Pertemuan 100 Menit Donald Trump dan Xi Jinping: Semuanya Masih Abu-abu
Pertemuan berisiko tinggi antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Busan, Korea Selatan, pekan lalu, semula digadang sebagai momentum meredakan ketegangan tarif dagang global yang telah berlangsung berbulan-bulan.
Namun, pertemuan itu hanya berlangsung 100 menit — jauh dari ekspektasi tiga sampai empat jam — dan hasilnya pun tipis.
Trump menyebut pembicaraan itu berjalan "luar biasa", bahkan memberi nilai 12 dari 10. Akan tetapi, Beijing lebih bersikap hati-hati, sekadar menyerukan agar saluran komunikasi tetap terbuka.
Bagi mereka yang berharap hubungan Washington – Beijing mencair, singkatnya pertemuan itu menjadi pengingat bahwa ketidakpercayaan antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia masih mengakar dalam.
Donald Trump mengumumkan sedikit rincian dari kesepakatan terbatas yang disampaikan Washington belum lama ini, yaitu penundaan kenaikan tarif, pembatalan pembatasan ekspor logam tanah jarang (rare Earth), serta dimulainya kembali impor kedelai AS.
Xi Jinping, lewat kantor berita Xinhua, menyebut kedua pemimpin mencapai "konsensus dasar” di bidang ekonomi dan perdagangan, seraya mengingatkan pentingnya kerja sama jangka panjang dan menghindari "siklus balas-membalas yang merugikan".
Direktur Hinrich Foundation Hong Kong, Deborah Elms, menilai hasilnya "menarik tapi kabur". Tak ada pernyataan resmi bersama, tak ada konferensi pers. Pasar pun merespons datar: reli singkat saham China memudar, sementara indeks berjangka AS melemah.
"Pasar berharap banyak, tapi kecewa oleh minimnya detail. Kesepakatan itu sekadar 'gencatan senjata taktis' dan memperingatkan volatilitas masih akan berlanjut," ungkapnya, seperti dikutip dari situs DW, Senin, 3 November 2025.
Donald Trump mengklaim bahwa China sepakat menurunkan tarif dagang 10 persen atas perdagangan terkait fentanyl, sebagai imbalan janji Beijing menekan peredaran opioid mematikan di AS.
Ia juga menyebut adanya kesepakatan satu tahun untuk menjamin pasokan logam tanah jarang (rare Earth) – bahan vital industri teknologi tinggi yang 70 persen dikuasai China.
Namun, seperti diingatkan ekonom Alicia Garcia-Herrero dari Natixis, kesepakatan itu belum jelas bagaimana izin ekspor akan dilonggarkan. "Logam tanah jarang tetap menjadi kartu truf Beijing," tegas dia.
Donald Trump juga menyinggung soal semikonduktor berteknologi tinggi — jantung kecerdasan buatan (AI) dan sistem militer modern.
Ia mengisyaratkan Beijing akan membeli lebih banyak chip asal AS, meski tidak dari lini teratas Nvidia. Namun, China belum resmi mengonfirmasi.
Bahkan, usai pembicaraan singkatnya dengan Xi Jinping, Trump menulis di media sosial miliknya, Truth Social, bahwa China akan segera memulai pembelian energi AS dalam "transaksi besar-besaran", termasuk minyak dan gas (migas) dari Alaska.
Hal ini kemungkinan besar untuk meregangkan hubungan erat China dengan Rusia. "Mereka (China) tentu akan membeli 'jumlah luar biasa besar' kedelai dan hasil pertanian lainnya," paparnya. Namun, lagi-lagi, Beijing memilih nada hati-hati.