Donald Trump Kembali Terseret Kasus Epstein Files, Pengakuan Korban Bikin Terkejut

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump saat meluncurkan operasi Epic Fury
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump saat meluncurkan operasi Epic Fury

Di tengah memanasnya situasi akibat serangan Amerika Serikat bersama Israel ke Iran, Presiden AS Donald Trump kembali terseret dalam polemik Epstein Files.

Pada Kamis waktu setempat, Departemen Kehakiman AS (DOJ) merilis dokumen FBI yang berisi ringkasan hasil wawancara dengan seorang perempuan. Dalam wawancara tersebut, perempuan yang identitasnya dirahasiakan itu melontarkan tuduhan terhadap Trump terkait dugaan pertemuan seksual di masa lalu.

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Melansir laman AFP, Sabtu 7 Maret 2026, agen FBI itu diketahui mewawancarai perempuan tersebut sebanyak empat kali pada tahun 2019 lalu sebagai bagian dari penyelidikan terhadap tersangka pelaku perdagangan seks, Jeffrey Epstein. Sebelumnya, DOJ memang telah merilis catatan yang mengonfirmasi bahwa wawancara tersebut terjadi. Namun saat itu hanya satu ringkasan wawancara yang dipublikasikan, yakni ketika perempuan tersebut menuduh Epstein telah melecehkannya saat ia masih remaja.

Dokumen yang baru diungkap dan diunggah di situs resmi DOJ pada Kamis itu menunjukkan bahwa perempuan tersebut juga mengklaim Trump pernah mencoba memaksanya melakukan seks oral. Ia mengatakan peristiwa itu terjadi setelah Epstein memperkenalkannya kepada Trump di New York atau New Jersey pada era 1980-an, saat usianya masih sekitar 13 hingga 15 tahun.

Menyusul dengan perilisan dokumen ini, Gedung Putih belum memberikan tanggapan atas pertanyaan terkait pengungkapan dokumen tersebut. Media Politico yang pertama kali melaporkan kabar ini menyebutkan bahwa Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyebut tuduhan perempuan itu sebagai klaim yang sepenuhnya tidak berdasar dan tidak didukung bukti yang kredibel.

Departemen Kehakiman juga mengingatkan bahwa sebagian dokumen tersebut memuat klaim yang tidak benar dan sensasional yang diarahkan kepada Presiden Trump. Kantor berita Reuters menyatakan tidak dapat memverifikasi secara independen kebenaran tuduhan perempuan itu. Catatan FBI juga menunjukkan para agen berhenti berkomunikasi dengannya pada 2019.

Departemen Kehakiman menjelaskan melalui unggahan di platform media sosial X bahwa dokumen yang dirilis pada Kamis merupakan bagian dari 15 dokumen yang sebelumnya salah dikodekan sebagai duplikat, sehingga tidak sempat dipublikasikan.

Pengungkapan ini muncul di tengah sorotan dari Kongres terhadap cara Departemen Kehakiman menangani dokumen-dokumen terkait penyelidikan Epstein, yang seharusnya dipublikasikan kepada publik.

Sejumlah politisi Partai Demokrat menuduh pemerintahan Trump menyembunyikan dokumen yang berkaitan dengan Trump di Epstein File. Bahkan, sebuah komite di DPR AS telah menyetujui pemanggilan paksa Jaksa Agung Pam Bondi agar anggota parlemen dapat menanyainya mengenai penanganan pengungkapan dokumen tersebut.

Trump sendiri mengatakan hubungannya dengan Epstein telah berakhir sejak pertengahan 2000-an. Ia juga mengaku tidak pernah mengetahui dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh miliarder tersebut.

Dokumen yang sebelumnya dirilis Departemen Kehakiman juga menunjukkan Trump beberapa kali terbang menggunakan pesawat pribadi Epstein pada 1990-an. Namun hal itu dibantah oleh Trump.

Setelah Epstein pertama kali dituduh melakukan kejahatan seksual, Trump disebut sempat menghubungi kepala polisi di Palm Beach dan mengatakan bahwa semua orang sudah tahu dia melakukan hal itu, menurut catatan wawancara FBI.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam laporan wawancara terakhir perempuan tersebut yang dilakukan pada Oktober 2019, saat Trump masih menjabat sebagai presiden dalam masa jabatan pertamanya, para agen FBI menanyakan apakah ia bersedia memberikan informasi tambahan terkait Trump.

Menanggapi pertanyaan itu, menurut catatan agen, perempuan tersebut justru mempertanyakan apa gunanya memberikan informasi tersebut pada tahap hidupnya sekarang, karena ada kemungkinan besar tidak akan ada tindakan yang bisa diambil atas hal itu.