Jubir Beberkan Alasan PB XIV Purboyo Mengikuti Kirab Malam Selikuran Naik Mobil Pajero

Kirab Malam Selikuran Keraton Solo yang digelar pada Senin (9/3/2026) mencuri perhatian publik, terutama soal kehadiran Pakubuwono XIV Purboyo.
Diketahui, dalam mengikuti kirab tersebut, Purboyo tidak naik kereta kencana layaknya Raja Solo sebelumnya, namun naik mobil Pajero.
Hal ini memicu komentar warganet di media sosial.
Sejumlah akun mempertanyakan penggunaan kendaraan modern dalam kirab yang sangat lekat dengan budaya tradisional.
Menanggapi hal tersebut, pihak Keraton Surakarta pun buka suara.
Mobil adalah bentuk adaptasi
Diketahui, dalam mengikuti kirab tersebut, PB XIV Purboyo naik mobil Pajero putih bernomor polisi AD 20 GKR, tidak menaiki kereta kencana seperti para pengageng lainnya.
Pihak keraton, melalui KPA Singonagoro, juru bicara Purboyo, menegaskan bahwa secara fungsi, mobil dan kereta kencana memiliki peran yang sama sebagai alat transportasi.
Menurutnya, secara fungsi, baik kereta kuda maupun mobil sama-sama berperan sebagai alat transportasi untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Jadi perubahan tradisi ini ia sebut sebagai bentuk adaptasi dengan perkembangan zaman tanpa menghilangkan makna acara.
“Mobil kalau jaman sekarang seperti kereta kencana di zaman dulu,” ujar KPA Singonagoro, Rabu (11/3/2026).
KPA Singonagoro menjelaskan bahwa penggunaan mobil oleh raja bukan hal baru dalam tradisi Keraton Surakarta.
Menurutnya, sejak masa Pakubuwono X, raja sudah mulai menggunakan mobil dalam aktivitasnya.
“Raja Karaton Surakarta tentu selalu mengikuti perkembangan zaman, salah satunya kita bisa melihat Sinuwun Pakubuwono X di mana beliau orang pertama di Indonesia yang menaiki mobil dalam aktivitasnya,” jelasnya.
Selain itu, menurut Singonagoro, penggunaan mobil juga telah dilakukan oleh ayah Pakubuwono XIV, yakni almarhum Pakubuwono XIII, dalam kegiatan yang sama.
“Iya sejak Sawarga PB XIII selalu memakai mobil kalau untuk Kirab Malem Selikuran,” tuturnya.
Mengenai komentar warganet, Singonagoro mengatakan tak ada masalah. Karena keraton terbuka terhadap berbagai pendapat dari masyarakat.
"Ya tidak masalah, kami menghormati semua pendapat netizen yang tentu ini bisa menjadi masukan baik untuk Karaton Surakarta kedepannya,” tuturnya.
Tradisi kirab Malam Selikuran
Kirab Malam Selikuran adalah tradisi tahunan Keraton Surakarta yang digelar menjelang malam ke-21 Ramadhan.
Prosesi ini biasanya diikuti keluarga keraton, abdi dalem, serta masyarakat dengan membawa berbagai simbol budaya Jawa, salah satunya tumpeng sewu.
Tradisi ini menjadi salah satu agenda budaya yang selalu menarik perhatian masyarakat, baik lokal maupun wisawatan.
Tahun ini, kirab Malam Selikuran Keraton Solo digelar pada Senin (9/2/2026) malam.
Karena Keraton Solo tengah terbagi dalam dua kubu, maka ada dua rute kirab berbeda yang digelar oleh kubu Purboyo dan Hangabehi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang