Iran Bantah Klaim Trump soal Kesepakatan Damai, Netanyahu Sebut Teheran Wajib Serahkan Uranium Diperkaya

Ilustrasi militer Iran., Iran Minta Publik Tidak Terburu-buru Percaya Klaim Trump, Netanyahu Sebut Iran Harus Serahkan Uranium Diperkaya, Pasar Merespons Positif Meski Iran Membantah, Ketegangan Belum Sepenuhnya Berakhir
Ilustrasi militer Iran.

Pemerintah Iran secara resmi membantah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengklaim bahwa kesepakatan besar untuk mengakhiri konflik dengan Teheran telah berhasil dicapai. Di tengah klaim tersebut, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengungkapkan bahwa dirinya telah menerima jaminan dari Trump bahwa Iran wajib menyerahkan uranium yang telah diperkaya sebagai bagian dari kesepakatan yang sedang dibahas.

Perkembangan terbaru ini terjadi setelah Trump membatalkan rencana serangan baru terhadap Iran yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada Kamis malam waktu setempat. Sepanjang malam hingga Jumat, tidak ada laporan serangan baru di kawasan Teluk yang dalam beberapa pekan terakhir menjadi titik panas ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Meski situasi relatif tenang, pernyataan Trump mengenai tercapainya kesepakatan damai langsung mendapat bantahan dari Teheran. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Bakaei menegaskan bahwa hingga saat ini Iran belum mengambil keputusan final terkait kesepakatan apa pun.

"Sejauh ini Iran belum mencapai keputusan akhir mengenai perjanjian tersebut," kata Bakaei mengutip dari AFP News. 

Pernyataan serupa juga disampaikan sejumlah media Iran yang menyoroti rekam jejak Trump dalam mengumumkan kesepakatan yang belum terealisasi. Menurut laporan yang beredar di Iran, Trump disebut telah puluhan kali mengklaim kesepakatan dengan Teheran akan segera tercapai dalam dua bulan terakhir.

Iran Minta Publik Tidak Terburu-buru Percaya Klaim Trump

Media Iran menegaskan bahwa selama pemerintah Iran belum mengumumkan adanya kesepakatan resmi, seluruh pernyataan Trump mengenai proses negosiasi sebaiknya dipandang dengan hati-hati.

Sikap tersebut menunjukkan masih adanya perbedaan besar antara Washington dan Teheran mengenai status pembicaraan yang tengah berlangsung. Di satu sisi, Trump menyebut negosiasi mengalami kemajuan signifikan, sementara Iran menilai belum ada keputusan yang bisa diumumkan kepada publik.

Sebelumnya, Trump menyatakan dirinya membatalkan serangan dan pemboman yang telah direncanakan terhadap Iran karena adanya perkembangan positif dalam proses diplomasi.

Menurut Trump, pembicaraan dilakukan dengan tingkat kepemimpinan tertinggi Iran. Ia bahkan mengklaim waktu dan lokasi penandatanganan kesepakatan akan segera diumumkan dalam waktu dekat.

Saat berbicara kepada wartawan di Gedung Putih, Trump kembali menegaskan bahwa sebuah "kesepakatan besar" untuk mengakhiri konflik dengan Iran telah tercapai. Namun, ia mengakui bahwa dokumen-dokumen terkait masih harus dirampungkan dalam beberapa hari ke depan.

Trump juga mengungkapkan bahwa proses penandatanganan kemungkinan akan dilakukan di wilayah Eropa.

Netanyahu Sebut Iran Harus Serahkan Uranium Diperkaya

Di tengah pembahasan mengenai kesepakatan tersebut, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pernyataan penting terkait program nuklir Iran.

Netanyahu mengaku telah menerima jaminan langsung dari Trump bahwa Iran diwajibkan menyerahkan uranium yang telah diperkaya apabila kesepakatan benar-benar terwujud.

Pernyataan itu menjadi salah satu poin paling sensitif dalam negosiasi karena uranium yang diperkaya selama ini menjadi inti dari perdebatan internasional mengenai program nuklir Iran.

Meski demikian, Netanyahu menegaskan bahwa Israel bukan bagian dari nota kesepahaman atau deklarasi awal yang tengah dibahas antara Washington dan Teheran.

Sementara itu, Trump juga mengungkapkan keyakinannya bahwa pemimpin tertinggi baru Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, telah memberikan persetujuan terhadap kesepakatan yang sedang dinegosiasikan.

Ketika ditanya wartawan mengenai hal tersebut, Trump menjawab bahwa berdasarkan informasi yang ia terima, jawabannya adalah ya.

Pasar Merespons Positif Meski Iran Membantah

Terlepas dari bantahan resmi Iran, pernyataan Trump tetap memberikan dampak signifikan terhadap pasar keuangan global.

Bursa saham di kawasan Asia dibuka menguat pada Jumat pagi setelah investor merespons positif peluang meredanya konflik di Timur Tengah. Sebelumnya, pasar saham di Wall Street juga mengalami penguatan, sementara harga minyak dunia bergerak turun.

Optimisme investor dipicu oleh harapan bahwa ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran tidak akan berkembang menjadi konflik yang lebih luas.

Trump bahkan menyatakan bahwa melalui kesepakatan tersebut, Selat Hormuz akan kembali dibuka secara normal untuk aktivitas pelayaran internasional.

Selain itu, ia kembali menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.

Ketegangan Belum Sepenuhnya Berakhir

Meski tidak ada serangan baru dalam semalam, situasi di kawasan masih jauh dari benar-benar stabil.

Sebelum mengumumkan pembatalan serangan, Trump sempat mengancam akan melancarkan serangan yang sangat keras terhadap Iran. Ia bahkan menyebut kemungkinan pengambilalihan Pulau Kharg, lokasi terminal minyak paling penting bagi Iran.

Pulau yang berada di bagian utara Teluk Persia tersebut selama ini menjadi jalur utama ekspor minyak mentah Iran dengan porsi mencapai sekitar 90 persen dari total pengiriman minyak negara itu.

Dalam beberapa hari terakhir, ketegangan kembali meningkat setelah negosiasi mengalami hambatan. Militer Amerika Serikat melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, yang kemudian dibalas Teheran melalui serangan rudal dan drone terhadap pangkalan militer AS di Bahrain, Yordania, dan Kuwait.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Iran menyebut gencatan senjata yang disepakati pada April lalu praktis sudah tidak memiliki arti. Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama Mohammad Bagher Ghalibaf juga memperingatkan Amerika Serikat agar tidak mengambil keputusan secara impulsif.

Menurutnya, langkah yang salah hanya akan menyeret konflik Iran menjadi perang berkepanjangan. Meski demikian, hingga Jumat pagi senjata masih terdiam dan belum ada laporan bentrokan baru antara kedua pihak.