Keraton Kulon Solo Direvitalisasi, Simbol Kejayaan PB X yang Sempat Terbengkalai

Keraton Kulon, Keraton Solo, Gusti Moeng, Keraton Kulon Solo Direvitalisasi, Simbol Kejayaan PB X yang Sempat Terbengkalai

Keraton Kulon di kompleks Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat mulai dibersihkan sebagai tahap awal proyek revitalisasi.

Kawasan yang sempat terbengkalai selama sembilan tahun itu kini menjadi fokus pelestarian budaya sekaligus rencana pengembangan destinasi wisata.

Pembersihan dilakukan oleh sentono dan abdi dalem keraton pada Selasa (19/3/2026).

Selain merapikan area bangunan, kegiatan ini juga disertai inventarisasi benda-benda bersejarah atas permintaan Kementerian Kebudayaan.

Juru Bicara Keraton, Kanjeng Pakoenegoro mengatakan, inventarisasi menjadi bagian penting dalam program revitalisasi tersebut.

“Tahap kedua yang sangat penting adalah melakukan inventarisasi kekayaan budaya Keraton Surakarta Hadiningrat. Ini merupakan permintaan langsung dari Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Tradisi untuk mendata seluruh benda bersejarah yang ada,” ujarnya.

Menurut dia, kondisi Keraton Kulon saat ini masih memprihatinkan setelah lama tidak terurus. Karena itu, pembersihan dan pendataan benda-benda bersejarah menjadi prioritas agar nilai budaya yang ada tidak hilang.

“Kita bisa lihat sendiri kondisi cukup memprihatinkan. Oleh karena itu, pembersihan dan pendataan benda-benda bersejarah ini menjadi prioritas agar tidak ada nilai budaya yang hilang,” jelasnya.

Revitalisasi ini juga diharapkan memperluas akses wisata di lingkungan Keraton Surakarta.

Selama ini, pengunjung umumnya hanya dapat mengakses Museum Keraton Solo. Ke depan, Keraton Kulon direncanakan turut dibuka untuk wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri.

“Tahun ini, revitalisasi akan dilakukan. Meski jadwal penuh belum pasti, tanda-tanda ke arah sana sudah jelas lampunya hijau,” tambahnya.

Sejarah Keraton Kulon

Pengageng Sasana Wilapa PB XIV Hangabehi, GKR Koes Murtiyah Wandansari atau Gusti Moeng, mengungkapkan bahwa Keraton Kulon sempat terbengkalai sejak insiden pengusiran Lembaga Dewan Adat (LDA) pada 2017.

Sejak saat itu, bangunan tersebut tidak lagi terawat hingga akhirnya mulai dibersihkan kembali pada Maret ini.

Ia menjelaskan bahwa Keraton Kulon didirikan pada masa pemerintahan Pakubuwono X sebagai upaya mempertahankan kejayaan Kerajaan Mataram Islam.

“Didirikan oleh Sinuhun Pakubuwono X tahun 1932-1933. Sebagai syarat supaya keraton ini tidak pindah ke tempat lain lagi,” ungkap Gusti Moeng.

Dalam sejarahnya, pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Islam sempat berpindah beberapa kali, mulai dari Kotagede, Pleret, Kartasura, hingga akhirnya menetap di Surakarta.

Keraton Kulon dibangun sebagai penanda agar pusat pemerintahan tidak kembali berpindah.

Menurut Gusti Moeng, terdapat kepercayaan bahwa masa kejayaan Mataram Islam memiliki siklus sekitar 200 tahun. Karena itu, Pakubuwono X membangun keraton di sisi barat kompleks utama sebagai upaya mempertahankan kejayaan tersebut.

“Diramalkan hanya 200 tahun. Biar nggak ganti Sinuhun Pakubuwono X membikin keraton sebelah barat keraton yang sudah ada. Terus dibatasi Ngargopuro dan Ngargopeni,” jelasnya.

Pakubuwono X sendiri sempat menempati Keraton Kulon setelah bangunan itu selesai dibangun pada 1933. Namun, ia hanya tinggal di sana sekitar enam tahun sebelum wafat pada 1939.

“Ini tempat tinggal beliau. Setelah jadi pindah ke sini. Nggak lama karena beliau surud 1939. Ini selesai 1933. Jadi 6 tahun,” ungkapnya.

Keraton Kulon sebenarnya pernah mengalami perbaikan pada 1982. Namun setelah pihak keraton diminta meninggalkan lokasi pada 2017, bangunan tersebut kembali tidak terurus.

“Ini sebetulnya sudah diperbaiki tahun 1982. Terbengkalainya sekali waktu kita disuruh keluar. Waktu itu saya perbaiki sedikit-sedikit. Di daerah sini sampai pendopo. 2017 kita harus keluar ya sudah nggak ada yang ngurusi,” jelasnya.

Kompleks Keraton Kulon juga memiliki tiga bunker. Fasilitas tersebut diyakini dahulu disiapkan sebagai tempat perlindungan bagi sinuhun dan keluarga keraton dalam situasi perang.

“Iya pastinya seperti itu. Dulu menghadapi perang dunia kedua. Mungkin nanti bisa difungsikan kalau ada perang dunia ketiga. Di depan ada pohon duwet di bawahnya,” tuturnya.

Pada masa Pakubuwono XIII, bunker tersebut sempat dialihfungsikan menjadi kolam ikan dengan cara membuka aliran air hingga ruangan terisi penuh. Dalam rencana revitalisasi, area itu akan dikeringkan dan dipulihkan kembali seperti semula.

“Di dalam ada kamar-kamar, ada kamar mandinya. Dulu sama Sinuhun PB XIII dibuka kerannya sehingga penuh air. Terus dikasih ikan. Ini nanti dikeringkan lagi diperbaiki lagi,” jelasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang