Siapa Juara Piala Dunia 2026? ChatGPT, Claude, Le Chat, dan DeepSeek Punya Jawaban Beda

Piala Dunia 2026, chatbot, chatbot AI, Siapa Juara Piala Dunia 2026? ChatGPT, Claude, Le Chat, dan DeepSeek Punya Jawaban Beda, Dari Paul si Gurita ke chatbot AI, Bank hingga media teknologi ikut menguji AI, Diuji secara ilmiah oleh peneliti Jerman, AI tidak hanya memprediksi juara

Pada Piala Dunia 2010, dunia sepak bola sempat dibuat heboh oleh Paul si Gurita yang terkenal karena kemampuannya menebak hasil pertandingan.

Berselang 16 tahun, fenomena serupa muncul kembali. Bedanya, kali ini bukan hewan laut yang menjadi peramal, melainkan kecerdasan buatan (AI).

Piala Dunia 2026 menjadi turnamen pertama dalam sejarah ketika chatbot AI generatif tersedia secara luas dan digunakan jutaan orang di seluruh dunia.

Tak heran jika banyak penggemar, peneliti, hingga perusahaan mulai memanfaatkan teknologi tersebut untuk memprediksi siapa yang akan mengangkat trofi pada 20 Juli mendatang.

Menariknya, sebagaimana diberitakan AFP, Jumat (12/6/2026), setiap model AI memiliki prediksi yang berbeda.

ChatGPT milik OpenAI dan Claude buatan Anthropic sama-sama menjagokan Spanyol sebagai calon juara dunia.

Sementara chatbot Le Chat dari perusahaan AI Perancis, Mistral, memprediksi tim tuan rumah Eropa, Perancis, akan keluar sebagai pemenang.

Di sisi lain, model AI asal China seperti DeepSeek dan Qwen lebih percaya Argentina mampu mempertahankan dominasinya di sepak bola dunia.

Dari Paul si Gurita ke chatbot AI

Fenomena ini mengingatkan banyak orang pada Paul si Gurita, hewan yang menjadi sensasi global pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

Saat itu, Paul "memilih" pemenang pertandingan dengan memakan makanan dari salah satu kotak yang diberi bendera negara peserta.

Sejumlah prediksinya terbukti akurat dan membuatnya terkenal di seluruh dunia.

Kini, peran tersebut seolah diambil alih oleh chatbot AI.

Ketika Argentina menjuarai Piala Dunia 2022 di Qatar, teknologi AI generatif sebenarnya sudah mulai hadir melalui peluncuran ChatGPT pada 30 November 2022.

Namun saat itu, popularitas teknologi tersebut masih terbatas di kalangan industri teknologi.

Dalam kurun kurang dari empat tahun, situasinya berubah drastis. AI kini digunakan dalam berbagai bidang, termasuk untuk mencoba memprediksi hasil pertandingan sepak bola.

Bank hingga media teknologi ikut menguji AI

Sejumlah lembaga dan perusahaan telah melakukan eksperimen untuk mengetahui seberapa akurat AI dalam meramalkan hasil Piala Dunia.

Analis Bank of America misalnya, menguji Microsoft Copilot dan menemukan bahwa chatbot tersebut menempatkan Spanyol dan Perancis sebagai kandidat terkuat juara.

Pilihan itu ternyata sejalan dengan preferensi sekitar 40 persen penggemar sepak bola yang juga mengunggulkan dua negara tersebut.

Sementara itu, situs teknologi Tom's Guide mengajukan pertanyaan yang sama kepada Gemini milik Google, ChatGPT, dan Perplexity.

Hasilnya cukup konsisten. Ketiga chatbot tersebut menempatkan Spanyol sebagai favorit juara, dengan Perancis berada di posisi kedua.

Media teknologi Decrypt juga melakukan eksperimen serupa. Mereka menemukan chatbot Barat seperti ChatGPT dan Claude lebih banyak memilih Spanyol.

Namun hasil berbeda muncul ketika mereka bertanya kepada model AI asal China. DeepSeek dan Qwen justru menjagokan Argentina sebagai calon juara dunia.

Diuji secara ilmiah oleh peneliti Jerman

Di luar eksperimen yang dilakukan perusahaan dan media, para akademisi juga mulai menguji kemampuan AI secara lebih serius.

Tim peneliti dari Universitas Ludwig Maximilian (LMU) di Munich, Jerman, meluncurkan proyek bernama LLM SoccerArena yang memantau dan membandingkan akurasi berbagai model AI dalam memprediksi pertandingan Piala Dunia.

Menurut peneliti manajemen LMU, Stefan Feuerriegel, proyek tersebut bertujuan mengetahui apakah model bahasa besar atau large language models (LLM) benar-benar mampu membantu proses pengambilan keputusan di dunia nyata.

"Pertanyaan mengenai apakah model bahasa dapat secara andal mendukung situasi pengambilan keputusan nyata sangat penting," kata Feuerriegel.

Ia menambahkan bahwa pengujian semacam ini penting karena AI tidak hanya menghadapi tugas teoritis, tetapi juga harus mengolah informasi yang terus berubah, ketidakpastian, serta hasil yang nantinya dapat diverifikasi.

Dalam penelitian tersebut, AI diuji menggunakan dua pendekatan.

Pertama, berdasarkan pengetahuan yang sudah dimiliki model secara internal.

Kedua, dengan memberikan akses terhadap informasi terbaru dari internet, termasuk kondisi cedera pemain, susunan tim, hingga data pasar taruhan.

Para peneliti kemudian membandingkan hasil prediksi tersebut dengan hasil pertandingan sebenarnya.

AI tidak hanya memprediksi juara

Peran AI dalam Piala Dunia ternyata tidak berhenti pada urusan prediksi.

Peneliti dari University of the Sunshine Coast, Australia, dalam tulisan mereka di The Conversation menjelaskan bahwa teknologi AI kini mulai digunakan dalam berbagai aspek penyelenggaraan sepak bola modern.

Pelatih memanfaatkan AI untuk menganalisis taktik lawan dan performa pemain. Tim medis menggunakannya untuk memantau kondisi fisik atlet dan meminimalkan risiko cedera.

Di sisi lain, teknologi serupa juga membantu wasit dalam proses pengambilan keputusan selama pertandingan.

Bahkan, para peneliti mencatat bahwa AI juga mulai dimanfaatkan oleh pelaku penipuan tiket untuk menjalankan modus yang lebih canggih.

"Kita mungkin belum melihat agen AI mencetak gol atau pelatih robot mengambil keputusan di pinggir lapangan, setidaknya untuk saat ini," tulis para peneliti.

"Namun tidak diragukan lagi bahwa tim yang nantinya menjuarai turnamen akan mengandalkan AI sepanjang perjalanan mereka".

Dengan semakin besarnya pengaruh kecerdasan buatan dalam dunia olahraga, Piala Dunia 2026 bukan hanya menjadi panggung persaingan antarnegara, tetapi juga arena pembuktian kemampuan berbagai model AI dalam membaca masa depan sepak bola.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang