UFC di Gedung Putih Terancam Batal, Donald Trump Digugat Jelang Duel Topuria vs Gaethje
UFC Freedom 250 yang digadang-gadang menjadi salah satu ajang terbesar dalam sejarah MMA justru dibayangi kontroversi besar beberapa hari sebelum digelar.
Event spektakuler yang akan berlangsung di halaman selatan Gedung Putih, Washington DC, pada 14 Juni 2026 itu kini terancam batal setelah muncul gugatan hukum terhadap penyelenggaraan acara tersebut.
UFC Freedom 250 awalnya dirancang sebagai bagian dari perayaan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat. Namun, tanggal pelaksanaannya yang bertepatan dengan ulang tahun ke-80 Presiden Donald Trump membuat acara ini semakin menjadi sorotan publik.
Di atas kertas, UFC Freedom 250 menghadirkan deretan pertarungan kelas dunia. Juara kelas ringan, Ilia Topuria, akan menghadapi pemegang sabuk interim Justin Gaethje dalam laga utama.
Tak hanya itu, mantan juara kelas menengah Alex Pereira dijadwalkan bentrok dengan Ciryl Gane untuk memperebutkan gelar interim kelas berat. Sementara Sean O'Malley akan menghadapi Aiemann Zahabi dalam duel yang juga sangat dinanti penggemar.
Namun kemegahan kartu pertandingan tersebut kini terancam terganggu.
Menurut laporan TMZ, dua warga Virginia telah menggugat National Park Service dan Department of the Interior Amerika Serikat. Mereka menilai UFC Freedom 250 lebih banyak menguntungkan pihak-pihak yang dekat dengan Presiden Trump dibanding menjadi perayaan nasional.
Dalam dokumen gugatan disebutkan bahwa tiket VIP eksklusif untuk acara tersebut dijual dengan harga fantastis, bahkan mencapai lebih dari US$1 juta atau sekitar Rp16 miliar.
Para penggugat juga menyoroti peluang keuntungan komersial yang diperoleh sejumlah perusahaan yang terlibat dalam acara tersebut, termasuk layanan streaming yang menayangkan pertandingan.
Kontroversi semakin memanas setelah muncul laporan bahwa Trump memiliki saham di TKO Group Holdings, perusahaan induk UFC. Kondisi itu dinilai dapat menciptakan potensi keuntungan finansial bagi sang presiden dari penyelenggaraan event tersebut.
Tak berhenti di situ, gugatan juga mempertanyakan pembangunan arena raksasa bernama "The Claw" di kawasan Gedung Putih.
Arena pertarungan setinggi sekitar 28 meter dengan bobot mencapai 600 ton itu disebut dibangun tanpa persetujuan Kongres Amerika Serikat. Para penggugat meminta pengadilan membatalkan izin acara sekaligus menghentikan pembangunan yang sedang berlangsung.
Hingga saat ini belum ada kepastian apakah gugatan tersebut akan benar-benar menggagalkan UFC Freedom 250. Namun sejumlah laporan menyebut nasib acara kini bisa bergantung pada keputusan hakim federal dalam beberapa hari ke depan.
Jika tetap berjalan sesuai rencana, sekitar 4.300 penonton VIP akan menyaksikan laga langsung dari halaman Gedung Putih. Sementara puluhan ribu penonton lainnya diperkirakan memadati area sekitar untuk menyaksikan momen bersejarah tersebut.
Di tengah panasnya kontroversi, para penggemar UFC tentu berharap duel-duel besar seperti Ilia Topuria vs Justin Gaethje, Alex Pereira vs Ciryl Gane, hingga Sean O'Malley vs Aiemann Zahabi tetap bisa tersaji di atas oktagon.