Alasan PB XIV Hangabehi Tak Hadir di Kirab Malam Selikuran, LDA: Positif Covid-19

PB XIV Hangabehi, Keraton Solo, Solo, Malam Selikuran, Alasan PB XIV Hangabehi Tak Hadir di Kirab Malam Selikuran, LDA: Positif Covid-19

Pakubuwono XIV Hangabehi tak hadir di tradisi Malam Selikuran yang digelar Keraton Solo pada Senin (9/3/2026) malam.

PB XIV Hangabehi tidak terlihat datang di Keraton Kasunanan Surakarta maupun di Masjid Agung Keraton Solo, tempat digelarnya acara.

Menurut Pengageng Sasana Wilapa yang juga Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) GKR Koes Murtiyah Wandansari, Sinuhun Hangabehi tak hadir lantaran menderita Covid-19.

“Ternyata positif. Sudah 2 minggu,” ungkap Gusti Wandansari saat ditemui di Masjid Agung Keraton Solo, Senin (9/3/2026).

Menurut Gusti Wandansari, saat terakhir bertemu, wajah Hangabehi masih tampak memerah. Putra tertua Pakubuwono XIII ini juga masih menderita batuk dan pilek.

“Tadi malam ketemu saya mukanya masih mumur-mumur. Merah. Masih batuk, masih pilek,” jelas Gusti Wandansari.

Memilih isolasi di rumah

Selama positif Covid-19, PB XIV Hangabehi tak menjalani rawat inap di rumah sakit. Ia memilih melakukan isolasi mandiri di rumah.

Menurut GKR Wandansari, semua upacara adat tetap berjalan sebagaimana mestinya, meski Sinuhun Hangabehi sakit dan tidak bisa hadir.

“Enggak (terganggu). Sinuhun hanya memimpin upacara adat. Semua sudah dilakukan oleh lembaganya. Pengageng-pengageng punya reh-rehan yang itu bekerja,” jelasnya.

Dua kubu jalani kirab dengan rute berbeda

Diberitakan sebelumnya oleh , Senin, Keraton Solo kembali menggelar tradisi rutin Malam Selikuran, yaitu Kirab Tumpeng Sewu pada Senin malam.

Karena Keraton Solo tengah terbagi jadi dua kubu, maka masing-masing kubu menggelar kirab di hari yang sama namun dengan rute yang berbeda.

Perbedaan lainnya juga terletak pada waktu dimulainya dan selesainya kirab.

Pakubuwono XIV Hangabehi memulai kirab dari Pelataran Sasana Sewoko dan berakhir di Masjid Agung Keraton.

Sedangkan Pakubuwono XIV Purboyo memulai kirab dari Sitihinggil dan berakhir di Taman Sriwedari.

“Kita mengadakan kirab ke Masjid Agung. Mereka yang saya tahu dari Pagelaran ke Sriwedari. Kita dari Keraton ke Masjid Agung,” jelas Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta Hadiningrat, KPH Eddy Wirabhumi mewakili Sinuhun Hangabehi.

Di sisi lain, Pengageng Parentah PB XIV Purboyo, KGPHAP Dipokusumo sudah menjelaskan rute kirab yang akan dilakukan oleh pihaknya.

Kirab diadakan dari Bangsal Sewoyono Sitihinggil, berlanjut ke Pagelaran Sasana Sumewo. Kemudian iring-iringan akan menuju Gladag, kemudian belok ke barat hingga ke Taman Sriwedari.

“Diawali doa bersama di Bangsal Sewoyono Sitihinggil kemudian ke Pagelaran Sasana Sumewo menuju Gladag, ke kiri ke barat sampai ke Sriwedari yang nanti akan diadakan serah terima dari utusan dalem ke Wali Kota Mas Respati Ardi,” tuturnya.

Tradisi Malam Selikuran di Keraton Solo sendiri sudah dilestarikan sejak era Pakubuwono X. Dan hingga kini tradisi ini terus berjalan, meski keraton tengah terbagi dalam dua kubu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang