan kepada Trump, Epstein, serta tokoh-tokoh publik lainnya.

Trump secara konsisten membantah segala bentuk pelanggaran yang dikaitkan dengan Epstein dan hingga kini tidak pernah didakwa atas kejahatan apa pun oleh para korban Epstein.

Saat dimintai tanggapan mengenai tuduhan terbaru, pihak Gedung Putih dan Departemen Kehakiman merujuk pada pernyataan resmi yang disertakan dalam rilis dokumen tersebut.

“Sebagian dokumen memuat klaim yang tidak benar dan bersifat sensasional terhadap Presiden Trump, yang diserahkan ke FBI menjelang pemilu 2020. Untuk memperjelas, klaim tersebut tidak berdasar dan tidak benar. Jika memiliki sedikit saja kredibilitas, klaim itu pasti sudah lama digunakan sebagai alat untuk menyerang Presiden Trump,”demikian pernyataan Departemen Kehakiman AS dikutip dari laman BBC UK, Senin 2 Februari 2026.

Detail baru ini juga kembali menyoroti hubungan pertemanan Trump selama puluhan tahun dengan Epstei seorang pelaku kejahatan seksual yang meninggal akibat bunuh diri pada 2019, serta dengan Ghislaine Maxwell, rekan dekat Epstein yang kini menjalani hukuman penjara atas kasus perdagangan seks.

Besarnya jumlah dokumen yang dirilis membuat sulit untuk langsung memahami keseluruhan isi yang tersedia secara daring sejak Jumat pagi.

Pencarian di situs Epstein milik Departemen Kehakiman dengan kata kunci ‘Donald Trump’ menghasilkan lebih dari 1.800 hasil. Jumlah tersebut terus bertambah sepanjang hari Jumat seiring bertambahnya dokumen yang terindeks.

Banyak dari penyebutan itu berupa artikel berita tentang Trump saat menjabat sebagai presiden yang dibagikan Epstein kepada orang lain, serta komentar Epstein tentang Trump kepada sejumlah jurnalis dan rekan-rekannya, termasuk Steve Bannon.

Sementara itu, Jaksa Agung Departemen Kehakiman AS, Todd Blanche menegaskan bahwa Gedung Putih tidak memiliki peran atau pengawasan dalam proses peninjauan dokumen terkait penyelidikan Epstein.

“Biar saya tegaskan, mereka sama sekali tidak terlibat dalam peninjauan ini. Mereka tidak mengarahkan bagaimana peninjauan dilakukan, apa yang dicari, apa yang disensor, atau tidak disensor,” ujar Blanche.

Dalam pernyataannya, Departemen Kehakiman menyebut bahwa sebagian dokumen memuat klaim yang tidak benar dan bersifat sensasional terhadap Presiden Trump, yang diserahkan ke FBI menjelang pemilu 2020 lalu.