Penangkapan Berlebihan Ancam Stok Ikan Indonesia, Ini Penjelasannya
Ancaman penangkapan ikan berlebihan atau overfishing berpotensi mengganggu ketersediaan pangan laut di masa depan.
Program Director Marine Stewardship Council (MSC) Indonesia, Hirmen Syofyanto, menjelaskan bahwa dampak overfishing tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor perikanan.
"Jadi bahaya overfishing selain yang pertama itu menyebabkan kehilangan mata pencaharian bagi nelayan itu sendiri, juga menyebabkan kerusakan pada habitat dan ekosistem," kata Hirmen dalam acara Molecular Gastronomy Experience di IKEA Alam Sutera, Selasa (9/6/2026).
Hirmen menjelaskan, dampak overfishing juga dapat menyebabkan kerusakan habitat dan ekosistem laut.
Sebab alam tidak dapat terus-menerus menghasilkan ikan dalam jumlah yang sama besarnya, apabila tingkat penangkapannya melebihi kemampuan populasi ikan untuk pulih.
"Alam hanya akan menghasilkan ikan jika suplai induknya terjaga, ekosistem dan habitatnya terjaga dengan baik, dan upaya-upaya untuk penangkapannya itu sesuai ketentuan yang ada," jelas dia.
Pada akhirnya, overfishing akan berdampak pada stok ikan di Indonesia sebab nelayan bakal kesulitan mendapat hasil tangkapan.
Program Director Marine Stewardship Council (MSC) Indonesia, Hirmen Syofyanto, dalam acara Molecular Gastronomy Experience yang bertepatan dengan World Ocean Day di IKEA Alam Sutera, Selasa (9/6/2026).
Kondisi ini memaksa nelayan melaut lebih jauh dan menghabiskan waktu lebih lama untuk memperoleh hasil tangkapan yang memadai.
"Jadi, kalau teman-teman biasa berkunjung ke pelabuhan perikanan atau di Kampung Apung Nelayan di Jakarta Utara atau di Pulau Seribu, misalnya," ujar Hirmen.
"Sekarang mereka mulai mengeluh. Misalnya, waktu menangkap jadi lebih susah, jarak semakin jauh, dan seterusnya," pungkas dia.
Hirmen bercerita, dampak overfishing telah terjadi di salah satu wilayah Indonesia pada tahun 1990-an silam, tepatnya di Kota Bagansiapiapi di Riau.
Bagansiapiapi tadinya merupakan salah satu produsen boga bahari (seafood) terbesar di Asia Tenggara sampai tahun 1980-an silam.
"Apa yang terjadi sekarang? Terjadi perubahan. Tidak ada ada lagi produksi seafood yang tinggi di Bagansiapiapi karena telah terjadi overfishing dan terjadi perubahan terhadap struktur mata pencarian mereka karena sumber daya tidak ada," ungkap Hirmen.
Jumlah tangkapan tuna menyusut 30 persen
Dikutip dari , Kamis (11/6/2026), Indonesia Tuna Consortium menyebut bahwa terjadi penurunan volume tangkapan tuna hingga 20–30 persen dalam beberapa tahun terakhir.
Kondisi ini dipengaruhi oleh dua faktor. Pertama, kombinasi eksploitasi berlebih (fully exploited) dan yang kedua adalah perubahan iklim.
ilustrasi tuna mentah.
“Saat ini saja, beberapa stok tuna di kawasan samudra India dan Pasifik sudah berada pada status fully exploited, bahkan mungkin melampaui of the fish untuk spesies tertentu,” kata Indonesia Tuna Consortium Lead, Thilma Komaling.
Selain itu, berbagai kajian juga menunjukkan bahwa tanpa intervensi signifikan, stok tuna di perairan Indonesia berpotensi menurun hingga minimal 36 persen pada tahun 2050 akibat kombinasi overfishing, perubahan iklim, dan degradasi ekosistem.
Penurunan tersebut juga berdampak pada meningkatnya biaya operasional. Nelayan harus mengeluarkan lebih banyak bahan bakar dan menghabiskan waktu lebih lama di laut karena ikan semakin sulit ditemukan.
“Nelayan kecil pun mengatakan hal yang sama, ikan semakin jauh, semakin kecil, dan semakin tidak pasti. Di saat yang sama, perubahan iklim memperparah situasi,” kata Thilma.
Sektor perikanan tuna, kata Thilma, memang memiliki kompleksitas tinggi, baik dari sisi teknik penangkapan maupun tata kelola.
Padahal, Indonesia merupakan salah satu produsen tuna terbesar di dunia dengan produksi lebih dari 700.000 ton per tahun dari berbagai spesies seperti skipjack (cakalang), yellowfin (tuna sirip kuning), dan bigeye (tuna mata besar).
Nilai ekspor tuna Indonesia bahkan telah menembus 1 miliar dollar AS per tahun, menjadikannya komoditas strategis nasional. Lebih dari 2,7 juta nelayan, sebagian besar berskala kecil, menggantungkan hidupnya secara langsung maupun tidak langsung pada sektor ini.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang