Bursa Asia Rontok, Trump Ancam Serang Iran dan Yield Obligasi AS Tinggi Tekan Indeks Global

Ilustrasi Saham
Ilustrasi Saham

Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) meningkat dipicu aksi jual investor di tengah kekhawatiran inflasi kembali meningkat. Imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang 30 tahun terakhir diperdagangkan hampir 1 basis poin lebih rendah di 5,174 persen. 

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Nilai imbal hasil sempat menyentuh level 5,197 persen selama sesi perdagangan Senin, 19 Mei 2026. Ini menandai level tertinggi sejak bulan Juli 2007.

Sementara itu, tensi ketegangan di Timur Tengah kembali naik usai Donald Trump yang mengancam "hanya satu jam lagi” untuk menyerang Iran. Pernyataan yang dilontarkan pada Selasa, 19 Mei 2026 ini tepat sebelum Trump dibujuk untuk menunda serangan tersebut selama beberapa hari.

Presiden AS Donald Trump dalam jamuan makan malam di Aula Rakyat Beijing

Mengutip CNBC Internasional, indeks Nikkei 225 Jepang merosot 0,88 persen. Sementara itu, indeks Topix melemah 0,75 persen.

Di Korea Selatan, indeks Kospi tergerus 0,52 persen. Indeks Kosdaq yang terdiri dari indeks saham berkapitalisasi kecil amblas 2,15 persen 

Di Australia, indeks S&P/ASX 200 menyusut 0,5 persen. Indeks Hang Seng Hong Kong  Harga berjangka berada di 25.603 atau lebih rendah dari penutupan terakhir indeks di 25.797,85.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Penurunan tajam di kawasan Asia sejalan koreksi di bursa AS, Wall Street. Saham ditutup lebih rendah dengan S&P 500 mencatatkan sesi penurunan ketiga berturut-turut akibat lonjakan imbal hasil obligasi mengancam pasar bullish.

Indeks S&P 500 terjun 0,67 persen sehingga berakhir di level 7.353,61. Nasdaq Composite turun 0,84 persen ke posisi 25.870,71 diikuti indeks Dow Jones Industrial Average yang kehilangan 322,24 poin atau 0,65 persen sehingga ditutup di area 49.363,88.