Piala Dunia 2026 Dimulai, Timnas Belanda Diprediksi Jadi Juara

Virgil van Dijk di Timnas Belanda
Virgil van Dijk di Timnas Belanda

 Piala Dunia 2026 akhirnya tiba. Genderang perang sepak bola terbesar di planet ini resmi ditabuh saat tuan rumah Meksiko menghadapi Afrika Selatan pada laga pembuka di Estadio Azteca, Jumat 12 Juni 2026 WIB.

Turnamen kali ini akan menjadi edisi paling bersejarah sepanjang masa. Untuk pertama kalinya, Piala Dunia digelar di tiga negara sekaligus, yakni Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Tak hanya itu, jumlah peserta juga bertambah menjadi 48 tim, membuka peluang lahirnya kejutan-kejutan besar.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di tengah dominasi negara-negara raksasa seperti Brasil, Argentina, Prancis, Jerman, hingga Spanyol, muncul keyakinan bahwa Piala Dunia 2026 bisa menjadi panggung lahirnya kekuatan baru.

Pandangan itu disampaikan Dewan Pembina Garudayaksa FC Academy, Fary Djemy Francis. Menurutnya, sepak bola dunia kini telah memasuki era baru, di mana nama besar tidak lagi menjadi jaminan sukses.

Perkembangan sport science, teknologi analisis data, metode pelatihan modern, serta globalisasi kompetisi telah membuat jarak kualitas antarnegara semakin tipis.

"Kini keberhasilan tidak lagi ditentukan semata-mata oleh reputasi atau sejarah. Yang lebih penting adalah kualitas sistem, kedalaman skuad, dan kemampuan beradaptasi," ujar Fary.

Dewan Pembina Garudayaksa, Fary Djemy Francis

Dalam pandangannya, ada dua negara yang berpotensi mengguncang peta persaingan Piala Dunia 2026, yakni Belanda dan Jepang.

Belanda dinilai memiliki semua modal untuk melangkah jauh. Negeri Kincir Angin itu tetap memiliki fondasi sepak bola yang kuat, filosofi permainan yang jelas, serta tradisi panjang melahirkan pemain-pemain kelas dunia.

Menariknya, Belanda justru sering tampil berbahaya ketika tidak terlalu dibebani status favorit.

"Dengan kombinasi pemain senior dan generasi muda yang berkembang di kompetisi elite Eropa, Belanda bisa menjadi penantang diam-diam yang perlahan menyingkirkan para unggulan," kata Fary.

Sementara itu, Jepang disebut sebagai representasi masa depan sepak bola modern.

Berbeda dengan banyak negara lain yang bertumpu pada individu-individu berbakat, Jepang berkembang melalui kekuatan sistem. Mereka mengandalkan disiplin kolektif, pembinaan usia muda yang terstruktur, investasi jangka panjang, dan budaya kerja yang kuat.

Hasilnya mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Samurai Biru berulang kali mampu merepotkan bahkan mengalahkan tim-tim elite dunia.

"Jika Belanda mewakili evolusi kekuatan tradisional Eropa, maka Jepang adalah simbol masa depan sepak bola global yang dibangun melalui sistem," ujarnya.

Menurut Fary, batas antara tim unggulan dan tim nonunggulan kini semakin tipis. Karena itu, Piala Dunia 2026 bukan hanya soal perebutan trofi, tetapi juga pertarungan antara tradisi dan inovasi.

Jika negara-negara besar gagal beradaptasi dengan perubahan zaman, peluang munculnya juara kejutan akan semakin terbuka.

Meski tetap menempatkan Spanyol dan Prancis sebagai kandidat terkuat, Fary memiliki prediksi yang cukup berani.

Ia melihat Belanda berpotensi mengakhiri penantian panjang mereka dan meraih gelar juara dunia pertama dalam sejarah.

"Jika terjadi kejutan besar, Belanda memiliki peluang menjadi juara baru dari Eropa Barat di era modern," katanya.

Tak hanya itu, Fary juga meyakini Jepang mampu mencetak sejarah yang belum pernah terjadi sebelumnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Jepang berpotensi menjadi negara Asia pertama yang mengangkat trofi Piala Dunia," lanjutnya.

Jika skenario tersebut benar-benar terjadi, Piala Dunia 2026 akan dikenang sebagai titik balik sepak bola dunia. Bukan lagi tentang dominasi nama-nama besar, melainkan kemenangan sistem, inovasi, dan kemampuan bertransformasi di tengah persaingan yang semakin ketat.