Apa Itu Doktrin Monroe yang Disinggung Donald Trump Usai Invasi Venezuela?
Penangkapan dan penahan presiden Venezuela, Nicolás Maduro pada akhir pekan lalu terus memantik kecaman dari berbagai negara. Meski mendapat kritik keras, Presiden Amerika Serikat Donald Trump berupaya membenarkan tindakannya.
Pada hari Sabtu pekan lalu, Trump menyebut penggerebekan yang berujung pada penahanan Presiden Venezuela Nicolás Maduro sebagai versi terbaru dari Doktrin Monroe, sebuah pernyataan yang dibuat pada tahun 1823 oleh Presiden kelima AS, James Monroe. Trump menambahkan bahwa Amerika Serikat akan mengelola negara itu sampai transisi yang aman, layak, dan bijaksana dapat dilakukan.
“Doktrin Monroe itu sangat penting, tetapi kami sudah melampauinya jauh sekali, sangat jauh. Sekarang mereka menyebutnya Dokumen Donroe. Dominasi Amerika di Belahan Bumi Barat tidak akan pernah dipertanyakan lagi,” kata Trump dikutip dari laman Al Jazeerah, Selasa 6 Januari 2026.
Lantas apa itu doktrin Monroe? Pada dasarnya, Doktrin Monroe mendorong pembagian dunia ke dalam wilayah-wilayah pengaruh yang diawasi oleh kekuatan yang berbeda.
Monroe pertama kali menyampaikan doktrin ini pada 2 Desember 1823 dalam pidato tahunan kenegaraan ketujuhnya di hadapan Kongres, meskipun doktrin tersebut baru dinamai dengan namanya beberapa dekade kemudian.
Ia memperingatkan negara-negara Eropa agar tidak mencampuri urusan di kawasan Amerika, dengan menegaskan bahwa tindakan semacam itu akan dianggap sebagai serangan terhadap Amerika Serikat.
Presiden Monroe saat itu juga menyatakan bahwa urusan di Belahan Bumi Barat dan Eropa harus tetap terpisah dan tidak saling memengaruhi.
Bagaimana doktrin ini membahas kolonisasi di Amerika?
Sebagai gantinya, Monroe berjanji bahwa AS akan mengakui dan tidak mengganggu koloni-koloni Eropa yang sudah ada maupun urusan dalam negeri negara-negara Eropa. Namun, menurut Monroe, Amerika Utara dan Selatan tidak lagi boleh menjadi sasaran kolonisasi baru oleh kekuatan Eropa mana pun.
Dalam banyak hal, Doktrin Monroe mendorong agar kondisi yang ada di kawasan Amerika tetap dipertahankan, sekaligus menuntut Eropa untuk menarik diri dari wilayah tersebut.
Pada tahun 1904, Presiden Theodore Roosevelt menambahkan apa yang dikenal sebagai Roosevelt Corollary ke dalam Doktrin Monroe. Tambahan ini menegaskan hak Amerika Serikat untuk ikut campur di negara-negara Amerika Latin guna mencegah campur tangan Eropa, terutama terkait utang atau ketidakstabilan, demi menjaga stabilitas dan melindungi kepentingan Washington di Belahan Bumi Barat.
Pada tahun yang sama, ketika para kreditur Eropa mengancam beberapa negara Amerika Latin, Roosevelt menyatakan hak sekaligus tanggung jawab AS untuk turun tangan sesuai dengan doktrin tersebut.
Roosevelt Corollary dirumuskan setelah krisis Venezuela pada 1902–1903, ketika negara itu menolak membayar utang luar negerinya.
Bagaimana AS menerapkannya dalam beberapa dekade terakhir?
Dalam dekade-dekade berikutnya, Doktrin Monroe yang telah berkembang digunakan sebagai pembenaran atas intervensi AS di Republik Dominika, Haiti, dan Nikaragua.
an, Presiden Ronald Reagan menjalankan pendekatan yang agresif terhadap kawasan tersebut, yang oleh para pengkritiknya disebut sebagai imperialis. Di Nikaragua, ia mendukung kelompok sayap kanan Contras melawan pemerintahan sayap kiri Sandinista, yang kemudian menyeret AS ke dalam skandal perdagangan senjata Iran–Contra. Reagan juga mendukung pemerintahan sayap kanan yang dituduh melakukan kekejaman di El Salvador dan Guatemala.
Kuba telah lama berada di bawah tekanan berat dari Amerika Serikat sejak Revolusi Fidel Castro, baik secara militer maupun ekonomi, melalui sanksi keras yang masih berlaku hingga saat ini. Selain itu, terdapat laporan mengenai upaya-upaya untuk memicu kudeta terhadap pendahulu Maduro, Hugo Chávez, sebelum wafatnya pada tahun 2013.