Presiden Iran Akhirnya Bertemu Mojtaba Khamenei usai Serangan AS-Israel, Bahas Apa?
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian baru saja bertemu dengan Pimpinan Tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei. Pertemuan ini menjadi yang pertama sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Sebelumnya, Mojtaba Khamenei dikabarkan menjalani perawatan setelah mengalami luka akibat serangan tersebut.
Lantas apa saja yang dibicarakan keduanya dalam pertemuan tersebut? Melansir laman presstv.ir, Jumat 8 Mei 2026, Pezeshkian tak banyak memberi detail tentang pembicaraan diantaranya dengan Mojtaba Khamenei.
Dirinya hanya membagikan kesannya usai bertemu dengan Mojtaba. Presiden Iran itu menyoroti tentang suasana pertemuan tersebut sekaligus karakter pribadi, etika dan gaya kepemimpian Mojtaba Khamenei. Dijelaskan Pezeshkian mengatakan pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan penuh ketulusan. Diskusi keduanya disebut berlangsung hampir dua setengah jam.
Menurut Pezeshkian, hal yang paling berkesan bukan hanya isi pembicaraan, melainkan sikap rendah hati, tulus, dan penuh penghormatan yang ditunjukkan pada Mojtaba Khamenei selama pertemuan. Sikap tersebut, kata dia, membuat suasana diskusi terasa penuh kepercayaan, tenang, hangat, dan terbuka.
Presiden Iran itu juga menekankan pentingnya memperkuat persatuan, rasa saling percaya, dan empati di seluruh tingkat pemerintahan negara.
Ia menilai, ketika pemimpin tertinggi negara memperlakukan para pejabat dan masyarakat dengan etika, kerendahan hati, serta semangat yang dekat dengan rakyat, maka sikap itu secara alami akan menjadi contoh bagi sistem pemerintahan dan manajemen negara.
Menurut Pezeshkian, pola kepemimpinan tersebut dibangun di atas rasa tanggung jawab, kedekatan dengan rakyat, dan kemauan untuk benar-benar mendengarkan persoalan yang dihadapi masyarakat. Ia menyebut pendekatan itu sejalan dengan gaya kepemimpinan mendiang pemimpin besar Revolusi Islam.
Pezeshkian juga mengatakan bahwa Mojtaba Khamenei hadir dalam pertemuan tersenit dengan sikap sederhana, rendah hati, tulus, dan penuh rasa hormat. Hal itu membuat percakapan berlangsung sangat terbuka, jujur, dan dipenuhi rasa kedekatan serta saling percaya.
Seperti diketahui, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei ditunjuk sebagai Pemimpin Revolusi Islam tak lama setelah wafatnya ayah sekaligus pendahulunya, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, yang disebut tewas dalam serangan yang diklaim dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.