Viral Sarden Disebut Bukan Ultra Processed Food, Ini Kata Ahli Gizi UGM
Topik sarden bukan termasuk Ultra Processed Food (UPF) ramai dibahas di media sosial Thread beberapa waktu belakangan.
Hal ini bermula saat pengguna Thread bernama Erwin Setiawan @anakpanganindonesia membuat cuitan bahwa sarden bukanlah jenis UPF.
"Sebagai orang Teknologi Pangan, mau kasih tau kalau ikan sarden (ikan kaleng) bukan ultra process food. Jadi cocok buat stock makaan kamu," tulis Erwin pada Senin (18/5/2026).
Berdasarkan pantauan Kompas.com pada Selasa (19/5/2026) sore, unggahan itu mendapatkan lebih dari 3.200 komentar.
Banyak warganet mengaku baru mengetahui bila sarden bukan termasuk jenis UPF, seperti yang disimpulkan selama ini.
Namun, pandangan berbeda datang dari Ahli Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) Toto Sudargo.
Apakah sarden termasuk UPF?
Sebagai pakar gizi dari UGM, Toto menegaskan bahwa sarden termasuk Ultra Processed Food (UPF)
"Jadi saya luruskan, sarden kalengan itu adalah diproses secara massal, diklasifikasikan sebagai makanan yang ultra food process (UPF)," kata Toto saat dihubungi Kompas.com, Selasa (19/5/2026).
"Pasti tidak benar, tidak benar ya (kalau sarden bukan UPF)," sambung dia.
Ultra Processed Food atau UPF merupakan jenis makanan atau minuman yang melalui serangkaian proses industri, seperti nugget, kornet, buah kalengan, dan sarden.
Toto menjelaskan, sarden termasuk jenis makanan ultra olahan karena melewati berbagai macam tahapan.
Mulai dari manufaktur yang kompleks dengan seleksi Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP) sebelum sampai di tangan konsumen.
"Jadi terukur betul. Baik prosesnya maupun pemasakannya dan pengalengannya, pengemasannya itu terkontrol betul karena ada uji petik sekian ribu kaleng, akan dicek apakah ada bocor, menggembung dan sebagainya, dicek terus," jelas Toto.
Sarden mengandung natrium tinggi
Sama halnya dengan makanan ultra olahan lain, Toto menyarankan agar sarden tidak dikonsumsi terlalu sering.
"Konsumsi sarden itu harus diperhitungkan karena pada bahan makanan yang didesain untuk (bertahan) secara lama, biasanya ada penambahan pengawet buatan," tutur dia.
Belum lagi, sarden mengandung natrium yang cukup tinggi. Konsumsi garam yang terlalu tinggi dapat membuat kerja ginjal semakin berat sehingga bisa memicu risiko tekanan darah tinggi hingga penyakit jantung.
Di sisi lain, sarden memiliki kandungan lemak omega-3 dan protein yang cukup tinggi.
Menurut Toto, kandungan gizi pada sarden tidak lantas menghilang atau berkurang setelah rangkaian proses pengemasan makanan kaleng ini.
"Protein kan stabil. Ada berapa bahan pangan tertentu yang stabil protein, lemak omega-3. itu stabil. Nah, pemanasan yang sifatnya kejut (Heat Shock Protein atau HSP) tuh enggak ada masalah," jelas Toto.
Kapan kita boleh makan sarden?
"Pertanyaannya, apakah orang tidak boleh makan sarden? Tetap boleh saja, tetapi tidak berlebihan, ya," saran Toto.
Ilustrasi sarden kaleng. Ikan sarden masuk dalam daftar makanan laut yang dapat menurunkan berat badan karena tingginya kandungan protein.
Sarden boleh dikonsumsi setidaknya seminggu sekali, selama cara memasak dan mengonsumsinya harus benar.
Saat mengonsumsi sarden, wajib menyiapkan lauk atau sayur pelengkap yang tinggi serat untuk membantu menyeimbangkan asupan gizi.
"Natrium itu akan tereduksi oleh serat sehingga ketika mengonsumsi sarden, sesungguhnya harus ada sayur-sayur yang menyertainya di situ," kata Toto.
anak yang tidak doyan sayur, sebaiknya mengonsumsi sarden maksimal setengah bulan sekali.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang