Top 5+ Fakta Zohran Mamdani, Wali Kota New York Muslim Pertama yang Dimusuhi Donald Trump
Sejarah baru tercipta di Amerika Serikat. Politisi muda Partai Demokrat, Zohran Mamdani, resmi terpilih sebagai Wali Kota New York ke-111 dalam pemilihan umum yang digelar Selasa, 4 November 2025. Ia mengalahkan dua nama besar yaknimantan Gubernur Andrew Cuomo dan kandidat Republik Curtis Sliwa.
Dengan kemenangan ini, Mamdani mencatat sejarah sebagai wali kota Muslim pertama dan termuda yang pernah memimpin kota metropolitan terbesar di AS tersebut.
Mamdani, sosialis demokrat berusia 34 tahun asal Queens, berhasil meraih lebih dari 50 persen suara, mengungguli Cuomo yang memperoleh 40 persen dan Sliwa dengan 7 persen.
Kemenangan ini terjadi di tengah gelombang sukses Partai Demokrat di berbagai negara bagian, memperkuat posisi partai biru menjelang pemilu presiden 2028.
Berikut lima fakta menarik tentang Zohran Mamdani, sosok yang kini bukan hanya mencatat sejarah, tapi juga memancing kemarahan Donald Trump.
1. Wali Kota Muslim Pertama dan Termuda di New York
Euforia kemenangan Mamdani terasa di Brooklyn Paramount, tempat ribuan pendukungnya bersorak ketika Associated Press mengumumkan hasil resmi. Ia menjadi wali kota Muslim pertama di New York City sekaligus wali kota kelahiran Asia Selatan pertama dalam sejarah AS.
Sebelumnya, posisi wali kota dipegang oleh Eric Adams, yang mengundurkan diri dari pencalonan pada September. Meski awalnya bukan tokoh politik populer, pesan Mamdani tentang keterjangkauan hidup dan keadilan sosial menggema kuat di kalangan pemilih muda dan kelas pekerja.
Programnya meliputi pembekuan sewa, bus gratis, kenaikan upah minimum menjadi USD 30 per jam, serta pajak lebih tinggi bagi warga terkaya. Dengan dukungan donasi kecil dan relawan akar rumput, kampanye Mamdani berkembang pesat hingga menumbangkan Cuomo dengan selisih 13 poin dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat.
2. Berani Mengejek Donald Trump
Dalam pidato kemenangannya di Brooklyn, Mamdani tampil berani menyinggung langsung Presiden AS, Donald Trump.
“Jika ada yang bisa menunjukkan kepada bangsa yang dikhianati oleh Donald Trump cara mengalahkannya, kota itulah yang melahirkannya,” ujarnya tegas.
Ia melanjutkan, “Jadi, Donald Trump, karena saya tahu Anda sedang menonton, saya punya empat kata untuk Anda: ‘Keraskan volumenya.’”
Pidato itu disambut tepuk tangan riuh. Pernyataannya bukan sekadar sindiran, tapi juga penegasan bahwa New York di bawah kepemimpinannya akan menjadi simbol perlawanan terhadap politik kebencian dan diskriminasi yang kerap diasosiasikan dengan Trump.
3. Komitmen Hapuskan Islamofobia di New York
Dalam pidato perdananya, Mamdani menegaskan komitmennya menjadikan New York sebagai kota yang aman dan inklusif bagi semua golongan.
“Apakah Anda seorang imigran, anggota komunitas trans, wanita kulit hitam yang dipecat Donald Trump dari pekerjaan federal, atau siapa pun yang terdesak — perjuangan kalian adalah perjuangan kami juga,” katanya di atas panggung Brooklyn.
Ia menegaskan bahwa New York tak akan lagi menjadi tempat bagi Islamofobia dan intoleransi agama.
“Balai Kota akan selalu berdiri bersama warga Yahudi New York, tegas melawan antisemitisme. Lebih dari satu juta Muslim di kota ini tahu bahwa mereka juga berdiri di pihak yang sama,” ujarnya.
4. Hampir Digagalkan oleh Puluhan Miliarder
Kemenangan Mamdani bukan tanpa perlawanan. Sedikitnya 20 miliarder dilaporkan berupaya mencegahnya menjadi wali kota, termasuk nama besar seperti Michael Bloomberg, Bill Ackman, Barry Diller, dan Alice Walton.
Alasannya sederhana: kebijakan ekonomi Mamdani yang berani menantang status quo. Ia berjanji akan menaikkan pajak bagi para miliarder dan tarif pajak perusahaan, guna membiayai program sosial seperti bus gratis dan penitipan anak universal.
Rencana itu membuat kalangan kaya ketar-ketir. Mereka menggelontorkan dana besar untuk mendukung lawan politiknya, terutama Cuomo. Namun, arus dukungan akar rumput yang masif justru membuat Mamdani menang telak dan membalikkan semua prediksi.
5. Jadi Sasaran Kekesalan Donald Trump
Hubungan antara Mamdani dan Trump memang sejak awal memanas. Trump secara terbuka menyebut Mamdani sebagai “komunis” dan mengancam akan memotong dana federal untuk New York jika ia menang.
Dalam unggahan di Truth Social, Trump menulis:
“Jika Kandidat Komunis Zohran Mamdani memenangkan Pemilihan Wali Kota New York City, sangat kecil kemungkinan saya akan menyumbangkan Dana Federal, selain jumlah minimum yang diwajibkan.”
Meski demikian, ancaman itu tampaknya tak menggoyahkan publik New York. Justru, retorika Trump dianggap memperkuat solidaritas warga terhadap sosok Mamdani yang dianggap merepresentasikan perubahan dan keberanian menantang ketimpangan sosial.