Kisah 3 Anak Pengungsi Afrika yang Kini Perkuat Australia di Piala Dunia 2026

Mohamed Toure, Nestory Irankunda, Awer Mabil, Kisah 3 Anak Pengungsi Afrika yang Kini Perkuat Australia di Piala Dunia 2026, Dari pengungsian menuju panggung dunia, Sahabat seperjuangan, Mabil dan perjalanan panjang dari perang saudara Sudan, Wajah baru sepak bola Australia, Adelaide, pabrik talenta tersembunyi, Jadi simbol keberhasilan masyarakat multikultural

Di balik skuad Australia yang bersiap menghadapi Turkiye pada laga perdana Piala Dunia 2026, terdapat kisah perjuangan yang melampaui sepak bola.

Tiga pemain lini depan Socceroos, Mohamed Toure, Nestory Irankunda, dan Awer Mabil, memiliki latar belakang yang sama.

Mereka adalah anak-anak pengungsi yang lahir atau tumbuh di kamp pengungsian setelah keluarga mereka melarikan diri dari konflik di Afrika.

Kini, mereka tidak hanya menjadi simbol keberagaman Australia modern, melainkan juga harapan utama tim untuk mencetak gol dan membawa Socceroos melangkah jauh di turnamen terbesar sepak bola dunia tersebut.

Pelatih Tony Popovic menaruh kepercayaan besar kepada Mohamed Toure dan Nestory Irankunda, dua penyerang muda yang berpeluang mencatat menit bermain pertama mereka di Piala Dunia saat menghadapi Turkiye pada Minggu (14/6/2026).

Sementara itu, Awer Mabil yang berusia 30 tahun hadir sebagai sosok senior dan mentor bagi kedua pemain muda tersebut pada penampilan keduanya di ajang Piala Dunia.

Dari pengungsian menuju panggung dunia

Ketiga pemain itu tumbuh melalui jalur yang hampir serupa.

Mereka merupakan anak-anak pencari suaka yang kemudian berkembang melalui sistem sepak bola Australia, khususnya di Adelaide, ibu kota Negara Bagian Australia Selatan yang selama ini tidak terlalu dikenal sebagai pusat penghasil talenta sepak bola.

Mohamed Toure, yang kini berusia 22 tahun, lahir di kamp pengungsi di Guinea setelah kedua orangtuanya melarikan diri dari perang di Liberia.

Bagi Toure, membela Australia di Piala Dunia memiliki makna yang sangat mendalam.

"Itu adalah negara yang memberi kami kesempatan untuk hidup," kata Toure, sebagaimana dilansir Reuters.

"Saya pikir Piala Dunia adalah cara terbaik untuk membalasnya dan melakukan apa yang saya cintai di level tertinggi," tambahnya.

Meski baru mengoleksi 10 penampilan bersama tim nasional, Toure telah menjelma menjadi pilihan utama Popovic di lini depan.

Penampilannya bersama Norwich City di Divisi Championship Inggris menjadi alasan utama.

Ia mencetak sembilan gol hanya dalam 11 pertandingan sejak bergabung dengan klub tersebut.

Sahabat seperjuangan

Toure memiliki hubungan dekat dengan Nestory Irankunda.

Pemain berusia 20 tahun itu lahir di kamp pengungsi di Tanzania dari orangtua asal Burundi yang melarikan diri dari konflik di negara mereka.

Karier Irankunda sempat menjadi sorotan ketika direkrut Bayern Muenchen pada 2024. Namun perjalanan di Jerman tidak berjalan sesuai harapan.

Meski demikian, kariernya kembali berkembang setelah bermain bersama Watford di kasta kedua Liga Inggris.

Bersama tim nasional Australia, Irankunda telah menjadi favorit suporter berkat energinya di lapangan dan selebrasi gol yang ekspresif. Hingga kini ia telah tampil dalam 15 pertandingan internasional.

Mabil dan perjalanan panjang dari perang saudara Sudan

Sementara itu, Awer Mabil memiliki kisah yang tak kalah mengharukan.

Ia pertama kali mengenal sepak bola saat bermain bersama anak-anak lain di sebuah kamp pengungsi di Kenya.

Keluarganya terpaksa meninggalkan Sudan akibat perang saudara dan tinggal di kamp tersebut hingga Mabil berusia 10 tahun sebelum akhirnya menetap di Australia.

Mabil sempat tidak masuk dalam rencana Tony Popovic ketika pelatih tersebut mengambil alih tim nasional.

Namun performa apiknya bersama Castellon di Divisi Segunda Spanyol membuatnya kembali dipanggil pada Maret lalu setelah hampir dua tahun absen dari timnas.

Pemain yang telah mengoleksi 38 caps itu mengaku penampilan di Piala Dunia kali ini terasa lebih istimewa.

"Saya sempat merasakan pengalaman Piala Dunia sebelumnya, tetapi kali ini terasa lebih berarti karena beberapa tahun terakhir tidak mudah bagi saya," ujar Mabil.

Wajah baru sepak bola Australia

Keberadaan Toure, Irankunda, dan Mabil mencerminkan perubahan besar dalam komposisi tim nasional Australia.

Jika dahulu Socceroos didominasi pemain keturunan Eropa, kini skuad mereka semakin beragam.

Sebanyak enam pemain berdarah Afrika masuk dalam skuad Piala Dunia 2026, atau hampir seperempat dari total pemain yang dibawa ke Amerika Utara.

Jumlah tersebut meningkat dua kali lipat dibandingkan skuad Australia di Piala Dunia 2022 di Qatar.

Empat dari enam pemain tersebut tumbuh dan bermain di Adelaide.

Selain tiga nama tadi, ada pula penyerang jangkung Tete Yengi yang bermain di Jepang.

Yengi mencetak gol pada debutnya saat Australia bermain imbang 1-1 melawan Swiss dalam laga pemanasan menjelang Piala Dunia.

Pemain berdarah Sudan Selatan itu memiliki hubungan dekat dengan Irankunda karena pernah sama-sama membela Adelaide United.

Adelaide, pabrik talenta tersembunyi

Adelaide mungkin bukan kota yang identik dengan sepak bola Australia, tetapi kota tersebut kini menjadi salah satu pusat perkembangan pemain berdarah Afrika.

Klub Adelaide United memiliki hubungan yang erat dengan komunitas Afrika di kota itu dan dikenal berani memberikan kesempatan kepada pemain muda.

Irankunda misalnya, menjalani debut profesionalnya saat baru berusia 15 tahun.

Pelatih tim muda Adelaide yang juga berdarah Sudan Selatan, Deng Akoy, menilai pendekatan tersebut menjadi alasan munculnya banyak talenta baru.

"Itulah mengapa kami terus menghasilkan permata-permata tersembunyi," kata Akoy.

Jadi simbol keberhasilan masyarakat multikultural

Di tengah meningkatnya perdebatan soal imigrasi di Australia, kisah para pemain ini memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar sepak bola.

Australia masih menerima ribuan pengungsi setiap tahun, tetapi isu imigrasi kerap menjadi bahan perdebatan politik.

Sejumlah politisi populis bahkan menyalahkan imigrasi atas berbagai persoalan sosial, termasuk tingginya harga perumahan.

Menurut Akoy, Piala Dunia memberikan kesempatan bagi para pemain seperti Toure dan Irankunda untuk menunjukkan sisi lain dari cerita tersebut.

Mereka dapat menjadi bukti keberhasilan masyarakat multikultural Australia.

"Sepak bola Australia mencerminkan Australia modern. Itu adalah sesuatu yang seharusnya kita rayakan bersama," ungkap Akoy.

Di Piala Dunia 2026, Toure, Irankunda, dan Mabil memang diharapkan mencetak gol untuk Australia.

Tetapi lebih dari itu, mereka juga membawa kisah tentang perjuangan, kesempatan kedua, dan keberagaman yang membentuk wajah baru Socceroos di panggung dunia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang