Infantino Buka Suara usai Tiket Final Piala Dunia Rp1,3 Miliar Tuai Kecaman

Presiden FIFA Gianni Infantino
Presiden FIFA Gianni Infantino

 Harga tiket Piala Dunia 2026 yang menembus Rp1,3 miliar untuk laga final menuai gelombang kritik dari publik. Namun Presiden FIFA Gianni Infantino tampaknya tidak terlalu ambil pusing dengan kontroversi tersebut.

Menjelang kick-off Piala Dunia 2026, Infantino justru membela kebijakan harga tiket yang dianggap selangit oleh banyak pencinta sepak bola.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam konferensi pers sehari sebelum turnamen dimulai, pria asal Swiss itu menegaskan bahwa FIFA tidak melakukan kesalahan dalam menentukan harga tiket pertandingan.

"Jika kami dianggap salah karena menetapkan harga tiket seperti ini, mungkin semua orang yang menjual tiket di Amerika Utara juga melakukan kesalahan," kata Infantino seperti dikutip dari PBS.

Sorotan memang tertuju pada harga tiket final Piala Dunia 2026 yang dianggap jauh dari jangkauan mayoritas suporter.

Untuk pertandingan fase grup, tiket termurah dibanderol mulai US$140 atau sekitar Rp2,5 juta. Namun angka tersebut melonjak drastis untuk partai puncak.

FIFA menjual tiket final dengan harga mulai dari US$8.680 atau sekitar Rp156 juta untuk kategori reguler. Sementara kursi premium kelas tertinggi atau VVIP dibanderol hingga US$73.200 atau setara Rp1,3 miliar.

Harga fantastis itu memicu kritik tajam dari berbagai kalangan. Banyak yang menilai Piala Dunia semakin sulit diakses oleh suporter biasa dan lebih mengutamakan kalangan elite.

Meski demikian, FIFA mengklaim tetap memberikan akses bagi para pendukung tim peserta. Setelah mendapat banyak sorotan, badan sepak bola dunia itu menyediakan kategori khusus dengan harga mulai US$60 atau sekitar Rp1 juta.

Menurut Infantino, hingga kini sekitar 130 ribu tiket telah terjual melalui skema tersebut.

Ia juga beralasan bahwa menjual tiket terlalu murah justru membuka peluang bagi praktik calo dan pasar gelap.

"Kalau kami menjual tiket dengan harga lebih rendah, maka tiket itu akan dijual kembali dengan harga yang jauh lebih tinggi di pasar sekunder," ujarnya.

"Lalu ke mana uangnya pergi? Bukan ke sepak bola, melainkan ke para pelaku jual-beli tiket di pasar gelap," tambah Infantino.

Tak hanya soal harga tiket, FIFA juga menghadapi tekanan hukum terkait kebijakan penjualan tiket Piala Dunia 2026. Beberapa jaksa agung dari negara bagian California, New Jersey, New York, dan Texas diketahui melakukan penyelidikan terkait persoalan tersebut.

Namun Infantino mengaku tidak khawatir.

Menurutnya, FIFA sudah melakukan kajian hukum secara menyeluruh sebelum memasarkan jutaan tiket untuk turnamen terbesar di dunia itu.

"Kami sangat tenang menghadapi penyelidikan tersebut karena sebelum menjual 6,5 hingga 7 juta tiket, semuanya sudah diperiksa oleh tim pengacara terbaik," tegasnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Piala Dunia 2026 resmi bergulir mulai pekan ini dengan format baru yang melibatkan 48 negara peserta. Turnamen yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko itu diprediksi menjadi edisi terbesar sepanjang sejarah.

Namun sebelum bola pertama ditendang, kontroversi soal harga tiket sudah lebih dulu menjadi bahan perdebatan di kalangan penggemar sepak bola dunia.