Ambisi Donald Trump Beli Greenland, Klaim Progres Negosiasi hingga Cabut Ancaman Tarif NATO

Trump, NATO, Ekonomi Dunia, kesepakatan, Greenland, Denmark, Ambisi Donald Trump Beli Greenland, Klaim Progres Negosiasi hingga Cabut Ancaman Tarif NATO, Klaim Kerangka Kerja dan Keamanan Arktik, Incar Cadangan Mineral Langka, Respons Tegas Denmark: Kedaulatan adalah Garis Merah, Eropa Sambut Pembatalan Tarif, Menolak Kekuatan Militer

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa pihaknya tengah menjajaki potensi kesepakatan besar terkait wilayah Greenland.

Pernyataan ini muncul usai Trump melakukan serangkaian pembicaraan dengan aliansi NATO di sela-sela Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss.

Sejalan dengan klaim progres tersebut, Trump juga resmi menarik kembali ancaman tarif impor yang sempat menghantui negara-negara sekutu di Eropa.

Sebelumnya, Trump mengancam akan memberlakukan tarif sebesar 10 persen pada semua barang dari Inggris dan sejumlah negara Eropa lainnya mulai 1 Februari 2026.

Tarif tersebut direncanakan melonjak hingga 25 persen pada 1 Juni 2026 jika kesepakatan penjualan Greenland dari Denmark ke Washington tidak tercapai.

Klaim Kerangka Kerja dan Keamanan Arktik

Melalui unggahan di media sosial Truth Social pada Rabu (21/1/2026), Trump menyebut diskusinya dengan NATO berlangsung "sangat produktif". Ia mengeklaim telah tercipta sebuah landasan untuk kerja sama di masa depan.

"Kami telah membentuk kerangka kesepakatan masa depan terkait Greenland dan, pada kenyataannya, seluruh Wilayah Arktik," tulis Trump.

Menurutnya, solusi ini akan menjadi pencapaian besar bagi AS dan seluruh anggota NATO. Trump juga menunjuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Utusan Khusus Steve Witkoff untuk memimpin negosiasi dan melapor langsung kepadanya.

Incar Cadangan Mineral Langka

Dalam keterangan kepada wartawan setelah bertemu Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, Trump mengungkapkan bahwa poin utama kesepakatan tersebut mencakup hak atas mineral.

Greenland diketahui memiliki cadangan mineral langka yang masif dan belum dimanfaatkan, yang sangat krusial untuk produksi ponsel pintar hingga kendaraan listrik.

"Ini adalah kesepakatan jangka panjang yang paling utama. Kesepakatan ini menempatkan semua orang pada posisi yang sangat baik, terutama berkaitan dengan keamanan dan sumber daya mineral. Ini adalah kesepakatan yang berlaku selamanya," ujar Trump.

Selain mineral, Trump menyebutkan adanya potensi kerja sama sekutu Eropa dalam sistem pertahanan Golden Dome untuk melindungi AS dari serangan rudal jarak jauh.

Respons Tegas Denmark: Kedaulatan adalah Garis Merah

Trump, NATO, Ekonomi Dunia, kesepakatan, Greenland, Denmark, Ambisi Donald Trump Beli Greenland, Klaim Progres Negosiasi hingga Cabut Ancaman Tarif NATO, Klaim Kerangka Kerja dan Keamanan Arktik, Incar Cadangan Mineral Langka, Respons Tegas Denmark: Kedaulatan adalah Garis Merah, Eropa Sambut Pembatalan Tarif, Menolak Kekuatan Militer

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membatalkan rencana pengenaan tarif terhadap negara-negara Eropa yang sebelumnya dikaitkan dengan upayanya untuk mengambil alih Greenland.

Meski Trump mengeklaim ada kemajuan, Pemerintah Denmark tetap pada pendiriannya terkait status kedaulatan Greenland. Menteri Luar Negeri Denmark, Lars Løkke Rasmussen, menegaskan bahwa kedaulatan adalah hal yang tidak bisa dinegosiasikan.

"Tidak mungkin Amerika Serikat akan memiliki Greenland," tegas Rasmussen dalam wawancara dengan media lokal DR.

Namun, Rasmussen menyambut baik penurunan tensi diplomatik ini.

"Sekarang, mari kita duduk bersama dan mencari tahu bagaimana kita dapat mengatasi kekhawatiran keamanan Amerika di Arktik sambil tetap menghormati batasan-batasan yang ditetapkan oleh Kerajaan Denmark," tambahnya.

Eropa Sambut Pembatalan Tarif

Keputusan Trump untuk mencabut ancaman tarif disambut lega oleh para pemimpin Eropa. Perdana Menteri Belanda Dick Schoof menilai hal ini sebagai jalur de-eskalasi yang positif bagi perdagangan transatlantik.

Senada dengan itu, Menteri Luar Negeri Swedia Maria Malmer Stenergard menyebut bahwa kerja sama antar-sekutu telah memberikan dampak nyata terhadap tekanan ekonomi AS.

Namun, para analis memperingatkan bahwa hubungan AS-Eropa mungkin tidak akan pernah kembali seperti semula.

"Kedekatan dan ketergantungan seperti di masa lalu tidak akan kembali," kata Wæver, profesor dari Universitas Kopenhagen. Ia memprediksi kedua pihak akan tetap waspada terhadap potensi "senjata perdagangan" di masa depan.

Menolak Kekuatan Militer

Dalam pidatonya di Davos, Trump menegaskan bahwa ia mencari negosiasi segera tanpa menggunakan kekuatan militer.

Meski ambisinya besar, ia menyatakan tidak ingin menggunakan cara kekerasan untuk mengakuisisi wilayah otonom tersebut.

"Saya tidak perlu menggunakan kekerasan. Saya tidak ingin menggunakan kekerasan. Saya tidak akan menggunakan kekerasan," pungkas Trump.

Ia hanya memberikan pilihan kepada para pemimpin dunia untuk mendukung langkah AS.

"Anda bisa mengatakan ya dan kami akan sangat menghargai. Atau Anda bisa mengatakan tidak dan kami akan mengingatnya."

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Trump Akui Capai Kesepakatan soal Masa Depan Greenland, Menlu Denmark: Berakhir dengan Lebih Baik

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang