Nasib Berbeda Timnas Indonesia dan Eks Koloni Belanda di Kualifikasi Piala Dunia 2026
Timnas Indonesia harus mengubur mimpi tampil di Piala Dunia 2026 setelah tersingkir di putaran keempat Kualifikasi Zona Asia. Skuad Garuda tidak berhasil lolos dari Grup C setelah mengalami dua kekalahan krusial atas Arab Saudi dan Irak.
Hasil tersebut membuat Indonesia menutup perjalanan panjangnya di babak kualifikasi, meski sempat mencatat sejarah dengan menembus putaran keempat untuk pertama kalinya.
Nasib Indonesia di kualifikasi kali ini berbanding terbalik dengan negara-negara lain yang memiliki ikatan sejarah sebagai bekas koloni Belanda.
Duel Timnas Belanda vs Polandia
Timnas Belanda sendiri memastikan tiket ke Piala Dunia 2026 setelah tampil konsisten di zona Eropa. Tak hanya Belanda, Timnas Curacao dan Afrika Selatan yang juga memiliki jejak kolonial Belanda ikut mencuri perhatian.
Curaçao sukses memastikan tiket langsung ke Piala Dunia 2026 melalui performa dominan di kualifikasi zona CONCACAF.
Pemain Timnas Curacao
Tim asal Karibia itu tampil mengejutkan dengan kombinasi pemain lokal dan pemain keturunan Belanda yang memperkuat skuadnya. Afrika Selatan pun kembali ke putaran final Piala Dunia setelah terakhir kali tampil sebagai tuan rumah pada 2010. Hasil ini menjadi kebangkitan sepakbola Bafana Bafana setelah sekian lama tenggelam di level internasional.
Sementara itu, Suriname yang juga pernah berada dalam pengaruh kolonial Belanda, belum lolos otomatis tetapi berhasil menembus babak play-off antarkonfederasi. Negara Amerika Selatan tersebut kini hanya selangkah lagi menuju debut bersejarah di ajang bergengsi empat tahunan tersebut.
Indonesia, yang juga memiliki jejak sejarah sebagai bekas koloni Belanda, justru belum mampu menembus level kompetitif seperti negara-negara tersebut.
Meski mengalami peningkatan signifikan dalam dua tahun terakhir, termasuk tampil di Piala Asia dan mencapai babak 16 besar, Garuda belum berhasil menjadikan momentum itu sebagai tiket ke Piala Dunia 2026.
Kini, perjalanan Indonesia dalam kualifikasi memang berakhir, namun pengalaman menghadapi tim-tim kuat Asia seperti Arab Saudi dan Irak memberikan banyak pembelajaran. Harapan kini tertuju pada proses jangka panjang, regenerasi, dan penguatan fondasi sepakbola nasional agar dapat bersaing lebih jauh di masa mendatang, termasuk menatap peluang Piala Dunia 2030 atau 2034.