Rute Kirab Tumpeng Sewu Malam Selikuran Keraton Solo, dari Sitihinggil ke Sriwedari

Malam Selikuran, Solo, Rute Kirab Tumpeng Sewu Malam Selikuran Keraton Solo, dari Sitihinggil ke Sriwedari

Kirab Tumpeng Sewu yang menjadi bagian dari upacara adat Malam Selikuran akan digelar pada hari ini, Senin (9/3/2026) malam. 

Pengageng Parentah PB XIV Purboyo, KGPHAP Dipokusumo mengatakan, rute kirab Malam Selikuran ini sudah ditentukan. 

Kirab akan dimulai dari Bangsal Sewoyono Sitihinggil, berlanjut ke Pagelaran Sasana Sumewo.

Setelah itu iring-iringan akan menuju Gladag, kemudian belok ke barat hingga ke Taman Sriwedari.

“Diawali doa bersama di Bangsal Sewoyono Sitihinggil kemudian ke Pagelaran Sasana Sumewo menuju Gladag, ke kiri ke barat sampai ke Sriwedari yang nanti akan diadakan serah terima dari utusan dalem ke Wali Kota Mas Respati Ardi,” tutur KGPHAP Dipokusumo, dilansir dari Tribun, Minggu (8/3/2026). 

Tumpeng yang dibawa dalam kirab tersebut nantinya akan dibagikan kepada masyarakat luas yang hadir.

Tradisi ini digelar untuk memperingati Lailatul Qadr yang dipercaya lebih mulia dari malam 1.000 bulan.

“Simbolis di dalam budaya Jawa hajat dalem itu Tumpeng Sewu, malam seribu bulan. Dibagikan kepada masyarakat yang hadir di Sriwedari tersebut,” jelas KGPHAP Dipokusumo.

Mengenal Malam Selikuran

Dilansir dari (20/3/2025), Malam Selikuran adalah salah satu tradisi khas masyarakat Jawa yang berlangsung pada malam ke-21 di bulan Ramadhan.

Secara bahasa, "Selikuran" adalah bahasa Jawa yang berarti 21, menandai dimulainya 10 hari terakhir bulan suci Ramadhan.

Dosen Sosiologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo Drajat Tri Kartono menjelaskan, Malam Selikuran merujuk pada malam ke-21 di bulan Ramadhan.

Dalam agama Islam, Ramadhan yang dilaksanakan selama 30 hari dibagi menjadi 3 bagian, yaitu bagian hari ke-1 sampai 10, hari ke-11 sampai 20, dan hari ke-21-30 atau Lebaran.

Dari pembagian waktu tersebut, malam ke-21 hingga ke-30 dianggap sebagai bagian yang sangat penting.

"Terutama pada malam-malam ganjil karena bertepatan dengan malam-malam yang diyakini sebagai waktu turunnya Lailatul Qadar," terangnya.

Bagi umat Islam, malam Lailatul Qadar adalah malam istimewa dengan nilai pahala yang lebih baik daripada 1.000 bulan ibadah.

Karena itulah, malam Lailatul Qadar yang diyakini jatuh pada malam-malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadhan menjadi momen bagi Muslim untuk lebih fokus beribadah.

"Karena besarnya pahala yang dijanjikan, masyarakat kemudian menandai masuknya malam ke-21 dengan tradisi Malam Selikuran," ujar Drajat.

Aneka tradisi di Malam Selikuran

Menurut Drajat, masyarakat Jawa biasanya menyambut malam ke-21 Ramadhan dengan mempersiapkan banyak acara.

Salah satunya, warga membuat makanan dan berkumpul di dalam masjid untuk dimakan bersama.

"Maknanya sebagai bentuk hidangan yang patut disukuri bahwa sudah berpuasa sampai malam ke-21 dan bersiap mendapatkan malam Lailatul Qadar," jelasnya.

Setelah Malam Selikuran, masyarakat biasanya akan menyibukkan diri untuk beribadah. Banyak yang memilih meninggalkan rumah dan menghabiskan waktu untuk beritikaf di masjid.

"Masyarakat cenderung lebih banyak berserah diri kepada tuhan, sholat malam, dan sebagainya supaya nanti bisa mendapatkan keistimewaan Lailatul Qadar," terang Drajat.

Ia mengatakan, tradisi Malam Selikuran juga biasanya dilakukan oleh Keraton Surakarta, rutin digelar sejak era Pakubuwono X.

Tradisi Malam Selikuran Keraton Surakarta dikenal dengan hajat dalem yang digelar bersama beberapa abdi dalem. Tradisi tersebut biasanya bakal diselenggarakan dengan kirab seribu tumpeng.

Di samping iu, ada juga pelaksanaan tradisi Colok-colok Malem Songo di Jawa dalam menyambut hari-hari terakhir Ramadhan, yakni memasang obor kecil di sekitar rumah bersama makanan dan sesaji.

Colok berarti obor sedangkan malem songo merupakan malam terakhir bulan Ramadhan. Fungsi obor untuk memberikan penerangan kepada arwah yang telah meninggal dunia agar tidak tersesat.

"Ada kepercayaan Jawa bahwa di malam terakhir itu keluarga-keluarga yang telah meninggalkan, pulang ke rumah untuk melihat keluarga," terangnya.

Menurut Drajat, berbagai tradisi yang dilakukan merupakan bentuk penghormatan terhadap malam Lailatul Qadar.

Namun, seiring berjalannya waktu, makna spiritual dalam tradisi ini mulai bergeser, lebih menekankan pada aspek ritual dibandingkan esensi Lailatul Qadar itu sendiri.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang