Bisakah TikTok bikin Donald Trump dan Xi Jinping Berpelukan

Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping.
Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping sedang mengupayakan kesepakatan pada Jumat, 19 September waktu setempat atau Sabtu, 10 September 2025 waktu Indonesia.

Upaya ini untuk membantu aplikasi video TikTok 'tetap hadir' di AS serta meredakan ketegangan kedua negara yang terkunci lama dalam kebuntuan perdagangan.

Kesepakatan tersebut juga menjadi prioritas utama selain perdagangan karena panggilan telepon pertama kedua pemimpin yang diketahui dalam tiga bulan terakhir.

Meski begitu, China belum mengonfirmasi rencana panggilan telepon tersebut. Upaya Donald Trump dan Xi Jinping untuk memantapkan hubungan terjadi saat kedua pemerintah membahas potensi pertemuan puncak langsung keduanya pada Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Korea Selatan pada 30 Oktober-1 November 2025.

Membuat Beijing setuju atas kesepakatan tersebut menjadi salah satu rintangan yang harus diatasi Donald Trump agar TikTok tetap beroperasi di negaranya.

Kongres AS telah memerintahkan penutupan aplikasi tersebut bagi pengguna AS pada Januari 2025 jika asetnya di AS tidak dijual oleh pemiliknya, ByteDance Technology.

Donald Trump menolak untuk menutup dan mengupayakan cara lain, yaitu mencari pemilik baru. Bukan tanpa alasan. Menurutnya, TikTok membantunya mendulang suara memenangkan Pemilihan Presiden (Pilpres) lalu.

"Saya suka TikTok. Berkatnya saya terpilih (jadi Presiden AS). TikTok memiliki nilai yang luar biasa. Amerika Serikat memegang nilai itu karena kamilah yang harus menyetujuinya," jelas dia, seperti dikutip dari situs Reuters, Jumat, 19 September 2025.

Pertanyaan kunci tentang kesepakatan tersebut tetap ada kendati jelas struktur kepemilikan perusahaan yang pasti dan apakah Kongres AS akan menyetujuinya.

Sumber yang mengetahui kesepakatan tersebut mengatakan TikTok di AS akan tetap menggunakan algoritma ByteDance Technology.

Pengaturan tersebut membuat para anggota Kongres AS khawatir kalau Beijing dapat memata-matai warganya, atau melakukan operasi intelijen melalui aplikasi tersebut.

China selalu berkali-kali menyatakan tidak ada bukti ancaman keamanan nasional yang ditimbulkan oleh TikTok.

Sebagai informasi, ByteDance Technology, selaku pemilik TikTok, akan tetap menjadi pemegang saham tunggal terbesar dengan porsi 19,9 persen, atau tepat di bawah ambang batas 20 persen.

Sementara itu, 79,9 persen kepemilikan akan dipegang oleh konsorsium investor yang mencakup pemegang saham lama ByteDance Technology seperti Susquehanna International Group (SIG), General Atlantic, dan KKR, serta investor baru termasuk Andreessen Horowitz.

Perusahaan teknologi AS Oracle juga diperkirakan akan mengambil bagian, bersama Silver Lake yang dilaporkan siap berinvestasi.

Model ini akan menjadikan TikTok sebagai entitas baru berbasis di AS, dengan mayoritas kepemilikan dan pengendalian berada di tangan investor AS.