Menu Sahur yang Gak Bikin Cepat Haus Saat Puasa Menurut Ahli Gizi
Menjaga tubuh tetap bugar selama bulan Ramadhan tidak hanya bergantung pada kuatnya menahan lapar dan haus. Pola makan dengan gizi seimbang serta istirahat yang cukup menjadi kunci utama agar puasa tetap lancar.
Ahli Gizi Universitas Airlangga, Lailatul Muniroh, membagikan sejumlah panduan menu sehat untuk sahur dan berbuka. Menurutnya, pemilihan jenis makanan sangat berpengaruh terhadap daya tahan tubuh selama berpuasa, termasuk mencegah rasa haus berlebihan di siang hari.
Saat sahur, ia menyarankan untuk mengutamakan karbohidrat kompleks seperti nasi merah, beras cokelat, oat, kentang, jagung, ubi jalar, hingga pisang. Karbohidrat kompleks dicerna lebih lambat sehingga energi dilepaskan secara bertahap dan rasa kenyang bertahan lebih lama.
Menu sahur yang tidak mudah membuat haus
Agar puasa tetap nyaman hingga waktu berbuka, ada beberapa menu yang bisa membuat kita tahan lapar dan haus selama seharian berpusa. Makan dan minum yang bergizi utama dalam menjaga agar tubuh tetap fit. berikut pilihan menu sahur yang dianjurkan:
Karbohidrat kompleks
Nasi merah, beras cokelat, oat, kentang, jagung, dan ubi jalar membantu menjaga energi lebih stabil karena dicerna lebih lambat oleh tubuh.
Buah tinggi serat dan air
Buah membantu menjaga hidrasi alami tubuh. Kandungan seratnya juga membuat kenyang lebih lama dan mendukung kesehatan pencernaan. Buah tinggi serat dan air seperti semangka atau melon.
Lauk berprotein secukupnya
Tambahkan sumber protein seperti telur, ayam, ikan, atau tahu dan tempe agar kebutuhan gizi tetap seimbang dan tubuh lebih kuat menjalani puasa.
Cukup cairan
Pastikan minum air putih yang cukup saat sahur untuk membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh sepanjang hari.
Sebaliknya, makanan yang terlalu asin, pedas, atau tinggi gula sebaiknya dibatasi karena dapat memicu rasa haus lebih cepat.
Berbeda dengan sahur, menu berbuka dianjurkan dimulai dengan karbohidrat sederhana. Setelah seharian berpuasa, tubuh membutuhkan energi yang cepat tersedia dalam bentuk glukosa.
Karena itu, makanan atau minuman manis seperti kolak pisang, kurma, atau teh manis dapat menjadi pilihan awal untuk membantu mengembalikan kadar gula darah.
Setelah menunaikan shalat magrib, barulah dianjurkan mengonsumsi makanan utama yang terdiri dari nasi atau pengganti nasi, lauk pauk, sayur, dan buah. Camilan dapat dinikmati setelah tarawih dengan porsi yang tetap terkontrol.
Lailatul menegaskan bahwa sahur dan berbuka sebaiknya tetap dilakukan secara teratur. Secara gastrointestinal atau sistem pencernaan, puasa pada dasarnya hanya mengubah waktu makan, bukan menghilangkan kebutuhan nutrisi tubuh.
Karena itu, pemenuhan gizi seimbang tetap harus diperhatikan agar tubuh tetap kuat dan sehat selama menjalani ibadah puasa.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang