Apa Warga Amerika Antusias Nonton Piala Dunia 2026?

Piala Dunia 2026, Apa Warga Amerika Antusias Nonton Piala Dunia 2026?, Piala Dunia belum menjadi pusat perhatian, Los Angeles juga belum sepenuhnya tersihir, Generasi muda mulai tunjukan minat, Suporter Skotlandia heran warga lokal tak sadar ada Piala Dunia, Harga tiket Piala Dunia 2026 menjadi keluhan utama, Nasib sepak bola AS bergantung pada performa tim nasional, Piala Dunia 2026 bisa jadi titik balik?

Piala Dunia 2026 resmi dimulai di Amerika Utara pada Jumat (12/6/2026).

Namun di Amerika Serikat (AS), euforia turnamen sepak bola terbesar di dunia itu ternyata belum sepenuhnya menguasai perhatian publik.

Di New York, ribuan orang turun ke jalan merayakan kemenangan tim basket New York Knicks. Sejumlah suporter bahkan berdiri di atas mobil mereka di jalan-jalan Manhattan.

Sementara di Santa Monica, California, sorak-sorai terdengar dari berbagai bar di sepanjang pantai.

Menariknya, perayaan tersebut bukan untuk pertandingan Piala Dunia 2026.

Sebagaimana dilansir BBC Sport, sorotan publik saat itu justru tertuju pada New York Knicks yang mencatat salah satu comeback paling dramatis dalam sejarah Final NBA saat mengalahkan San Antonio Spurs.

Fenomena tersebut menjadi gambaran nyata mengenai tantangan yang dihadapi sepak bola di Amerika Serikat.

Meski menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026, olahraga tersebut masih harus bersaing dengan dominasi basket dan American football dalam merebut perhatian masyarakat.

Sebuah survei terbaru bahkan menunjukkan sekitar separuh warga Amerika yang disurvei mengaku tidak terlalu peduli terhadap turnamen tersebut.

Piala Dunia belum menjadi pusat perhatian

Ini merupakan kali kedua Amerika Serikat menjadi tuan rumah Piala Dunia pria setelah edisi 1994.

Saat itu, Piala Dunia memberikan dampak besar terhadap perkembangan sepak bola di negara tersebut.

Popularitas olahraga itu meningkat dan menjadi salah satu faktor yang melahirkan kompetisi profesional Major League Soccer (MLS).

Namun lebih dari tiga dekade kemudian, kembalinya Piala Dunia ke AS belum sepenuhnya membangkitkan antusiasme nasional.

BBC Sport melaporkan, di New York memang mulai terlihat berbagai tanda kehadiran turnamen ini. Kereta bawah tanah dihiasi warna-warna tim nasional peserta.

Wajah Lionel Messi terpampang pada papan reklame raksasa di Times Square. Para wisatawan dan penggemar juga terlihat mengenakan jersey berbagai negara seperti Maroko dan Brasil.

MetLife Stadium, yang selama turnamen berganti nama menjadi New York New Jersey Stadium, akan menjadi lokasi delapan pertandingan Piala Dunia.

Meski demikian, perhatian mayoritas warga New York masih tertuju pada Knicks.

Tim basket kebanggaan kota itu unggul 3-1 atas San Antonio Spurs di Final NBA dan berpeluang merebut gelar juara pertama sejak 1973 apabila menang pada Sabtu.

"Kalau Knicks menang, Sabtu malam nanti mungkin akan seperti Gotham City di film Batman," kata seorang penggemar kepada BBC Sport.

Ia mengaku hampir tidak mengikuti perkembangan Piala Dunia.

"Sejujurnya saya tidak terlalu mengikuti apa pun tentang Piala Dunia. Saat ini saya hanya peduli pada Knicks".

Penggemar lain bernama Frank mengaku baru akan memperhatikan Piala Dunia setelah Final NBA selesai.

"Knicks menguasai segalanya sekarang di New York," ujarnya.

Bahkan ada pula warga yang secara jujur mengaku tidak terlalu mengenal sepak bola.

"Saya akan jujur. Saya tidak tahu banyak tentang soccer," katanya.

Los Angeles juga belum sepenuhnya tersihir

Situasi serupa juga terlihat di Los Angeles, kota yang akan menjadi tempat dua pertandingan fase grup tim nasional Amerika Serikat.

Di sejumlah titik kota memang terdapat promosi Piala Dunia. Banner "LA26" menghiasi jalan menuju Bandara Los Angeles. Papan iklan elektronik menampilkan para pemain timnas AS. Sebuah mural besar Lionel Messi juga menghiasi kawasan pusat kota.

Namun bagi masyarakat yang bukan penggemar sepak bola, turnamen ini masih relatif mudah terlewatkan.

Seorang sopir taksi bahkan mengaku terkejut saat mengetahui Piala Dunia akan segera dimulai.

"Ada Piala Dunia? Siapa yang bermain?" tanyanya.

Meski demikian, panitia lokal yakin antusiasme akan meningkat seiring bergulirnya kompetisi.

"Saya pikir ini adalah proses yang berjalan perlahan dan akan berujung pada ledakan antusiasme," kata Larry Freedman, Wakil Ketua Komite Tuan Rumah Piala Dunia Los Angeles.

Menurut dia, warga Los Angeles selama ini lebih fokus pada aktivitas sehari-hari dan berbagai pilihan hiburan olahraga yang tersedia di kota tersebut.

"Tetapi sekarang, menjelang kick-off, orang-orang mulai sangat bersemangat," ujarnya.

Generasi muda mulai tunjukan minat

Meski gaungnya belum merata, sejumlah warga terutama generasi muda mulai menunjukkan ketertarikan terhadap Piala Dunia.

Isaiah, warga Sacramento County, mengaku belum pernah menonton Piala Dunia sebelumnya. Namun tahun ini ia berencana mengikuti turnamen tersebut.

"Saya cukup bersemangat. Saya belum pernah menonton Piala Dunia sebelumnya, tetapi tahun ini saya akan menontonnya," katanya.

Menurut dia, keberadaan turnamen di Los Angeles membuat ajang tersebut terasa lebih dekat.

Senada dengan Isaiah, Husna mengatakan banyak warga Amerika sebenarnya belum memahami apa itu Piala Dunia.

Tetapi penyelenggaraan turnamen di kota besar seperti Los Angeles diyakini akan meningkatkan perhatian masyarakat.

"Karena sekarang ada di LA, orang-orang akan mengetahuinya dan mulai menonton," ujarnya.

Meski demikian, keduanya mengaku tidak mengetahui siapa lawan pertama Amerika Serikat di fase grup.

Di sisi lain, sejumlah anak muda yang diwawancarai BBC menunjukkan antusiasme yang lebih tinggi.

Mahon, misalnya, mengaku sudah menyiapkan acara nonton bareng bersama teman-temannya.

"Kami sangat bersemangat. Kami mencoba mengajak teman-teman yang tidak mengikuti sepak bola untuk mendukung Tim USA," katanya.

Menurut Mahon, popularitas sepak bola di AS kini kemungkinan sudah melampaui baseball. Namun ia meyakini olahraga tersebut masih belum mampu menyaingi American football maupun basket.

orang akan mulai tertarik," ujarnya.

Suporter Skotlandia heran warga lokal tak sadar ada Piala Dunia

Kurangnya gaung Piala Dunia 2026 juga dirasakan para suporter negara peserta.

Skotlandia kembali tampil di Piala Dunia setelah absen selama 28 tahun. Para pendukung mereka mulai berdatangan ke Boston menjelang pertandingan melawan Haiti.

Namun sejumlah suporter mengaku terkejut karena banyak warga lokal tidak menyadari turnamen sedang berlangsung.

"Saya baru saja mengirim surat dan petugas bertanya mengapa saya berada di Amerika. Dia mengira saya sedang berlibur. Padahal saya mengenakan jersey Skotlandia. Dia bahkan tidak tahu Piala Dunia sedang berlangsung," kata seorang anggota Tartan Army, kelompok suporter Skotlandia.

Suporter lain menambahkan bahwa suasana pub sangat menyenangkan, tetapi banyak warga yang tampaknya belum mengetahui adanya Piala Dunia.

Harga tiket Piala Dunia 2026 menjadi keluhan utama

Salah satu persoalan terbesar menjelang turnamen adalah mahalnya harga tiket.

Menjelang laga pembuka Amerika Serikat, tiket pertandingan masih tersedia. Namun harga termurah mencapai 1.120 dollar AS atau sekitar Rp 18 juta.

Bagi banyak keluarga, harga tersebut dianggap terlalu tinggi.

Chris, warga Los Angeles yang memiliki dua anak perempuan pemain sepak bola klub, mengaku sangat antusias menyambut Piala Dunia.

Namun keluarganya memilih menonton dari rumah.

"Harga tiket dan ketersediaannya menjadi masalah tersendiri," katanya.

Hal serupa disampaikan Brennan yang datang bersama istri dan anak-anaknya.

"Kalau lebih terjangkau untuk keluarga, kami pasti akan datang langsung. Tetapi kami tetap akan bersemangat menontonnya dari rumah," ujarnya.

Nasib sepak bola AS bergantung pada performa tim nasional

Sejumlah pengamat menilai keberhasilan tim nasional Amerika Serikat akan menjadi faktor penting dalam meningkatkan perhatian publik.

Semakin jauh perjalanan mereka di turnamen, semakin besar pula kemungkinan munculnya gelombang dukungan nasional.

Tanda-tanda peningkatan minat mulai terlihat. Dalam sesi latihan terbuka timnas AS yang berlangsung selama 30 menit, sebanyak 30.000 orang mendaftarkan diri untuk memperebutkan 5.000 tiket yang tersedia.

Federasi sepak bola AS juga mencoba menjangkau audiens baru melalui pendekatan budaya populer.

Gelandang timnas Malik Tillman, misalnya, tampil di sampul majalah mode dengan mengenakan topi unik menyerupai jamur raksasa.

Bek timnas AS Chris Richards mengaku foto tersebut sempat menjadi bahan candaan di grup percakapan pemain.

Meski demikian, rekan setimnya Mark McKenzie menilai langkah tersebut penting untuk memperluas eksposur sepak bola kepada masyarakat.

"Pada akhirnya ini soal memperluas jangkauan. Saya selalu mendukung cara-cara baru untuk mengekspresikan diri," katanya.

Piala Dunia 2026 bisa jadi titik balik?

Meski atmosfer Piala Dunia 2026 belum sepenuhnya mendominasi Amerika Serikat seperti yang terjadi di banyak negara penggila sepak bola, sejumlah tanda menunjukkan minat publik mulai tumbuh.

Tantangan terbesar tetap datang dari kuatnya budaya olahraga lain seperti NBA dan NFL serta tingginya harga tiket pertandingan.

Tapi jika tim nasional Amerika Serikat mampu melaju jauh dan penyelenggaraan turnamen berjalan sukses, Piala Dunia 2026 berpotensi menciptakan dampak jangka panjang seperti yang pernah terjadi pada edisi 1994.

Saat ini, sepak bola memang belum menjadi olahraga nomor satu di Amerika.

Namun bagi banyak pihak, Piala Dunia 2026 bisa menjadi momentum penting untuk membawa olahraga tersebut ke level popularitas yang lebih tinggi di Negeri Paman Sam.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang