Top 6+ Mitos Protein Ini Perlu Berhenti Kamu Percayai, Menurut Ahli Gizi
- 1. Protein hanya penting untuk membangun otot
- 2. Diet tinggi protein merusak ginjal
- 3. Hanya makanan hewani yang mengandung protein lengkap
- 4. Semakin banyak makan protein, makin besar otot
- 5. Makan lebih banyak protein akan membuat tubuh lebih ramping
- 6. Protein powder wajib untuk memenuhi kebutuhan protein
Protein terus menjadi perhatian banyak orang, mulai dari mereka yang ingin membentuk otot hingga yang sekadar ingin hidup lebih sehat.
Wajar saja, karena protein adalah nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh untuk menjalankan berbagai fungsi vital.
Namun, bersamaan dengan meningkatnya popularitas protein, beredar pula sejumlah mitos yang membingungkan.
Mitos protein yang jangan dipercaya
Untuk meluruskan informasi, dua ahli gizi terdaftar, Roxana Ehsani, MS, RD, CSSD, LDN dan Lauren Manaker, MS, RDN, LD, CLEC, memaparkan beberapa mitos paling umum tentang protein yang sebaiknya tidak lagi kamu percayai:
1. Protein hanya penting untuk membangun otot
Menurut Roxana Ehsani, anggapan ini keliru. Protein bukan hanya untuk atlet maupun binaragawan, tetapi diperlukan semua orang setiap hari demi menjaga fungsi tubuh tetap optimal.
Lauren Manaker menambahkan bahwa protein berperan untuk:
- Memperbaiki jaringan tubuh
- Memproduksi enzim dan hormon
- Mendukung sistem imun
- Menjaga kesehatan kulit, rambut, dan kuku
- Memberikan rasa kenyang lebih lama
Artinya, protein adalah kebutuhan dasar tubuh, bukan hanya nutrisi untuk menambah massa otot.
2. Diet tinggi protein merusak ginjal
Mitos ini muncul karena pembatasan protein memang dianjurkan bagi penderita penyakit ginjal. Namun, Manaker menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak berlaku untuk orang sehat.
Ilustrasi protein. Dokter olahraga RSPI menjelaskan komposisi karbohidrat, protein, dan cairan yang tepat agar tubuh tetap bertenaga dan tidak mudah lemas selama puasa.
Ginjal yang sehat mampu mengolah limbah metabolisme protein dengan baik. Jadi, asupan protein yang tinggi tidak otomatis membahayakan ginjal, selama kamu tidak memiliki gangguan ginjal atau kondisi lain yang memengaruhi fungsinya.
Jika kamu memiliki diabetes atau penyakit ginjal, konsultasikan dengan tenaga medis untuk menentukan jumlah protein yang tepat.
3. Hanya makanan hewani yang mengandung protein lengkap
Banyak orang percaya hanya daging, telur, atau susu yang memiliki protein lengkap. Faktanya, banyak makanan nabati juga merupakan sumber protein lengkap, seperti:
- Tahu dan tempe
- Edamame
- Quinoa
- Pistachio
Ehsani menegaskan bahwa mengonsumsi beragam sumber protein nabati sepanjang hari juga dapat memenuhi kebutuhan asam amino esensial tubuh.
4. Semakin banyak makan protein, makin besar otot
Protein memang berperan dalam perbaikan otot, tetapi makan protein saja tidak cukup untuk membangun massa otot.

Menurut Manaker, pemicu utama pertumbuhan otot adalah latihan kekuatan seperti angkat beban.
Ehsani menambahkan bahwa faktor lain turut memengaruhi, seperti:
- Asupan kalori yang cukup
- Konsumsi karbohidrat untuk mengisi cadangan energi
- Waktu pemulihan yang memadai
- Kualitas tidur yang cukup
Tanpa latihan dan pemulihan, kelebihan protein hanya akan diolah sebagai energi atau disimpan sebagai lemak.
5. Makan lebih banyak protein akan membuat tubuh lebih ramping
Meski protein memberikan rasa kenyang, mengonsumsinya secara berlebihan tetap bisa menyebabkan penambahan berat badan, kata Ehsani. Tubuh akan menyimpan kelebihan kalori, termasuk yang berasal dari protein, sebagai lemak.
Untuk menurunkan berat badan, keseimbangan pola makan dan gaya hidup jauh lebih penting daripada fokus pada satu jenis nutrisi.
6. Protein powder wajib untuk memenuhi kebutuhan protein
Tidak benar. Manaker menjelaskan bahwa orang yang makan dengan menu seimbang umumnya sudah memenuhi kebutuhan proteinnya tanpa suplemen.
Protein powder hanya bermanfaat untuk kondisi tertentu, seperti:
- Atlet dengan kebutuhan protein tinggi
- Orang dengan nafsu makan rendah
- Mereka yang menjalani diet ketat atau pola makan terbatas
Jika tidak termasuk kelompok tersebut, kamu tidak wajib menambahkan bubuk protein dalam makanan atau minumanmu.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang