Trump Ingin Bertemu Langsung Pemimpin Iran, Pertanda Kesepakatan Damai Segera Tercapai?
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengklaim bahwa Iran telah menyetujui untuk tidak memiliki senjata nuklir. Hal ini disampaikan Trump dalam wawancaranya di podcast Pod Force One yang dirilis pada Rabu 3 Juni waktu setempat.
"Mereka sudah setuju untuk tidak memiliki senjata nuklir," kata Trump dikutip dari laman Iranwire, Kamis 4 Juni 2026.
Dalam wawancaranya itu, Trump juga menyebut bahwa pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei ikut terlibat dalam proses negosiasi damai antara Amerika Seriakt dan Iran.
"Dia terlibat penuh dalam masalah ini. Saya rasa mereka sangat menghormatinya," jawab Trump saat ditanya mengenai peran Mojtaba Khamenei dalam perundingan antara Iran dan AS.
Selain membahas tentang perundingan damai antara Iran dan AS saja, dalam podcast tersebut Trump juga sempat mengabarkan terkait kondisi Mojtaba Khamenei. Disebutnya bahwa Mojtaba Khamenei saat ini tidak terlalu baik. Namun demikian menurut Trump, Mojtaba telah menyetujui jalannya pembicaraan dan terus menerima perkembangan terbaru terkait proses negosiasi tersebut.
Dalam kesempatan itu, presiden AS juga menyatakan keinginannya untuk bertemu langsung dengan Mojtaba Khamenei.
"Saya ingin bertemu dengannya. Mungkin suatu saat kami akan bertemu, tergantung bagaimana perkembangan situasinya," ujar Trump.
Trump menyebut isu Iran sebagai sebuah keberhasilan besar. Mengenai negosiasi yang masih berlangsung antara kedua negara, ia mengatakan bahwa mereka sedang mengupayakan sebuah kesepakatan.
"Jika kesepakatan itu tercapai, hasilnya akan sangat baik. Jika tidak tercapai, itu juga tidak masalah. Kami akan menempuh cara lain," kata dia.
Namun, Trump tidak menjelaskan lebih lanjut apa yang dimaksud dengan cara lain tersebut. Sebelumnya, ia beberapa kali menyatakan bahwa Washington bisa kembali melancarkan serangan terhadap Iran jika dianggap perlu.
Hubungan Memanas antara Trump dan Netanyahu
Trump juga mengonfirmasi bahwa dirinya sempat terlibat percakapan yang cukup tegang dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Dia mengaku sempat marah dengan Tindakan Netanyahu yang memperkeruh keadaan di Timur Tengah.
"Ya, benar. Saya tidak akan mengatakan bahwa saya marah, tetapi saya cukup terganggu dengan perang tanpa akhir yang melibatkan Lebanon," kata Trump.
Meski begitu, Presiden AS tersebut menegaskan bahwa hubungannya dengan Netanyahu tetap baik.
Di sisi lain, situs berita Axios melaporkan bahwa dalam percakapan telepon pada Minggu malam, Trump disebut sempat menyebut Netanyahu sebagai orang gila. Menurut laporan itu, Trump juga mengatakan bahwa jika bukan karenanya Netanyahu sudah berada di dalam penjara akibat kasus korupsi yang membelitnya.
"Kalau bukan karena saya, Anda mungkin sudah berada di penjara sekarang," kata Trump.
Sementara itu, perundingan antara Teheran dan Washington terus berlanjut setelah berakhirnya bentrokan militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Trump berharap pembicaraan tersebut dapat menghasilkan kesepakatan yang, menurutnya, mampu mencegah Republik Islam Iran memperoleh senjata nuklir.