Setelah Menang Lawan Trump, Kini E. Jean Carroll Malah Diselidiki

Presiden AS, Donald Trump
Presiden AS, Donald Trump

Departemen Kehakiman (DOJ) Amerika Serikat mulai melakukan penyelidikan terhadap E. Jean Carroll. Carroll diketahui merupakan mantan penulis  yang sebelumnya memenangkan kasus pelecehan seksual terhadap presiden Donald Trump. Kabar ini dilaporkan sejumlah media pada Rabu malam Waktu setempat. 

Selama ini Trump diketahui beberapa kali mendesak Departemen Kehakiman untuk menindak orang-orang yang dianggap sebagai lawan politiknya. Dalam penyelidikan terbaru ini, Carroll diduga memberikan kesaksian palsu dalam dua gugatan perdata yang dia ajukan terhadap Trump, demikian seperti dilaporkan CNN dan The New York Times mengutip sumber yang mengetahui kasus tersebut.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Melansir laman AFP, Kamis 28 Mei 2026, dalam salah satu gugatannya, Carroll menuding Trump melakukan pelecehan seksual terhadapnya di sebuah departemen store di New York pada tahun 1996 lalu. Sementara itu, dalam gugatan lainnya, juri menyatakan Trump bersalah atas pencemaran nama baik karena sejumlah pernyataannya di depan public yang dianggap menyerang Carroll. 

Trump diketahui berulang kali membantah tudingan Carroll dan menyebut Wanita tersebut 'bukan tipenya'. Tak hanya itu saja, Trump juga menuding Carroll mengarang cerita demi meningkatkan penjualan bukunya. 

Namun pengadilan memvonis Trump untuk membayar ganti rugi sebesar 83,3 juta dolar AS kepada Carroll atas kasus pencemaran nama baik tersebut.

CNN melaporkan bahwa jaksa menyoroti pernyataan Carroll dalam deposisi tahun 2022 yang menyebut dirinya tidak menerima bantuan dana dari pihak luar untuk membiayai gugatan hukum itu. Namun belakangan diketahui miliarder Reid Hoffman turut membayar sebagian biaya hukum dan pengeluaran terkait kasus tersebut.

The New York Times melaporkan penyelidikan itu dibuka oleh jaksa federal Andrew S. Boutros yang ditunjuk Trump.

Sumber yang mengetahui perkara itu mengatakan kepada CNN bahwa Jaksa Agung sementara AS Todd Blanche tidak terlibat dalam penyelidikan karena sebelumnya pernah menjadi salah satu pengacara pribadi Trump dalam kasus Carroll.

Desakan Trump agar Departemen Kehakiman mengambil tindakan terhadap lawan-lawannya menuai kritik dari berbagai pihak. Para pengkritik menilai langkah tersebut merusak independensi lembaga hukum yang selama ini dijaga.

Mantan Ketua Federal Reserve AS, Jerome Powell, pada Januari lalu juga mengatakan bahwa penyelidikan pidana Departemen Kehakiman terhadap dirinya terkait pembengkakan biaya renovasi gedung diduga bertujuan memberi tekanan terhadap pengambilan kebijakan moneter.

Trump sendiri diketahui terus menekan bank sentral AS agar menurunkan suku bunga dan berulang kali melontarkan kritik keras kepada Powell.

Presiden AS itu juga sempat meluapkan kemarahannya karena tidak ada langkah hukum terhadap Jaksa Agung New York Letitia James dan Senator California Adam Schiff, yang sama-sama berasal dari Partai Demokrat. Keduanya dituduh sekutu dekat Trump memalsukan dokumen pengajuan kredit properti.

Trump kemudian memecat jaksa federal yang menangani penyelidikan terhadap Letitia James pada September lalu setelah jaksa tersebut disebut menilai bukti yang ada belum cukup untuk menjerat James dalam kasus penipuan hipotek.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bulan lalu, mantan Direktur FBI James Comey juga didakwa terkait unggahan media sosialnya, beberapa bulan setelah kasus sebelumnya terhadap salah satu pengkritik vokal Trump itu dibatalkan pengadilan.

Hingga kini Departemen Kehakiman AS belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar AFP terkait penyelidikan terhadap Carroll.