Italia Gagal ke Piala Dunia 2026, Presiden FIGC Gabriele Gravina Didesak Mundur
Kegagalan tim nasional Italia menembus putaran final Piala Dunia 2026 memicu gelombang protes besar di Negeri Pizza.
Publik kini menuntut pertanggungjawaban penuh dari FIGC (Federasi Sepak Bola Italia), terutama kepada sang presiden.
Gabriele Gravina, yang dianggap gagal mengangkat prestasi Gli Azzurri setelah absen dalam tiga edisi turnamen sepak bola terbesar sejagat tersebut secara beruntun.
Tekanan untuk menanggalkan jabatan semakin menguat setelah tim asuhan Gennaro Gattuso dipastikan gagal melewati fase krusial, termasuk momen pahit di playoff Piala Dunia 2026.
Gabriele Gravina sendiri telah menduduki kursi kepemimpinan sejak 22 Oktober 2018, tepat setelah kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia 2018.
Namun, di bawah arahannya, prestasi tim nasional tidak kunjung membaik dengan kegagalan beruntun pada edisi 2022 dan kini Piala Dunia 2026.
Menteri Olahraga Italia, Andrea Abodi, menyuarakan kegelisahan publik dengan menuntut adanya perombakan total di jajaran pimpinan federasi.
Menurutnya, kegagalan ini bukan sekadar hasil di lapangan, melainkan cerminan dari manajemen yang tidak berjalan.
"Sangat jelas bahwa sepak bola Italia butuh dibangun ulang dari bawah ke atas dan itu dimulai dari perubahan di puncak FIGC," ujar Andrea Abodi seperti dikutip dari Football Italia.
Kritik pedas juga datang dari mantan penjaga gawang Emiliano Viviano yang merasa heran karena pimpinan federasi masih bertahan di posisinya.
"Bagaimana bisa Presiden FIGC belum mundur dari jabatannya sekarang?" ujar Emiliano Viviano.
"Kalau saya menjadi dia, saya sudah beremigrasi sekarang," tambah pria kelahiran Fiesole pada 1 Desember 1985 itu.
Sorotan Fabio Capello Terhadap Masalah Struktural
Pelatih legendaris Fabio Capello turut memberikan analisis mendalam mengenai keterpurukan sepak bola Italia.
Bek timnas Italia Alessandro Bastoni (bawah) menerima kartu merah dari wasit asal Prancis, Clement Turpin, pada laga final playoff kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026 zona Eropa antara Bosnia-Herzegovina dan Italia di stadion Bilino-Polje di Zenica pada 31 Maret 2026.
Baginya, pimpinan federasi harus menjadi orang pertama yang memikul beban tanggung jawab atas kemerosotan ini.
"Tidak ada yang mengundurkan diri sampai sekarang dan hal itulah yang paling mengkhawatirkan," timpal Fabio Capello.
"Orang pertama yang harus bertanggung jawab adalah Presiden Federasi beserta seluruh manajemen organisasi.
"Kita perlu mendatangkan ahli, menganalisis apa yang terjadi, dan membuat rekonstruksi akar rumput. Problemnya bukan hanya hasil tetapi struktural," pungkasnya.
Wacana Regulasi Pemain Muda dan Perbandingan dengan Liga Indonesia
Selain desakan mundur, muncul wacana untuk mereformasi Serie A agar lebih memberikan ruang bagi talenta lokal.
Data menunjukkan bahwa saat ini hanya tersedia sekitar 30 persen pemain lokal di kompetisi kasta tertinggi Italia yang bisa dipanggil ke tim nasional.
Kondisi ini membuat beberapa pihak menyarankan Italia untuk belajar dari regulasi yang diterapkan di Liga Indonesia (Super League), di mana setiap klub diwajibkan memainkan pemain U23 sebagai starter dengan durasi minimal 45 menit.
Kini, nama Giovanni Malago muncul sebagai kandidat kuat untuk memimpin revolusi di tubuh federasi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang