Suasana Malam Selikuran Keraton Solo Kubu PB XIV Hangabehi, Listrik Padam Dua Kali
Kubu Pakubuwono (PB) XIV Hangabehi atau Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta Hadiningrat menggelar tradisi Malam Selikuran pada Senin (9/3/2026).
Malam Selikuran sendiri merupakan tradisi untuk menyambut 10 hari terakhir Ramadhan dan Malam Lailatul Qadr.
Biasanya, Keraton Solo mengadakan "Selikuran" yang berarti angka 21 pada malam ke-21 Ramadhan.
Diberitakan sebelumnya, dua kubu Keraton Solo mengadakan Malam Selikuran di hari yang sama dengan waktu dan rute berbeda.
Jika kubu PB XIV Purboyo mengadakan Malam Selikuran lebih sore, pihak LDA memulai acara sekitar pukul 20.00 WIB.
Suasana Malam Selikuran di Keraton Surakarta bukan hanya diwarnai hujan gerimis, melainkan listrik padam dua kali.
Lantas, bagaimana prosesi Malam Selikuran Kubu PB XIV Hangabehi berlangsung?
Suasana Malam Selikuran kubu LDA
Sejak pukul 19.30 WIB, kerabat keraton dan abdi dalem mulai memadati Bangsal Smarakata.
Mereka mengenakan atasan berupa beskap atau kebaya putih dan jarik berwarna kecokelatan. Lengkap dengan samir emas dan merah yang disampirkan di leher.
Di Bangsal Smarakata, sudah ada Tumpeng Sewu yang akan dibawa berkeliling Baluwarti hingga berakhir di Masjid Agung.
Saat LDA melakukan persiapan, pihak PB XIV Purboyo sudah memulai kirab terlebih dahulu.
Suasana setelah Keraton Solo mengalami mati lampu di tengah persiapan Malam Selikuran, Senin (9/3/2026).
Sempat mati listrik dua kali
Sebelum rombongan berkumpul di Bangsal Smarakata, listrik sempat mati sebanyak dua kali.
Berdasarkan pantauan Kompas.com, listrik mati saat Bregada sedang berjalan memutar Kompleks Sri Manganti.
Suasana berubah gelap gulita beberapa saat hingga listrik pun kembali menyala. Namun, listrik padam kembali dan berlangsung lebih lam dari sebelumnya.
Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA), KPH Eddy Wirabhumi menjelaskan bahwa lampu keraton mati diduga karena korslet.
"Kayaknya ada yang korsleting listrik. Ini saya minta untuk mengecek," ujar Eddy di Bangsal Semarakata, Senin.
Ketika ditanya apakah ada yang mematikan listrik di wilayah keraton, ia pun membantah.
"Nggak ada (yang mematikan). Kan sudah bayar," lanjutnya.
Sementara itu, PB XIV Hangabehi tidak mengikuti Malam Selikuran yang digelar LDA.
Prosesi kirab berjalan lancar di tengah hujan
Meskipun gerimis, Kirab Tumpeng Sewu tetap dilakukan dengan rute yang sudah direncanakan yakni dari Kori Kamandungan Lor, mengitari Baluwarti, dan berakhir di Masjid Agung.
Sekitar pukul 20.40 WIB, rombongan mulai meninggalkan Kori Kamandungan Lor untuk memulai Kirab Tumpeng Sewu.
Para rombongan ini terdiri dari bregada, para sentana dan abdi dalem, lengkap dengan lampion serta jodang berisi tumpeng yang akan doakan di Masjid Agung.
Selama kirab berlangsung, musik Thing-thing hik mengiringi langkah rombongan. Cahaya warna-warni lampion dan nyala api dari tintir menambah suasana semarak Kirab Tumpeng Sewu.
Setelah menempuh rute kirab, rombongan tiba di Masjid Agung sekitar pukul 21.31 WIB.
Di sana, seribu tumpeng didoakan sebelum akhirnya dibagikan kepada masyarakat yang datang.
Diketahui, Keraton Solo rutin mengadakan tradisi ini setiap memasuki 10 hari terakhir Ramadhan sejak era Pakubuwono X dan diteruskan hingga sekarang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang