Piala Dunia 2026: Merayakan Keberagaman di Tengah Dunia yang Terbelah
DI TENGAH dunia yang semakin terbelah oleh perang, rivalitas geopolitik, dan menguatnya sentimen identitas, Piala Dunia 2026 resmi dimulai di Stadion Azteca, Mexico City, Meksiko, pada 11 Juni 2026 waktu setempat.
Stadion legendaris yang pernah menjadi saksi kejayaan sepak bola dunia itu kembali menjadi panggung sejarah, kali ini untuk membuka turnamen terbesar dalam sejarah Piala Dunia.
Melalui lagu Dai Dai yang dibawakan Shakira dan Burna Boy, salah satu lagu resmi Piala Dunia 2026, penyelenggara mengajak masyarakat dunia untuk bergerak, bersemangat, dan memberikan dukungan kepada tim masing-masing.
Menariknya, istilah Dai Dai berasal dari bahasa Italia yang berarti "ayo", "semangat", atau "come on".
Sebuah ironi tersendiri karena Italia justru gagal lolos ke putaran final Piala Dunia 2026.
Namun, makna pembukaan turnamen ini jauh melampaui sepak bola.
Di tengah dunia yang kerap dipenuhi sekat dan ketegangan, Piala Dunia menawarkan ruang perjumpaan yang langka: sebuah panggung global tempat keberagaman tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai kekuatan.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Piala Dunia diselenggarakan oleh tiga negara sekaligus, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Sebelumnya, model tuan rumah bersama baru pernah diterapkan pada Piala Dunia 2002 yang digelar oleh Jepang dan Korea Selatan.
Karena itu, Piala Dunia 2026 menandai babak baru dalam tata kelola olahraga global, sekaligus menunjukkan bahwa kerja sama lintas batas tetap memungkinkan di tengah dunia yang semakin diwarnai persaingan geopolitik dan kecenderungan fragmentasi internasional.
Keputusan tersebut bukan sekadar persoalan teknis penyelenggaraan.
Di baliknya terdapat pesan simbolik bahwa negara-negara dengan kepentingan, karakter, dan tantangan yang berbeda tetap dapat berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama.
Dalam konteks dunia yang semakin terpolarisasi, pesan semacam ini memiliki makna yang jauh melampaui sepak bola itu sendiri.
Makna tersebut menjadi semakin relevan karena dunia saat ini sedang menghadapi situasi yang tidak sederhana.
Konflik di Timur Tengah terus menyisakan ketidakpastian. Persaingan strategis antara Amerika Serikat dan Tiongkok semakin intensif.
Ukraina belum sepenuhnya berakhir. Berbagai kawasan juga menghadapi persoalan migrasi, ketahanan pangan, keamanan energi, hingga dampak perubahan iklim.
Ironisnya, Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah turnamen ini juga merupakan salah satu aktor utama dalam berbagai dinamika geopolitik global tersebut.
Karena itu, pembukaan Piala Dunia yang menampilkan semangat keberagaman dan kebersamaan terasa seperti sebuah oase di tengah padang pasir ketegangan internasional.
Dari perspektif Hubungan Internasional, olahraga bukan sekadar hiburan.
Ia merupakan bagian dari instrumen soft power, yaitu kemampuan memengaruhi pihak lain melalui daya tarik budaya, nilai-nilai, dan citra positif.
Konsep yang diperkenalkan Joseph Nye ini menjelaskan mengapa olahraga sering kali memiliki dampak politik yang jauh melampaui lapangan pertandingan.
Jika perang merupakan bentuk kompetisi yang menggunakan kekuatan, maka olahraga adalah kompetisi yang menggunakan aturan.
Jika konflik sering melahirkan permusuhan, maka olahraga mengajarkan penghormatan terhadap lawan.
Karena itu, olahraga kerap menjadi sarana diplomasi yang efektif untuk membangun komunikasi dan memperkuat hubungan antarbangsa.
Sejarah mencatat sejumlah contoh menarik. Dunia mengenal Diplomasi Pingpong yang membantu membuka jalan normalisasi hubungan Amerika Serikat dan Tiongkok pada awal 1970-an.
Olimpiade dan berbagai ajang olahraga internasional lainnya juga sering menjadi ruang perjumpaan ketika hubungan politik antarnegara mengalami ketegangan.
Piala Dunia 2026 melanjutkan tradisi tersebut dalam skala yang jauh lebih besar. Sebanyak 48 negara dari berbagai penjuru dunia akan bertanding selama satu bulan ke depan.
Mereka datang dari latar belakang budaya, agama, bahasa, dan sistem politik yang berbeda.
Sebagian bahkan berasal dari negara-negara yang dalam kehidupan politik internasional sering kali berada pada posisi yang berseberangan.
Namun ketika peluit pertandingan dibunyikan, berbagai perbedaan tersebut seakan dikesampingkan.
Yang menjadi fokus adalah permainan, kerja keras, sportivitas, dan harapan untuk meraih kemenangan secara terhormat.
Dalam perspektif liberalisme, kondisi ini menunjukkan bahwa kerja sama tetap mungkin dilakukan meskipun negara-negara memiliki kepentingan yang berbeda. Interdependensi dan tujuan bersama sering kali mampu mengatasi berbagai perbedaan yang ada.
Piala Dunia menjadi contoh bagaimana negara-negara dapat berinteraksi dalam aturan yang disepakati bersama demi mencapai tujuan kolektif.
Sementara itu, dari perspektif konstruktivisme, Piala Dunia berperan dalam membangun norma dan identitas global.
Jutaan orang yang mendukung tim favoritnya sesungguhnya sedang membentuk sebuah komunitas internasional yang melampaui batas-batas negara.
Ketika seorang warga Indonesia bersorak untuk Argentina, Jepang, Maroko, atau Brasil, ia menunjukkan bahwa identitas global dapat hidup berdampingan dengan identitas nasional.
Dalam konteks itulah, semangat keberagaman dan kebersamaan yang ditampilkan melalui berbagai pertunjukan seni dan budaya pada pembukaan Piala Dunia 2026 menjadi sangat penting.
Dunia saat ini tidak kekurangan teknologi, sumber daya, maupun kemampuan ekonomi. Yang sering kali kurang justru kemauan untuk saling memahami dan bekerja sama.
Sepak bola tentu tidak dapat menghentikan perang atau menyelesaikan seluruh konflik internasional.
Piala Dunia juga tidak akan menghapus perbedaan kepentingan antarnegara.
Namun setidaknya, ajang ini mengingatkan bahwa perbedaan tidak selalu harus berakhir pada permusuhan.
Keberagaman dapat menjadi sumber kekuatan. Perbedaan dapat menjadi modal untuk saling belajar. Kompetisi dapat berlangsung tanpa kebencian. Dan kebersamaan dapat dibangun tanpa harus menghilangkan identitas masing-masing.
Pesan itulah yang tampaknya ingin disampaikan melalui Dai Dai yang menggema di Stadion Azteca pada malam pembukaan.
Sebuah ajakan untuk terus bergerak maju, membangun kerja sama, dan merawat harapan akan dunia yang lebih damai.
Ketika dunia tampak semakin terpolarisasi, Piala Dunia 2026 mengingatkan kita bahwa masih ada ruang untuk bertemu, berbicara, bekerja sama, dan merayakan kemanusiaan bersama.
Pada akhirnya, di situlah letak kemenangan terbesar sepak bola. Bukan pada trofi yang akan diangkat di akhir turnamen, melainkan pada kemampuannya mempertemukan keberagaman dan meneguhkan kebersamaan dalam satu panggung dunia yang damai.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang