Piala Dunia dan Sisi Gelapnya: dari Skandal hingga Keputusan Kontroversial

Trofi Piala Dunia
Trofi Piala Dunia

 Piala Dunia merupakan ajang sepak bola paling bergengsi di dunia. Turnamen yang digelar setiap empat tahun sekali ini selalu menghadirkan drama, momen bersejarah, dan kisah inspiratif yang dikenang sepanjang masa.

Opening Ceremony Piala Dunia 2026

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Namun di balik kemegahan trofi dan pesta sepak bola global, Piala Dunia juga memiliki sisi gelap yang tak pernah benar-benar hilang. Mulai dari keputusan wasit yang kontroversial, dugaan korupsi dalam pemilihan tuan rumah, hingga perdebatan soal politik dan hak asasi manusia, berbagai kontroversi kerap membayangi turnamen terbesar FIFA tersebut.

Berikut VIVA rangkum Sabtu, 13 Juni 2026, piala dunia dan sisi gelapnya, mulai dari skandal hingga kontroversial.

1. "Tangan Tuhan" yang Masih Diperdebatkan

Salah satu kontroversi paling terkenal dalam sejarah Piala Dunia terjadi pada edisi 1986 saat Argentina menghadapi Inggris di perempat final.

Diego Maradona mencetak gol menggunakan tangannya dalam insiden yang kemudian dikenal sebagai "Hand of God" atau "Tangan Tuhan". Karena tidak terlihat oleh wasit, gol tersebut tetap disahkan dan membantu Argentina melaju hingga akhirnya menjadi juara dunia. Hingga kini, momen tersebut masih menjadi salah satu keputusan paling kontroversial dalam sejarah sepak bola.

2. Gol Frank Lampard yang Tidak Diakui

Piala Dunia 2010 juga menghadirkan kontroversi besar ketika Inggris menghadapi Jerman.

Tendangan Frank Lampard yang jelas-jelas telah melewati garis gawang tidak dianggap sebagai gol oleh wasit. Kejadian tersebut memicu kritik besar terhadap FIFA dan menjadi salah satu alasan utama percepatan penggunaan teknologi garis gawang dalam sepak bola modern.

3. Piala Dunia 2002 yang Terus Menjadi Perdebatan

Timnas Slovenia di Piala Dunia 2002

Timnas Slovenia di Piala Dunia 2002

Jika berbicara tentang turnamen paling kontroversial, banyak penggemar sepak bola langsung mengingat Piala Dunia 2002 di Korea Selatan dan Jepang.

Perjalanan Korea Selatan hingga semifinal dianggap bersejarah karena menjadi pencapaian terbaik tim Asia dalam sejarah Piala Dunia. Namun sejumlah keputusan wasit saat menghadapi Italia dan Spanyol memicu perdebatan yang masih berlangsung hingga sekarang. Beberapa gol dianulir, kartu merah diberikan dalam situasi yang dipertanyakan, dan banyak pihak menilai keputusan-keputusan tersebut menguntungkan tuan rumah.

Pertandingan melawan Italia bahkan masih sering disebut sebagai salah satu laga paling kontroversial dalam sejarah Piala Dunia. Wasit Byron Moreno menjadi sosok yang terus dikaitkan dengan kontroversi tersebut.

Meski demikian, hingga kini tidak pernah ada bukti resmi yang membuktikan adanya pengaturan pertandingan. Perdebatan lebih banyak hidup di kalangan penggemar dan media sepak bola.

4. Skandal Pemilihan Tuan Rumah Qatar 2022

Kontroversi lain yang mengguncang dunia sepak bola terjadi jauh sebelum bola pertama ditendang di Piala Dunia 2022.

Pemilihan Qatar sebagai tuan rumah memicu berbagai tuduhan terkait proses bidding atau pencalonan tuan rumah. Sejumlah laporan dan investigasi menyoroti dugaan praktik korupsi serta lobi yang tidak semestinya dalam proses pemungutan suara FIFA. Beberapa sponsor besar FIFA bahkan pernah meminta penyelidikan lebih lanjut terkait tuduhan tersebut.

Di luar isu pemilihan tuan rumah, Qatar 2022 juga menuai sorotan mengenai hak pekerja migran, kondisi kerja pembangunan stadion, serta berbagai isu hak asasi manusia yang menjadi perbincangan global menjelang turnamen.

5. Ketika Politik Masuk ke Lapangan

Piala Dunia sering disebut sebagai ajang olahraga, tetapi kenyataannya politik kerap ikut hadir.

Pada Piala Dunia 2022, perdebatan mengenai ban kapten "OneLove" menjadi salah satu isu terbesar. Sejumlah tim Eropa berencana mengenakan simbol dukungan terhadap inklusivitas, tetapi FIFA mengancam sanksi kepada pemain yang tetap melakukannya. Keputusan tersebut memicu perdebatan panjang tentang batas antara olahraga, kebebasan berekspresi, dan regulasi turnamen.

6. Teknologi Tidak Menghilangkan Kontroversi

Teknologi VAR saat digunakan di Piala Konfederasi

Teknologi VAR saat digunakan di Piala Konfederasi

Masuknya VAR (Video Assistant Referee) dan teknologi garis gawang sebenarnya bertujuan mengurangi kesalahan manusia.

Namun teknologi ternyata tidak sepenuhnya menghilangkan kontroversi. Banyak keputusan VAR dalam Piala Dunia 2018, 2022, hingga 2026 masih memicu perdebatan karena interpretasi aturan tetap berada di tangan wasit. Hal ini menunjukkan bahwa sepak bola selalu memiliki ruang untuk perbedaan pendapat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Meski kontroversi sering menciptakan luka bagi sebagian tim dan pendukung, sisi gelap tersebut juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah Piala Dunia.

Dari gol "Tangan Tuhan" Maradona, drama Korea Selatan 2002, hingga polemik Qatar 2022, berbagai kontroversi telah membentuk narasi yang membuat Piala Dunia terus dikenang dari generasi ke generasi.