Makna Filosofis Ayam Ingkung dan Nasi Gurih yang Selalu Tersaji di Malam Selikuran

Keraton Solo akan mengadakan Kirab Tumpeng Sewu Malam Selikuran pada hari ini, Senin (9/3/2026)
Tradisi ini untuk memperingati malam Lailatul Qadar, yang dikenal sebagai malam yang memiliki nilai ibadah lebih baik dari seribu bulan.
Selain Keraton Solo, banyak masyarakat umum yang juga memiliki tradisi unik dalam merayakan Malam Selikuran ini.
Di Dusun Sambeng, Desa Kulurejo, Kecamatan Nguntoronadi, Wonogiri, malam ke-21 Ramadhan atau yang dikenal sebagai Malem Selikuran, dirayakan melalui acara kenduri.
Dalam kenduri tersebut, akan disajikan hidangan khusus berupa ayam utuh atau ayam ingkung yang dipadukan dengan nasi gurih.
Tradisi ini telah dijalankan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.
Lantas, apa makna ingkung dan nasi gurih yang selalu tersaji di kenduri Malam Selikuran?
Makna ayam ingkung dan nasi gurih Malam Selikuran
Dilansir dari Tribun, sajian nasi gurih dan ayam ingkung bukan sekadar hidangan untuk mereka yang hadir, melainkan memiliki makna filosofis dalam adat Jawa.
Nasi uduk disebut melambangkan kebersamaan, keharmonisan, dan kesederhanaan.
Baunya yang harum dan rasa yang lezat menjadi simbol keakraban antarwarga.
Sedangkan ayam ingkung melambangkan ucapan penuh syukur dan rasa terima kasih kepada Tuhan.
Penyajian ayam kampung utuh menandakan kesederhanaan, kejujuran, dan doa bagi kehidupan yang baik.
Dalam tradisi Jawa, ayam ingkung sering hadir dalam berbagai acara adat seperti selametan, peringatan hari besar, dan upacara keagamaan.
Kata “ingkung” sendiri berasal dari istilah Jawa kuno "manekung", yang berarti memanjatkan doa kepada Tuhan dengan kesungguhan hati.
Dicukil dari (24/8/2024), ayam dipilih sebagai sesaji sebagai simbol manusia dan telur ayam sebagai simbol kelahiran.
Ayam Ingkung biasanya disajikan dengan utuh dan terlihat sedang bersungkur, posisi yang mewakili makna menyembah kepada Tuhan, bahwa di hadapan pencipta manusia harus menunduk dan merendah.
Dikutip dari laman Jogjaprov.go.id, ayam Ingkung berasal dari menu sesaji kuno bernama ayam tukung yang lahir dari agama kapiyatan, yang berkembang jauh sebelum agama Islam masuk ke Nusantara.
Kemudian, ayam tukung tersebut berkembang menjadi ayam ingkung, yang biasanya dipersembahkan bersama dengan nasi gurih atau tumpeng.
Apa itu Malam Selikuran?
Festival Tumpeng Sewu Sewu yang digelar di Desa Kemiren, Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (24/8/2017).
Dalam tradisi Jawa, selikuran adalah acara istimewa yang digelar pada malam ke-21 Ramadhan.Malam selikuran biasanya dimulai setelah azan magrib, diawali dengan berbuka puasa, kemudian masyarakat berkumpul di masjid, pos ronda, atau tempat khusus untuk berdoa dan menikmati hidangan bersama.
Pada malam istimewa ini, masyarakat akan membawa berbagai hidangan spesial.
Hidangan tradisional seperti nasi gurih dan ayam ingkung menjadi menu utama, namun seiring waktu, ditambah dengan jajanan pasar, es buah, dan lauk-lauk modern.
Tujuan utama dari malam selikuran adalah untuk mempererat tali silaturahmi, meningkatkan semangat bersedekah, dan beribadah bersama-sama.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang